Ilustrasi | Google Oleh : Ibnu Hajar Ibrahim RAMADHAN merupakan bulan rahmat. Di dalam bulan ini Allah memberikan rahmat seluas-lua...
![]() |
| Ilustrasi | Google |
Oleh : Ibnu Hajar Ibrahim
RAMADHAN merupakan bulan rahmat. Di dalam bulan ini Allah memberikan rahmat seluas-luasnya kepada umat manusia. Ramadhan merupakan bulan keampunan. Siapa saja yang memohon ampun maka ia akan diampuni.
Anehnya, sebagian umat Islam justru mencari murka angkara Allah di bulan yang penuh rahmat ini. Betapa tidak, mereka melakukan dosa tepat setelah ibadah puasa Ramadhan dimulai. Mereka melakukan dosa di saat orang lain dan mungkin dirinya sedang melaksanakan ibadah. Mereka adalah manusia yang melakukan “asmara subuh”. Bagi mereka, Ramadhan bukanlah bulan rahmat melainkan bulan laknat yang penuh dengan murka angkara Allah.
“Asmara subuh” kerap dilakukan dengan bersantai di jalan-jalan. Di dalam kelompok ini, ditemui laki-laki dan perempuan yang bercampur-baur. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini mengandung unsur asmara yang berarti perasaan senang kepada lawan jenis. Kegiatan ini sangat rentan mengundang maksiat atau paling tidak menghilangkan pahala berpuasa.
Anehnya lagi, walau dinamai “asmara subuh”, sebagian peserta kegiatan ini justru tidak melaksanakan shalat subuh. Dengan licik seorang anak meminta izin kepada orangtuanya untuk keluar rumah. Ia beralasan akan melaksanakan shalat subuh di masjid. Karena mengingat kelebihan masjid orangtua mengizinkan sang anak. Penerus generasi licik ini pun pergi menemui teman-temanya. Mereka bergabung untuk melaksanakan apa yang dinamai “asmara subuh”. Bila dikaji, tindakan mereka lebih cocok dinamai “angkara subuh” sebagai pengganti “asmara subuh”. Hal ini disebabkan karena hasil dari “asmara subuh” adalah angkara yakni kebengisan Allah diwaktu subuh dan waktu lainnya.
Sebagian peserta “asmara subuh” berdalih bahwa mereka bermaksud peulalee (melalaikan) puasa. Mungkin mereka menyangka bahwa puasa itu ibarat anak kecil yang perlu di peulalee. Dalam kenyataannya, puasa tak perlu diawasi layaknya anak kecil. Ia hanya perlu dijaga agar tetap sah dan berkualitas. Pelaku puasa hanya perlu menahan diri dari berbagi perkara yang dapat membatalkan puasa dan pahalanya. Bila puasa ini telah dilaksanakan secara benar, ia justru akan menjaga pelaku puasa dari berbagai kerusakan sepanjang masa.
Ramadhan merupakan bulan latihan untuk menghadapi sebelas bulan lainnya. Di dalam bulan ini umat Islam diuji untuk menahan hawa nafsu. Bukan hanya hal-hal yang haram, umat Islam juga diuji untuk menahan diri dari berbagai hal-hal yang halal. Bekal latihan dalam bulan ini diharapkan tetap bertahan dalam bulan-bulan lain. Bila selama latihan saja pribadi muslim tidak mau menahan diri, maka dapat dipastikan bahwa dalam kehidupan ini, ia selalu memperturutkan hawa nafsu. Bila nafsu semata yang menjadi pemimpin hidup, maka hancurlah diri dan kehidupannya.
Tindakan “asmara subuh” merupakan bentuk memperturutkan hawa nafsu. Tindakan ini bermaksiat karena mengandung unsur asmara yakni perwujudan perasaan senang kepada lawan jenis secara keliru. Di sisi lain kegitan maksiat yang dilakukan di tempat terbuka secara beramai-ramai merupakan bentuk “syiar” untuk melakukan maksiat. Semua ini menimbulkan kesan seakan-akan asmara subuh merupakan sesuatu yang biasa dan wajar. Lebih parah lagi kegiatan ini justru dilakukan ketika dirinya sedang melaksanakan ibadah puasa. Ini berarti, peserta “asmara subuh” telah mencampuradukkan perkara yang hak dengan yang batil. Tindakan ini tentu saja terlarang sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 42: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”
Islam mengajarkan bahwa setiap pribadi muslim harus menghormati muslim lain yang sedang beribadah. Menghormati di sini termasuk tidak mengganggu, membuat kegaduhan atau melecehkan muslim lainnya. Bahkan, ketika sedang beribadah saja, seorang muslim dilarang untuk mengganggu ibadah orang lain. Seorang muslim yang sedang membaca Alquran dituntut untuk mengecilkan suaranya bila ada orang lain yang sedang shalat. Bila Islam menghargai dan menghormati muslim lainnya, agama yang dibawa Nabi Muhammad ini juga melarang umatnya untuk menodai ibadah yang sedang dilakukan dengan perbuatan maksiat.
Para orangtua wajib mencegah anaknya agar tidak terlibat dalam kegiatan maksiat ini. Mereka harus menginterogasi dan memerikasa anaknya manakala ia keluar rumah. Semua bentuk pelanggaran sang anak dibebankan kepada orangtuanya. Bila para orangtua menginginkan kebaikan bagi diri dan anaknya, tentu saja mereka harus berjuang untuk mengarahkan generasi penerus bangsa dan agama ini keajalan yang benar.
Selain pribadi dan orang tua, partisipasi masyarakat dan unsur pemerintah terkait juga mutlak dibutuhkan. Semua pihak tidak boleh mengabaikan atau menganggap kegiatan “asmara subuh” ini sebagai sesuatu yang wajar. Allah mengingatkan bahwa akibat suatu maksiat tidak hanya diterima oleh pelakunya, tetapi menimpa semua orang. Firman Allah dalam Surah Al Anfal ayat 25: “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Dengan kehadiran Ramadhan kali ini, umat Islam berharap mendapatkan rahmat, ampunan dan mencapai tingkatan taqwa. Agar tujuan ini tercapai, tentu saja setiap muslim harus melaksanakan semua perintah Allah dan mencegah serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan. Kegiatan “asmara subuh” bermaksiat dan mengundang murka angkara Allah. Semua pihak termasuk orang tua perlu mencegah kegiatan ini demi kebaikan umat Islam secara menyeluruh.
* Penulis adalah pengurus Aliansi Santri Peduli Syariat, Kabupaten Aceh Utara.
RAMADHAN merupakan bulan rahmat. Di dalam bulan ini Allah memberikan rahmat seluas-luasnya kepada umat manusia. Ramadhan merupakan bulan keampunan. Siapa saja yang memohon ampun maka ia akan diampuni.
Anehnya, sebagian umat Islam justru mencari murka angkara Allah di bulan yang penuh rahmat ini. Betapa tidak, mereka melakukan dosa tepat setelah ibadah puasa Ramadhan dimulai. Mereka melakukan dosa di saat orang lain dan mungkin dirinya sedang melaksanakan ibadah. Mereka adalah manusia yang melakukan “asmara subuh”. Bagi mereka, Ramadhan bukanlah bulan rahmat melainkan bulan laknat yang penuh dengan murka angkara Allah.
“Asmara subuh” kerap dilakukan dengan bersantai di jalan-jalan. Di dalam kelompok ini, ditemui laki-laki dan perempuan yang bercampur-baur. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini mengandung unsur asmara yang berarti perasaan senang kepada lawan jenis. Kegiatan ini sangat rentan mengundang maksiat atau paling tidak menghilangkan pahala berpuasa.
Anehnya lagi, walau dinamai “asmara subuh”, sebagian peserta kegiatan ini justru tidak melaksanakan shalat subuh. Dengan licik seorang anak meminta izin kepada orangtuanya untuk keluar rumah. Ia beralasan akan melaksanakan shalat subuh di masjid. Karena mengingat kelebihan masjid orangtua mengizinkan sang anak. Penerus generasi licik ini pun pergi menemui teman-temanya. Mereka bergabung untuk melaksanakan apa yang dinamai “asmara subuh”. Bila dikaji, tindakan mereka lebih cocok dinamai “angkara subuh” sebagai pengganti “asmara subuh”. Hal ini disebabkan karena hasil dari “asmara subuh” adalah angkara yakni kebengisan Allah diwaktu subuh dan waktu lainnya.
Sebagian peserta “asmara subuh” berdalih bahwa mereka bermaksud peulalee (melalaikan) puasa. Mungkin mereka menyangka bahwa puasa itu ibarat anak kecil yang perlu di peulalee. Dalam kenyataannya, puasa tak perlu diawasi layaknya anak kecil. Ia hanya perlu dijaga agar tetap sah dan berkualitas. Pelaku puasa hanya perlu menahan diri dari berbagi perkara yang dapat membatalkan puasa dan pahalanya. Bila puasa ini telah dilaksanakan secara benar, ia justru akan menjaga pelaku puasa dari berbagai kerusakan sepanjang masa.
Ramadhan merupakan bulan latihan untuk menghadapi sebelas bulan lainnya. Di dalam bulan ini umat Islam diuji untuk menahan hawa nafsu. Bukan hanya hal-hal yang haram, umat Islam juga diuji untuk menahan diri dari berbagai hal-hal yang halal. Bekal latihan dalam bulan ini diharapkan tetap bertahan dalam bulan-bulan lain. Bila selama latihan saja pribadi muslim tidak mau menahan diri, maka dapat dipastikan bahwa dalam kehidupan ini, ia selalu memperturutkan hawa nafsu. Bila nafsu semata yang menjadi pemimpin hidup, maka hancurlah diri dan kehidupannya.
Tindakan “asmara subuh” merupakan bentuk memperturutkan hawa nafsu. Tindakan ini bermaksiat karena mengandung unsur asmara yakni perwujudan perasaan senang kepada lawan jenis secara keliru. Di sisi lain kegitan maksiat yang dilakukan di tempat terbuka secara beramai-ramai merupakan bentuk “syiar” untuk melakukan maksiat. Semua ini menimbulkan kesan seakan-akan asmara subuh merupakan sesuatu yang biasa dan wajar. Lebih parah lagi kegiatan ini justru dilakukan ketika dirinya sedang melaksanakan ibadah puasa. Ini berarti, peserta “asmara subuh” telah mencampuradukkan perkara yang hak dengan yang batil. Tindakan ini tentu saja terlarang sebagaimana firman Allah dalam Surah Al Baqarah ayat 42: “Dan janganlah kamu campuradukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.”
Islam mengajarkan bahwa setiap pribadi muslim harus menghormati muslim lain yang sedang beribadah. Menghormati di sini termasuk tidak mengganggu, membuat kegaduhan atau melecehkan muslim lainnya. Bahkan, ketika sedang beribadah saja, seorang muslim dilarang untuk mengganggu ibadah orang lain. Seorang muslim yang sedang membaca Alquran dituntut untuk mengecilkan suaranya bila ada orang lain yang sedang shalat. Bila Islam menghargai dan menghormati muslim lainnya, agama yang dibawa Nabi Muhammad ini juga melarang umatnya untuk menodai ibadah yang sedang dilakukan dengan perbuatan maksiat.
Para orangtua wajib mencegah anaknya agar tidak terlibat dalam kegiatan maksiat ini. Mereka harus menginterogasi dan memerikasa anaknya manakala ia keluar rumah. Semua bentuk pelanggaran sang anak dibebankan kepada orangtuanya. Bila para orangtua menginginkan kebaikan bagi diri dan anaknya, tentu saja mereka harus berjuang untuk mengarahkan generasi penerus bangsa dan agama ini keajalan yang benar.
Selain pribadi dan orang tua, partisipasi masyarakat dan unsur pemerintah terkait juga mutlak dibutuhkan. Semua pihak tidak boleh mengabaikan atau menganggap kegiatan “asmara subuh” ini sebagai sesuatu yang wajar. Allah mengingatkan bahwa akibat suatu maksiat tidak hanya diterima oleh pelakunya, tetapi menimpa semua orang. Firman Allah dalam Surah Al Anfal ayat 25: “Dan peliharalah dirimu daripada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja diantara kamu. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.”
Dengan kehadiran Ramadhan kali ini, umat Islam berharap mendapatkan rahmat, ampunan dan mencapai tingkatan taqwa. Agar tujuan ini tercapai, tentu saja setiap muslim harus melaksanakan semua perintah Allah dan mencegah serta menjauhkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan. Kegiatan “asmara subuh” bermaksiat dan mengundang murka angkara Allah. Semua pihak termasuk orang tua perlu mencegah kegiatan ini demi kebaikan umat Islam secara menyeluruh.
* Penulis adalah pengurus Aliansi Santri Peduli Syariat, Kabupaten Aceh Utara.
Sumber : Serambi Online
