HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Listrik Kerap Padam, Pengolahan Gabah di Nagan Raya Lumpuh: Ketahanan Pangan Terancam

​ Lentera24.com |  SUKA MAKMUE — Pasokan listrik yang terus-menerus terganggu di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tidak lagi sekadar memicu ke...


Lentera24.comSUKA MAKMUE — Pasokan listrik yang terus-menerus terganggu di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, tidak lagi sekadar memicu ketidaknyamanan domestik, melainkan telah melumpuhkan urat nadi perekonomian lokal. Ratusan petani dan pengusaha kilang padi meluapkan kekecewaannya lantaran pemadaman listrik yang berulang merusak rantai pengolahan gabah dan mengancam kualitas hasil panen masyarakat.

​Kondisi ini kian krusial saat intensitas hujan meningkat. Tanpa pasokan listrik yang stabil, proses pengeringan dan penggilingan padi berbasis mesin terkendala hebat, meninggalkan tonan gabah terancam membusuk.

​Rustam, warga Kecamatan Seunagan Timur, menegaskan bahwa pemadaman listrik berkepanjangan melahirkan kerugian nyata bagi para petani.

​“Listrik yang sering padam membuat padi kami tertahan di kilang. Situasi makin menghimpit saat hujan turun, karena gabah butuh penanganan dan pengeringan cepat agar kualitasnya tidak merosot,” ujar Rustam kepada media ini, Senin (14/9/2026).

​Menurutnya, krisis pasokan listrik di kawasan pedesaan ini mencerminkan minimnya komitmen perlindungan terhadap sektor pertanian yang menjadi penopang utama ekonomi daerah.

​Keluhan senada disampaikan manajemen pengolahan gabah. Humas CV Kilang Padi Riski Perkasa, Mursalin, membenarkan bahwa ketidakstabilan arus listrik telah menghentikan operasional kilang secara signifikan.

​“Aktivitas kilang sepenuhnya bergantung pada daya listrik. Ketika listrik padam berulang kali, siklus kerja langsung terhenti dan kerugian operasional tak terhindarkan,” kata Mursalin.

​Kondisi ini memicu ironi di tengah gencar kampanye pemerintah mengenai penguatan ketahanan pangan nasional. Sektor hilir pertanian di Nagan Raya justru dibiarkan rapuh akibat buruknya kualitas infrastruktur energi dasar.

​Masyarakat dan pelaku usaha kini mendesak adanya langkah konkret serta transparansi dari pihak penyedia layanan publik, bukan sekadar imbauan teknis yang berulang.

​Hingga berita ini diturunkan, pihak PLN belum memberikan konfirmasi atau penjelasan resmi terkait penyebab gangguan sistemik tersebut meski telah dihubungi. Redaksi tetap membuka ruang klarifikasi bagi pihak PLN guna menjelaskan penanganan krisis energi yang merugikan arus produksi pangan warga ini. []L24.Agusa