HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

Elegi di Hilir yang Tak Pernah Selesai

Catatan pinggir   oleh: Saiful Alam. SE Kami belum sempat  mengeringkan luka ketika hujan kembali mengetuk atap. Lumpur masih melekat di din...

Catatan pinggir 

oleh: Saiful Alam. SE

Kami belum sempat 

mengeringkan luka

ketika hujan kembali mengetuk atap.

Lumpur masih melekat di dinding,

kenangan masih basah di mata,

dan anak-anak bertanya:

Mengapa air selalu datang ke rumah kita?”

Kami kehilangan kasur, pakaian, buku sekolah, bahkan wajah-wajah yang tak sempat diselamatkan.

Namun yang paling sulit dikeringkan adalah ketakutan.

Kini setiap mendung membuat dada berdebar.

Setiap sungai meninggi, mata mencari evakuasi.

Petir membelah malam, mengembalikan ingatan tentang air bah, rumah tenggelam,

doa yang bersahutan, sinyal terputus, dan manusia yang berjuang menyelamatkan hidup.

Bencana surut.

Trauma tidak.

Namun banjir bukan semata-mata 

peristiwa alam.

Hujan bukan musuh.

Sungai bukan penjahat.

Sungai, mengapa kau tak lagi mengenal batas?

Apakah tubuhmu dangkal oleh sedimen akibat banjir, atau hutan di hulu tumbang demi tambang, kebun, dan keuntungan— meninggalkan tanah tanpa akar serta air tanpa tempat berlabuh?

Banjir menjadi bencana ketika hutan dibabat, bukit dikeruk, sedimen menumpuk memenuhi sungai, rawa ditimbun, dan izin dibagikan seolah bumi tak punya batas.

Saat hutan hilang, air mengalir deras.

Tanah tergerus, sedimen memenuhi sungai,

dan hilir menerima luka dari hulu.

Sementara para peraih keuntungan tinggal jauh dari genangan dan menyebutnya bencana alam—seakan keserakahan tak ikut menenggelamkan rumah kami.

Jangan sebut ini takdir

jika hutan ditebang, sungai dipenuhi sedimen, dan peringatan rakyat diabaikan.

Jangan tunggu air datang untuk menghitung kehilangan.

Jaga hulu.#
Pulihkan hutan.#
Beri sungai ruang.#
Hentikan izin yang merusak.#
Dengarkan rakyat.# 
Pertanggungjawabkan keserakahan.#


Alam bukan sedang menghukum kita—ia mengembalikan apa yang kita titipkan kepadanya.

Dan ingatlah:

Tuhan tidak pernah tidur.

Dia melihat hutan yang dirusak, sungai yang dipenuhi sedimen, tanah yang dilukai, dan keserakahan yang disembunyikan di balik kepentingan manusia.

Bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan sesuka hati.

Ia titipan, dan setiap titipan memiliki pertanggungjawaban.

Sebelum air kembali menulis luka di dinding rumah kami,

bertanyalah:

Apa yang telah kita lakukan

kepada bumi yang dititipkan Tuhan?

Siapa yang menebang hutannya, membiarkan sedimen memenuhi sungainya, meraup untungnya, dan memaksa kami menanggung dukanya?

Kami tidak meminta hujan berhenti turun.

Kami hanya ingin, ketika hujan datang, rumah kami tetap menjadi rumah—tempat anak-anak tidur tanpa takut, tempat doa tidak berubah menjadi jeritan, dan kenangan tumbuh, bukan dikubur lumpur.

Kami ingin sungai kembali mengalir tanpa membawa nama-nama yang hilang.

Kami ingin hutan berdiri agar air menemukan jalan pulang, bukan jalan menuju kehancuran.

Jika suatu hari hujan kembali mengetuk, biarlah yang bergetar bukan dinding rumah kami, melainkan hati mereka yang memilih menjaga bumi.

Sebab kami masih percaya:

di antara luka yang belum selesai, harapan dapat dibangun kembali—batu demi batu, akar demi akar, hingga rumah kami benar-benar menjadi rumah, tempat kami pulang dengan selamat, bukan tempat terakhir untuk mengenang kehilangan.***