Oleh: Suparmin (Anggota PWI Aceh Tamiang) Lentera24.com - Ruang konferensi provinsi (Konferprov) PWI Aceh kian bergemuruh. Deru suara, perd...
Oleh: Suparmin (Anggota PWI Aceh Tamiang)
Lentera24.com - Ruang konferensi provinsi (Konferprov) PWI Aceh kian bergemuruh. Deru suara, perdebatan gagasan, hingga bisik-bisik di sudut ruangan mewarnai proses demokrasi yang tengah berjalan. Suasana hangat ini sejatinya menjadi bukti bahwa organisasi wartawan tertua ini hidup dan bernapas. Namun, di balik antusiasme menyambut kepengurusan baru tersebut, ada satu kekhawatiran mendalam yang harus kita redam bersama: jangan sampai hajat besar organisasi ini justru meninggalkan luka berupa perpecahan, lahirnya kubu-kubu eksklusif, dan bertambahnya musuh di antara kawan seprofesi.
PWI adalah rumah besar kita bersama. Sangat ironis jika gelaran Konferprov—yang seharusnya menjadi momentum merajut kebersamaan dan merumuskan langkah strategis kemajuan pers—malah bergeser menjadi ajang polarisasi. Perbedaan pandangan dan pilihan arah kepengurusan adalah hal yang wajar dalam alam demokrasi. Akan tetapi, jika perbedaan itu dibiarkan meruncing menjadi permusuhan abadi dan sekat-sekat kelompok yang saling menjatuhkan, maka kita telah mengkhianati esensi kehadiran PWI itu sendiri.
Jangan Jadikan Konferprov Ajang Menanam Benih Permusuhan
Ambisi untuk berkontribusi dan memimpin organisasi tentu bukanlah sebuah kesalahan. Setiap anggota memiliki hak konstitusional untuk mengabdi. Namun, cara meraih kepercayaan rekan sejawat harus ditempuh dengan elegan: melalui gagasan program kerja yang mencerahkan, rekam jejak yang bersih, serta integritas yang terjaga.
Sebagai wartawan, keseharian kita dihabiskan untuk mengkritisi para pemangku kebijakan agar tidak memecah belah masyarakat dan senantiasa menjaga transparansi. Maka, sudah sepatutnya kita menjadi teladan utama di rumah sendiri. Jangan sampai atmosfer Konferprov dicemari oleh narasi-narasi yang belum terverifikasi, saling tuduh, atau serangan personal demi memenangkan syahwat kekuasaan sesaat. Jabatan di PWI bukanlah singgasana kekuasaan yang harus direbut dengan menghalalkan segala cara, melainkan mandat moral untuk melayani sesama wartawan.
Ketika kontestasi usai, kursi kepengurusan akan berganti, dan roda organisasi akan terus berputar melalui siklus regenerasi. Namun, etika organisasi, rasa saling percaya, serta ikatan persaudaraan adalah modal jangka panjang yang tidak ternilai harganya. Jika permusuhan dan kubu-kubuan dipelihara hanya karena berbeda pilihan dalam Konferprov, maka seluruh keluarga besar PWI Aceh lah yang akan menanggung kerugian jangka panjangnya.
Merajut Kembali Solidaritas Pasca-Konferprov
Mari kita jadikan Konferprov PWI Aceh ini sebagai titik balik untuk melahirkan pemimpin yang amanah, berintegritas tinggi, dan memiliki komitmen nyata mengangkat martabat profesi wartawan. Kemajuan organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang berhasil menduduki jabatan ketua, melainkan seberapa kokoh kita merawat solidaritas dan menolak segala bentuk perpecahan.
Pintu rumah besar PWI harus selalu terbuka lebar bagi siapa saja, tanpa sekat-sekat kelompok pemenang atau yang tersingkir. Berbeda pilihan di bilik suara adalah hal lumrah, tetapi merawat persaudaraan jauh di atas segalanya. Mari jaga PWI Aceh agar tetap menjadi tempat bernaung yang nyaman, tempat bertumbuhnya profesionalisme, dan rumah yang penuh kedamaian bagi kita semua. (*)
