Lentera24.com | ACEH TAMIANG - Pelayanan kesehatan kembali menorehkan rapor merah di Aceh Tamiang. Alih-alih memberikan kepastian dan empat...
Lentera24.com | ACEH TAMIANG - Pelayanan kesehatan kembali menorehkan rapor merah di Aceh Tamiang. Alih-alih memberikan kepastian dan empati kepada keluarga yang sedang berduka, RSUD Muda Sedia justru diduga memperlihatkan birokrasi yang lamban dan terkesan abai dalam menangani jasad korban penemuan tragis.
Keluarga Kamaru Zaman, warga Tualang Baro (Tualang Cut), Kecamatan Manyak Payed, meluapkan kekecewaan mendalam atas lambatnya proses visum terhadap jasad korban yang tiba di rumah sakit sejak Selasa sore, 22 September 2026, pukul 17.30 ditangani agar bisa dipulangkan untuk dikebumikan, justru hingga pukul 21.30 WIB belum bisa dibawa pulang kerumah duka.
Kritik Tajam: Orang Sakit Saja Berobat Susah, Mayat Saja Bisa Merana
Kekesalan memuncak dari mulut Ismail alias Bob, abang kandung korban. Dengan nada geram, ia menyoroti buruknya standar pelayanan di fasilitas kesehatan pelat merah tersebut.
"Jangankan orang sakit yang berobat di sana, mayat saja bisa merana jika dibawa ke RSUD Muda Sedia," ujar Bob dengan nada penuh kekecewaan.
Menurutnya, pihak keluarga tidak mendapatkan penjelasan transparan dari tenaga medis, termasuk dr. Razali, terkait alasan penundaan visum yang begitu krusial. Jasad adiknya seolah ditinggal begitu saja tanpa ada tindakan sigap yang seharusnya menjadi prioritas dalam situasi darurat kemanusiaan.
Kronologi Singkat Peristiwa
Minggu, 20 September 2026: Kamarud dilaporkan hilang setelah mobil Toyota Calya yang dikemudikannya ditemukan mencurigakan dan terparkir seharian di atas Jembatan Titi Kuning Rantau, Desa Alur Manis.
Selasa, 22 September 2026 (Sore): Teka-teki hilangnya korban terjawab setelah jasadnya ditemukan mengapung di Sungai Marlempang, Kecamatan Bendahara, oleh Tim BPBD Aceh Tamiang.
Selasa, 22 September 2026 (Menjelang Magrib): Jenazah tiba di RSUD Muda Sedia untuk keperluan visum, namun justru berujung pada penelantaran birokrasi dan protes keras keluarga hingga malam hari.
Hingga berita ini diturunkan, Plt Direktur RSUD Muda Sedia, dr. T Dedy Syah, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat WhatsApp terkait lambannya penanganan visum tersebut, belum memberikan respons atau klarifikasi apapun.
Menjadi Pelajaran Keras bagi Manajemen Rumah Sakit
Insiden ini bukan sekadar persoalan keterlambatan administratif semata, melainkan cerminan buruknya empati dan profesionalisme dalam pelayanan publik di Aceh Tamiang. Rumah sakit daerah seharusnya menjadi tempat yang sigap dan solutif, bukan justru menambah luka dan duka bagi keluarga yang sedang berduka.
Kejadian ini harus menjadi tamparan keras dan pelajaran telak bagi manajemen RSUD Muda Sedia untuk segera mengevaluasi total Standar Operasional Prosedur (SOP) darurat, demi memastikan kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Bagaimana menurut Anda langkah evaluasi yang paling tepat untuk mendisiplinkan tenaga medis dan manajemen RSUD Muda Sedia agar insiden seperti ini tidak kembali mencederai hati masyarakat Tamiang?[]L24.Sai
