Lentera24.com | ACEH TIMUR – Ketika sebagian besar masyarakat Aceh mulai bersiap menyambut sukacita Idulfitri, ratusan warga Dusun Bahagia,...
Lentera24.com | ACEH TIMUR – Ketika sebagian besar masyarakat Aceh mulai bersiap menyambut sukacita Idulfitri, ratusan warga Dusun Bahagia, Desa Pante Labu, Kecamatan Pante Bidari Kabupaten Aceh Timur, justru masih terjebak dalam "penjara" terpal. Tiga bulan pascabanjir bandang 26 November 2025 lalu, janji pemerintah untuk memberikan hunian layak tak kunjung menapak di bumi.
Hingga Selasa (03/03/2026), sebanyak 204 unit Hunian Sementara (Huntara) yang dijanjikan masih berupa kerangka tak berpenghuni. Sebanyak 12 hari Ramadan telah berlalu, namun warga dipaksa beribadah di tengah cuaca ekstrem: panas yang menyengat di siang hari dan debu yang menyesakkan dada.
Potret Kemiskinan di Balik Tenda
Kondisi di lapangan bukan sekadar angka statistik, melainkan potret kemanusiaan yang koyak. Saidah, salah satu pengungsi, membagikan getirnya hidup dalam kesempitan. Satu tenda darurat terpaksa dihuni oleh dua kepala keluarga sekaligus.
"Buka puasa hanya dengan sirup merah. Beras ada, tapi lauk pauk itu mewah bagi kami. Anak-anak terus-terusan demam karena tenda ini panasnya luar biasa, tidak manusiawi untuk istirahat," ungkap Saidah dengan nada getir.
Senada dengan Saidah, Maulina harus berbagi ruang sempit dengan tujuh anggota keluarganya. Ketidakpastian kapan Huntara rampung membuat harapan warga kian menipis seiring mendekatnya hari raya yang tinggal 18 hari lagi.
Kritik Tajam: Pemerintah Jangan Jualan Harapan Palsu
Ketua Aliansi Pers Rehab Rekon Pascabanjir Aceh, Masri, mengecam keras lambannya penanganan ini. Ia menilai pemerintah dan rekanan proyek seolah menutup mata terhadap urgensi di lapangan.
Pengerjaan Lambat: Rekanan proyek dinilai tidak memiliki sense of crisis dalam mempercepat pembangunan.
Ramadan yang Pahit: Warga dipaksa bertahan di tenda saat fisik mereka melemah karena puasa dan cuaca buruk.
Ancaman Idulfitri: Jika tidak ada langkah revolusioner dalam sisa waktu 18 hari, warga dipastikan akan merayakan Idulfitri di bawah plastik tenda yang mulai kusam.
"Jangan sampai pemerintah hanya menjadi pemberi harapan palsu (PHP). Rakyat butuh atap yang nyata, bukan sekadar komitmen di atas kertas atau kunjungan seremonial," tegas Masri.
Konfirmasi Desa: "Belum Satu Pun Bisa Dihuni"
Keuchik (Kepala Desa) Pante Labu, Muchlis, tak menampik kondisi miris tersebut. Ia membenarkan bahwa belum ada satu pun unit Huntara yang siap ditempati warganya.
"Kondisinya sangat memprihatinkan. Harapan warga bisa berpuasa di tempat layak sudah pupus. Sekarang, kita hanya bisa berharap mereka tidak merayakan Lebaran dalam kondisi seperti ini," ujar Muchlis.
Kini, bola panas ada di tangan Pemerintah Aceh dan instansi terkait. Akankah Pante Labu terus dibiarkan bergelut dengan debu, ataukah ada mukjizat sebelum takbir Lebaran berkumandang?[]L24.Zal.
