Gadis Cilik 10 Tahun Korban Dugaan Perkosaan Di Aceh Tamiang Alami Trauma Berat

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Gadis kecil yang diduga menjadi korban perkosaan oleh pemuda yang  tetangganya sendiri di Desa Balingkarang, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang pada Jumat (23/8) malam kemarin, ternyata hingga hari ini masih mengalami trauma berat.


Bocah yang usianya belum genap 10 tahun tersebut terlihat masih menanggung beban jiwa yang teramat dalam pasca kejadian yang sebelumnya memang tidak pernah terbayangkan itu.

Bukan hanya Tiara (nama samaran bagi korban-red), bahkan Ayah serta ibu kandungnya juga turut larut dalam kesedihan tatkala mengetahui kalau pagar ayu anak gadis semata wayangnya itu diperlakukan tidak senonoh oleh pemuda berusia 28 tahun yang tak lain masih tetangga dan sebagai kerabat dekatnya sendiri.

Meskipun pelaku yang diduga telah merusak dan menginjak-injak harga diri bagi segenap keluarga Tiara sudah meringkuk dibalik jeruji Mapolres Aceh Tamiang, namun saat Pemimpin Redaksi Lentera24 bersama 3 orang tim yang masing-masing adalah, Yulfa Islaini, M.Psi.,Psikolog dari  Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Aceh Tamiang, Dewi Kartika, SH, Satgas P2TP2A dan Siti Nurlela, S.Sos, petugas Pekerja Sosial dari Dinas Sosial (Peksos Dinsos) Kabupaten Aceh Tamiang menyambangi korban dikediamannya, Senin (26/8),  melihat secara jelas mimik wajah Tiara serta kedua orang tuanya yang masih dirundung kesedihan.

"Nggak tau lagi apa yang mau saya bilang. Rasanya nggak sanggup untuk menceritakannya. Kami bisa merasakan bagaimana nasib dan masa depan anak kami ini. Sampai dia besar nantipun, orang-orang akan tetap mengenang kejadian yang menimpah anak kami, betapa malunya anak kami yang hingga dewasa kelak masih harus menanggung aib" ungkap SM (38), ibu kandung korban tiara kepada tim.

Tiara yang duduk dipangkuan ibunya lebih banyak membisu ketika diajukan sejumlah pertanyaan oleh tim yang merupakan petugas P2TP2A dan Peksos Dinsos Kabupaten Aceh Tamiang.

Tetapi karena terus dibujuk dan diminta oleh ibunya agar bercerita sendiri atas kejadian memilukan yang menimpahnya kemarin, namun walau dengan kalimat terbata-bata, akhirnya Tiara berkenan dan memulai bercerita satu persatu terkait kejadian yang dialaminya.

Menurut penuturan Tiara, pada malam naas itu, kedua orang tuanya tidak berada dirumah karena bermalam diladang untuk menjaga tanaman padi dari serangan hewan babi hutan. Namun karena hingga malam, kambing miliknya yang akan dijadikan hewan Aqiqah untuk dirinya belum juga pulang, dirinya berniat untuk mencarinya disebelah kebun warga yang bersebelahan dengan hutan semak.

Entah bagaimana, tiba-tiba Ar (28), seorang pemuda yang tak lain masih memiliki hubungan keluarga dan belum lama ini juga pernah menjadi guru di SD Negeri Balingkarang datang menemui Tiara dengan menawarkan diri untuk ikut membantu Tiara mencari kambing yang belum pulang kerumah.

Akhirnya pada malam itu, Tiara dan pemuda yang jarak rumahnya hanya sekitar 40 meter itu pergi mencari kambing dengan mengendarai sepeda motor.

"Kambingnya ada kami temukan, tapi waktu mau ditangkap, kambingnya malah lari masuk kedalam hutan. Lalu kami terus kembali pulang menuju rumah," ungkap Tiara.

Namun ketika diperjalan, Tiara yang duduk dibelakang sempat bertanya kepada Ar karena sepeda motor yang dikemudikan Ar itu bukan langsung menuju kerumah melainkan berbelok kearah gedung SD Negeri Baling Karang yang bearada diatas bukit.

"Katanya mau mengambil barang miliknya yang tertinggal disekolah. Sampai disekolah, lalu aku dibopong terus pakaianku dipaksa diplorotin diters sekolah," kisah Tiara.

Walau Tiara sempat meronta, melawan dan menjerit, namun tenaga bocah kelas IV (empat) SD ini kalah kuat dengan pemuda yang sudah berusia 28 tahun. Tetapi setelah itu ungkapan Tiara terhenti seketika. Lalu SM, ibu Tiara melanjutkan cerita anak sulungnya sesuai dengan yang pernah diceritakan oleh anak kesayangan SM kepadanya.

"Sesuai hasil visum medis, katanya ada sedikit kerusakan pada vital anak kami, kalau menurut anak kami ini, dirinya terus meronta-ronta karena merasakan sakit. Akhirnya anak kami dipaksa dengan berganti posisi," ujar SM.

Meskipun pelaku gagal merusak pagar ayu Tiara secara total, kata SM, tetapi pelaku telah berhasil melampiaskan nafsu bejatnya dengan menyodomi korban. Usai melakukan aksi bejatnya, lalu Ar mengancam Tiara agar tidak menceritakan kejadian itu.

"Katanya aku akan dibunuh kalau cerita sama mamak," tutur Tiara.

Sesampai didepan rumah bibi korban, Tiara diturunkan dari sepeda motor pelaku, dengan posisi terduduk seraya menahankan rasa sakit yang deritanya, Tiara menangis dan menjerit sejadi-jadinya membuat sang bibi tersontak dan berlari keluar rumah menemui korban.

Aduan Tiara kepada bibinya sempat disangkal oleh pelaku. Bahkan pelaku sempat menantang agar Tiara divisum sembari mengancam akan menuntut keluarga korban jika tidak terbukti.

Setelah itu, pada pukul 02 dinihari, keluarga korban membawa Tiara ke Polsek Karang Baru dan melanjutkan ke Mapolres Aceh Tamiang untuk membuat pengaduan.

"Jam dua kami pergi membawa anak kami, tetapi ditengah perjalanan menuju kantor Polisi, mobil yang kami rental mengalami pecah ban. Akhirnya pada jam 5 pagi, kami baru sampai kekantor Polisi di Karang Baru," tukas SM.

Ibu serta ayah korban Tiara meminta agar pelaku yang telah mencabik-cabik kehormatan anaknya supaya diberi hukuman yang seberat-beratnya sesuai hukum yang berlaku.

"Kami meminta agar Pak Hakim bisa mengadili dengan seadil-adilnya. Pelaku harus dihukum berat, bila perlu dijatuhi hukuman seumur hidup," pinta SM seraya menyeka air mata yang terus mengalir dipipinya. [] L24-002
Diberdayakan oleh Blogger.