Dandim Bener Meriah merangkul wartawan TribunGayo.com (kiri) dan anggotanya (kanan). (Dok PWI Bener Meriah) Lentera24.com | BENER MERIAH - ...
![]() |
| Dandim Bener Meriah merangkul wartawan TribunGayo.com (kiri) dan anggotanya (kanan). (Dok PWI Bener Meriah) |
Lentera24.com | BENER MERIAH - Suasana Puskesmas Lampahan, Kabupaten Bener Meriah, Rabu siang itu memang jauh dari kata tenang. Kepanikan mendadak merayap ketika puluhan siswa Sekolah Dasar berdatangan guna mendapatkan penanganan medis darurat, diduga akibat keracunan usai menyantap menu Makanan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah kepungan isak tangis anak-anak dan kesigapan tenaga medis, gesekan kecil justru terselip di antara aparat dan pencari berita.
Bustami, seorang jurnalis Tribun Gayo, mendapati dirinya berhadapan dengan situasi pelik ketika tengah meliput insiden tersebut. Alih-alih berjalan mulus, tugas jurnalistiknya sempat diwarnai dugaan intimidasi dari oknum anggota TNI yang berada di lokasi.
Menyadari tensi yang merambat cepat, Komandan Kodim (Dandim) 0119/Bener Meriah, Letkol Arh Febry Adyanto, langsung mengambil langkah cepat. Dengan kepala dingin, ia meluruskan bahwa kehadiran personelnya di puskesmas yang kebetulan bersebelahan dengan Koramil Timang Gajah itu murni untuk membantu evakuasi dan penanganan medis, bukan untuk menghalang-halangi kerja pers.
"Ini hanya kesalahpahaman di lapangan. Situasinya saat itu cukup panik karena petugas sedang fokus menangani anak-anak. Tidak ada niat membedakan, tidak ada diskriminasi, dan kami tidak ingin ada intimidasi," ungkap Letkol Febry kepada awak media.
Tak ingin masalah berlarut, jembatan silaturahmi segera dibangun. Sore itu juga, bertempat di sebuah kafe sederhana di kawasan Lampahan, sebuah meja perundingan damai digelar. Tak tanggung-tanggung, pertemuan tersebut turut disaksikan langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Bener Meriah, Riswandika Putra, serta Asisten II Setdakab Bener Meriah, Samusi Purnawira Dade.
Di tempat inilah Bustami dan oknum anggota TNI yang bersitegang dipertemukan. Suasana kaku perlahan mencair. Keduanya saling mendengar, meluruskan benang kusut yang sempat tegang di puskesmas, hingga akhirnya sepakat merajut damai secara kekeluargaan.
"Hari ini juga sudah kami pertemukan rekan kita Bustami dengan anggota kami. Keduanya sudah berdamai. Semoga ini menjadi pelajaran penting dan silaturahmi kita dengan teman-teman wartawan semakin erat ke depannya," imbuh Febry penuh harap.
Langkah sigap sang Dandim ini mendapat sambutan hangat dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bener Meriah. Ketua PWI Bener Meriah, Mashuri, mengapresiasi respons cepat yang ditunjukkan jajaran Kodim 0119/Bener Meriah dalam meredam suasana.
Kendati demikian, Mashuri tetap menitipkan catatan penting agar insiden serupa tidak kembali terulang di kemudian hari. Ia berharap ada pembinaan internal yang proporsional bagi anggota di lapangan agar esensi kebebasan pers dan tugas pengamanan aparat bisa berjalan seiring sejalan tanpa saling bentrok.
"Kami mengapresiasi Dandim yang sigap memanggil wartawan dan meluruskan persoalan. Namun, kami juga berharap ada pembinaan atau sanksi sesuai aturan internal agar kejadian pelarangan liputan tidak terulang kembali. Wartawan butuh ruang untuk menyampaikan informasi yang objektif kepada masyarakat," tutur Mashuri.
Peristiwa di Lampahan akhirnya ditutup bukan dengan sengketa, sondern secangkir kopi kebersamaan. Perjumpaan antara TNI, Pemerintah Kabupaten, dan insan pers hari itu menjadi pengingat bahwa di balik kepanikan musibah, komunikasi yang tulus dan keterbukaan hati selalu mampu menemukan jalan pulang terbaik: perdamaian.[]L24.Sai
