Penulis: Rafi Kurnia Ihsani, Mahasiswa S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UPI Bandung Lentera24.com | BANDUNG - Pernahkah Anda ...
Penulis: Rafi Kurnia Ihsani, Mahasiswa S1 Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan UPI Bandung
Lentera24.com | BANDUNG - Pernahkah Anda mengamati ruang kelas sekolah dasar hari ini? Di permukaan, suasana tampak biasa saja: guru berdiri tegak di depan kelas, menerangkan materi dengan penuh semangat. Namun, coba alihkan pandangan ke bangku-bangku murid. Belum genap lima menit berlalu, mata anak-anak mulai bergeser. Ada yang sibuk mengetuk-ngetuk pensil, menelungkupkan kepala di atas meja, hingga menerawang kosong menembus kaca jendela.
Akar persoalannya sudah lama kita kenali, tetapi jarang benar-benar kita lawan secara mendasar. Lahir di tengah kepungan dunia digital, Generasi Alpha terbiasa disuguhi konten pendek yang bergerak cepat, instan, dan superfisial. Otak mereka dilatih untuk melompat dari satu stimulasi ke stimulasi lain setiap beberapa detik saja. Akibatnya, mendengarkan sebuah cerita utuh selama belasan menit terasa seperti sebuah kemustahilan yang melelahkan.
Ironisnya, di saat kemampuan menyimak justru menjadi fondasi utama dalam menyerap ilmu, kebiasaan digital ini malah menggerogotinya dari dalam. Solusi yang selama ini ditawarkan pun kerap salah arah—berkutat pada imbauan kaku untuk menjauhkan gawai, sebuah pendekatan usang yang gagal karena melawan arus zaman tanpa menawarkan alternatif yang memikat.
Bukan Menambah Layar, tapi Mengistirahatkannya
Di tengah kebuntuan tersebut, sebuah pertanyaan reflektif muncul: bagaimana jika obat penawar dari kelelahan akibat layar justru bukan dengan menambah layar baru, melainkan mengistirahatkannya?
Dari kegelisahan inilah lahir Sora Eling, sebuah inisiatif inovatif berupa media audio-storytelling yang menghidupkan kembali kekayaan fabel Sunda dalam balutan kemasan modern. Kata Sora Eling berarti “memori suara” dalam bahasa Sunda—sebuah pengingat hangat bahwa nilai-nilai moral justru dapat merasuk jauh lebih dalam melalui indra pendengaran, bukan penglihatan.
Gagasannya berani menantang arus utama. Alih-alih menyodori anak-anak video penuh kelap-kelip visual yang memicu distraksi, Sora Eling mengajak mereka menutup layar sejenak dan cukup memasang telinga. Melalui tiga episode kisah binatang khas Sunda, anak-anak disuguhkan perpaduan narasi yang hidup, efek suara detail, dan musik latar yang memikat hingga alur cerita tuntas. Di balik petualangan si kancil, kura-kura, dan para sahabatnya, terselip nilai-nilai kewarganegaraan esensial dari Pendidikan Pancasila: kejujuran, semangat gotong royong, toleransi atas perbedaan, hingga rasa tanggung jawab. Hebatnya, nilai-nilai luhur itu tidak dicekokkan lewat ceramah kaku, melainkan dialami secara natural melalui pilihan hidup yang diambil para tokoh cerita.
Bukti Nyata dari Lapangan
Sebuah gagasan idealis tentu harus diuji ketangguhannya di dunia nyata. Tim PKM-RSH Sora Eling dari Universitas Pendidikan Indonesia menguji coba media ini di tiga sekolah dasar di Kota Bandung dengan latar belakang yang sengaja dibuat kontras—mulai dari sekolah bertaraf lengkap hingga institusi dengan keterbatasan fasilitas. Sebanyak 180 siswa kelas empat dan lima dilibatkan dalam sesi menyimak yang terstruktur, dan hasilnya berbicara dengan sangat lantang.
Angka ketahanan fokus siswa melonjak signifikan, dari rata-rata awal 70 persen menjadi 87 persen selama intervensi berlangsung. Yang membuatnya semakin istimewa, grafik peningkatan tersebut tidak melandai, melainkan terus menguat dari satu sesi ke sesi berikutnya. Ini membuktikan bahwa anak-anak tidak sekadar terbuai rasa penasaran sesaat, melainkan benar-arah melatih kembali otot atensi mereka yang selama ini melemah. Pemahaman mereka terhadap nilai-nilai kebaikan pun ikut terdongkrak secara tajam dan konsisten.
Temuan paling menyentuh datang dari sekolah dengan fasilitas paling terbatas. Di sinilah lonjakan fokus justru tercatat paling tinggi. Anak-anak yang selama ini paling sulit berkonsentrasi ternyata menjadi pihak yang paling banyak terbantu. Media berbasis suara ini membuktikan diri mampu bekerja tanpa bergantung pada kemewahan infrastruktur digital—sebuah keunggulan berkeadilan yang merangkul sekolah mana pun, bahkan yang selama ini tertinggal.
Merawat Fokus, Menjaga Identitas Budaya
Keunggulan Sora Eling melampaui urusan peningkatan atensi semata. Dengan mengangkat fabel Sunda, media ini secara elegan ikut merawat kearifan lokal yang kian asing di telinga anak-anak modern. Di tengah gempuran arus globalisasi yang menyeragamkan budaya, mendengarkan dongeng dalam bingkai identitas sendiri adalah cara yang halus namun kuat untuk menumbuhkan rasa bangga berakar lokal. Anak-anak tidak cuma belajar memulihkan fokusnya, tetapi juga mengenal dari mana mereka berasal dan warisan luhur apa yang dititipkan para leluhur.
Tentu saja, inovasi ini bukanlah sihir instan yang mampu merampungkan seluruh persoalan pendidikan kita. Ia adalah sebuah prototipe awal yang terbuka untuk terus disempurnakan. Namun, arah yang ditawarkannya memberikan napas baru bagi para pendidik: bahwa kita tidak harus selalu melawan masalah gawai dengan menambah gawai, atau membendung konten pendek dengan konten pendek lainnya. Sora Eling menawarkan jalan setapak yang menenangkan—memberi anak ruang jeda dari bisingnya dunia visual, lalu mengisinya kembali dengan kekuatan cerita yang bermakna.
‘Jam koma’ di ruang-ruang kelas mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, namun ia adalah alarm sunyi bagi masa depan cara anak-anak kita belajar. Menghadapinya ternyata tidak selalu menuntut teknologi paling mutakhir atau biaya yang mahal. Terkadang, yang kita butuhkan hanyalah kembali pada tradisi paling purba dan manusiawi yang telah menemani peradaban sejak lama: kekuatan sebuah kisah yang dituturkan dengan ketulusan hati. Sebab, ketika dongeng kembali mendapatkan tempatnya, di situlah perlahan-lahan fokus anak-anak kita akan pulang.(*)
Artikel ini disarikan dari riset Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Tahun 2026 oleh Tim Sora Eling UPI, yang digawangi oleh Rafi Kurnia Ihsani, Nadini Azzahra, Amelia Ananda Tirtaputri, Anita Dewi Septiani, dan Farhan di bawah semangat kolaborasi lintas disiplin ilmu.
