HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Merawat Warisan Lewat Nada: Origon Bawa Filosofi 'Meusare' ke Panggung Modern

Lentera24.com | BANDA ACEH - Di tengah gempuran arus modernisasi yang kerap mengikis tradisi, selalu ada anak muda yang memilih berjalan me...


Lentera24.com | BANDA ACEH - Di tengah gempuran arus modernisasi yang kerap mengikis tradisi, selalu ada anak muda yang memilih berjalan melawan arus demi menjaga akar identitasnya. Di Tanah Rencong, ikhtiar itu berdenyut lewat senandung dan ketukan drum dari sebuah band lokal bernama Origon. Berdiri sejak 2022, kuartet asal Aceh ini konsisten membuktikan bahwa musik modern dan kearifan lokal bisa berpadu dalam harmoni yang memikat.

Digawangi oleh Yogi (vokal), Sahar (gitar), Rian (bass), dan Robi (drum), Origon bukan sekadar kelompok musisi biasa. Mereka adalah penjaga memori, penyampai pesan luhur dari indatu (leluhur) yang dikemas dalam balutan aransemen pop-rock segar.

Perjalanan kreatif mereka merajut tradisi bermula dari peluncuran lagu perdana bertajuk Reusam pada April lalu. Lewat nomor tersebut, Origon mengajak pendengarnya menyelami nilai-nilai adat serta aturan bijak yang diwariskan para pemimpin masa kerajaan Aceh tempo dulu.

Kini, napas kebudayaan itu kembali dihidupkan melalui karya terbaru mereka, Meusare, yang resmi diperkenalkan ke publik pada malam anugerah SMSI Aceh Award di Anjong Mon Mata, Kompleks Meuligo Gubernur Aceh, Sabtu (5/9/2026).

Bagi Robi sang penggebuk drum, peluncuran lagu ini menjadi momentum penting untuk mendekatkan kembali masyarakat pada esensi gotong royong. Di bawah naungan label Langitbiru Kreatif, karya yang dirilis pada Agustus kemarin ini tidak hanya berhenti di panggung penghargaan, tetapi juga telah mengudara di berbagai platform musik digital seperti Spotify, Apple Music, dan YouTube Music.

Di balik penggarapannya, Meusare—yang dalam bahasa Aceh berarti bersama-sama—menyimpan filosofi mendalam. Sang vokalis, Yogi, mengungkapkan bahwa lagu ini lahir sebagai refleksi atas dinamika masyarakat modern yang kerap terjebak dalam individualisme. Melalui lirik yang membumi, Origon ingin mengingatkan kembali esensi persatuan dan kepedulian sosial.

"Proses pembuatan Meusare memberikan kesan tersendiri bagi kami. Lagu ini adalah pengingat bahwa sebesar apa pun tantangan yang dihadapi, semuanya terasa lebih ringan jika kita melangkah bersama-sama," tutur Yogi penuh penghayatan.

Eksplorasi musikalitas dalam Meusare sekaligus menandai kematangan bermusik Origon. Mereka berhasil meramu distorsi gitar dan ketukan dinamis tanpa kehilangan identitas kultural yang menjadi ruh band ini sejak hari pertama dibentuk.

Selama empat tahun perjalanannya, Origon sejatinya telah melahirkan lima karya orisinal, termasuk Wasiat, Calitra Senja, dan Bungong. Namun, baru Reusam dan Meusare yang secara resmi menyapa ruang dengar publik luas. Dukungan visual berupa video musik resmi juga telah dapat dinikmati melalui kanal YouTube Langit Biru Production, memperkuat pesan estetika yang ingin mereka sampaikan.

Bagi sang pemegang senar bass, Rian, apa yang mereka lakukan bukan sekadar hobi bermusik, melainkan sebuah panggilan moral sebagai putra daerah. Ia meyakini bahwa merawat marwah budaya adalah tanggung jawab bersama generasi muda hari ini.

"Kalau bukan kita yang peduli terhadap budaya kita sendiri, siapa lagi?" ujarnya menutup perbincangan.

Origon telah menabuh genderang kebanggaan lokal dari Serambi Mekkah. Lewat karya-karya yang jujur dan kaya makna, mereka mengajarkan kita bahwa merawat tradisi tidak selalu harus lewat cara-cara kaku—ia bisa disampaikan lewat petikan gitar, ketukan ritmis, dan suara hati yang berdenyut dalam irama persaudaraan. []L24.Sai