Di PBB, Abbas Desak Trump Batalkan Pengakuan Terhadap Yerusalem

Lentera24.com | NEW YORK -- Presiden Palestina, Mahmoud Abbas, menyerukan Amerika Serikat (AS) untuk membatalkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel dan pemotongan bantuan. Abbas mengatakan keduanya telah merusak solusi dua negara atas konflik di Timur Tengah.

Foto : Sindonews.com
UNITED NATIONS (Reuters)-Presiden Palestina Mahmoud Abbas pada Kamis menyerukan Amerika Serikat untuk membalikkan pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan pemotongan bantuan ke Palestina, mengatakan ini telah merusak solusi dua negara atas konflik tersebut.

"Dengan semua keputusan ini, pemerintahan ini telah mengingkari semua komitmen AS sebelumnya, dan telah merusak solusi dua negara," kata Abbas dalam pidatonya kepada pertemuan tahunan para pemimpin dunia di PBB.

"Saya memperbarui seruan saya kepada Presiden Trump untuk membatalkan keputusan dan kebijakannya mengenai Yerusalem, pengungsi, dan permukiman," imbuhnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (28/9/2018).

Perundingan perdamaian Israel-Palestina terakhir runtuh pada tahun 2014. Ada keraguan Presiden AS Donald Trump dapat mengamankan apa yang disebutnya sebagai "kesepakatan akhir" karena ia mengakui Yerusalem sebagai Ibu Kota Israel pada bulan Desember dan memindahkan Kedutaan Besar AS di sana pada bulan Mei.

Palestina ingin mendirikan negara di Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibukotanya.

Israel merebut wilayah-wilayah itu dalam perang Timur Tengah 1967 dan mencaplok Jerusalem Timur dalam sebuah langkah yang tidak diakui secara internasional. Israel menganggap semua kota sebagai Ibu Kota abadi dan tak terpisahkan.

Trump telah mengelak dari pertanyaan apakah ia mendukung gagasan solusi dua negara, satu untuk Israel dan satu untuk Palestina, sebuah bagian penting dari kebijakan AS selama beberapa dekade.

Pada hari Rabu, dalam dukungan pemerintahannya yang paling jelas untuk gagasan itu, dia mengatakan: “Saya suka solusi dua negara. Itulah yang menurut saya paling berhasil.” Sebelumnya ia mengatakan ia juga akan mendukung solusi satu negara jika kedua pihak menginginkannya. [] SINDONEWS.COM
Diberdayakan oleh Blogger.