Lentera24.com - Politik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari karena identik dengan pemilu, partai, dan...
Lentera24.com - Politik sering kali dianggap sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari karena identik dengan pemilu, partai, dan lembaga pemerintahan. Padahal, pemahaman seseorang tentang politik dapat tumbuh dari lingkungan terdekat, termasuk keluarga. Percakapan mengenai persoalan masyarakat, perbedaan pendapat, dan keputusan bersama di rumah dapat menjadi pengalaman awal seseorang dalam memahami kekuasaan dan kepentingan publik. Dalam ilmu politik, proses tersebut berkaitan dengan sosialisasi politik, yaitu proses pembelajaran nilai, sikap, dan pemahaman politik melalui lingkungan sosial (Alfaruqy et al., 2022).
Keluarga memiliki posisi penting karena interaksi antara orang tua dan anak dapat berlangsung secara berulang sejak usia dini. Melalui percakapan dan contoh perilaku, anak belajar memahami aturan, menghargai pendapat, serta menilai persoalan yang terjadi di masyarakat. Penelitian Alfaruqy et al. (2022) melibatkan 431 pasangan remaja berusia 17–20 tahun dan orang tua mereka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang tua menjadi salah satu aktor penting dalam sosialisasi politik keluarga, yang berlangsung melalui tanya jawab, diskusi, dan penyampaian pendapat.
Gambaran nyata mengenai pengaruh keluarga terhadap pilihan politik dapat dilihat dalam penelitian Sidabalok dan Harahap (2025) berjudul Tradisi Pilihan Keluarga dalam Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2024: Studi pada Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara Angkatan 2021. Penelitian tersebut menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif melalui wawancara dan studi pustaka. Hasilnya menunjukkan bahwa keluarga masih menjadi agen sosialisasi politik yang penting bagi mahasiswa yang diteliti, terutama melalui ikatan emosional, ketergantungan ekonomi, dan nilai-nilai yang diwariskan sejak dini.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa pilihan politik tidak selalu terbentuk hanya dari pertimbangan pribadi. Hubungan emosional dengan orang tua dapat membuat pandangan keluarga menjadi salah satu rujukan ketika seseorang menentukan sikap politiknya. Namun, hasil penelitian itu tidak berarti semua mahasiswa pasti mengikuti pilihan orang tua. Sidabalok dan Harahap (2025) juga menjelaskan bahwa pendidikan tinggi, perkembangan teknologi, dan diskusi politik di lingkungan kampus dapat membuka ruang bagi mahasiswa untuk berpikir kritis dan mengambil keputusan secara mandiri.
Kasus tersebut menunjukkan adanya hubungan yang menarik antara kedekatan keluarga dan kebebasan menentukan pilihan politik. Di satu sisi, keluarga dapat membantu seseorang mengenal persoalan politik dan membangun nilai-nilai sosial. Di sisi lain, kedekatan tersebut berpotensi membuat seseorang merasa harus mengikuti pilihan keluarga agar tidak menimbulkan perbedaan. Oleh karena itu, sosialisasi politik sebaiknya tidak berhenti pada pewarisan pandangan, tetapi juga memberi kesempatan kepada setiap anggota keluarga untuk mempertimbangkan informasi dan menyampaikan alasan secara mandiri (Alfaruqy et al., 2022; Sidabalok & Harahap, 2025).
Dalam kehidupan demokratis, perbedaan pilihan bukan berarti hilangnya rasa hormat terhadap keluarga. Setiap orang dapat memiliki pengalaman, sumber informasi, dan pertimbangan yang berbeda. Penelitian Sidabalok dan Harahap (2025) menunjukkan bahwa lingkungan pendidikan dan akses informasi yang lebih luas dapat memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mengevaluasi pandangan yang diterima dari keluarga. Dengan demikian, hubungan keluarga dapat tetap terjaga meskipun anggotanya memiliki pilihan politik yang tidak selalu sama.
Salah satu cara membangun pemahaman politik yang sehat adalah membiasakan diskusi terbuka di rumah. Anggota keluarga dapat membahas persoalan masyarakat dengan menanyakan alasan di balik suatu pendapat, membandingkan informasi, dan mempertimbangkan dampak sebuah keputusan bagi kepentingan bersama. Penelitian Alfaruqy et al. (2022) menunjukkan bahwa tanya jawab, diskusi, dan penyampaian pendapat merupakan bagian dari proses sosialisasi politik keluarga. Hal ini menegaskan pentingnya komunikasi sebagai ruang belajar, bukan sekadar sarana menyampaikan pandangan satu pihak.
Selain itu, keluarga perlu membedakan antara memberikan pemahaman dan memaksakan pilihan. Orang tua dapat membagikan pengalaman politiknya, sementara anak tetap diberi kesempatan untuk mencari informasi dan membangun penilaian sendiri. Sikap ini sejalan dengan temuan Sidabalok dan Harahap (2025) bahwa pendidikan tinggi, teknologi, dan diskusi kampus dapat membantu mahasiswa mengembangkan kemandirian dalam menentukan keputusan politik.
Pada akhirnya, politik di meja makan bukan hanya tentang siapa yang dipilih ketika pemilu berlangsung, tetapi juga tentang bagaimana seseorang belajar memahami kekuasaan, menghargai perbedaan, dan mempertimbangkan kepentingan bersama. Studi terhadap mahasiswa UIN Sumatera Utara menunjukkan bahwa keluarga tetap berperan dalam pembentukan preferensi politik, tetapi pengaruhnya dapat berinteraksi dengan pengalaman pendidikan dan akses informasi yang lebih luas (Sidabalok & Harahap, 2025). Karena itu, keluarga idealnya menjadi tempat untuk belajar berdialog secara terbuka, bukan ruang untuk menyeragamkan pilihan. Dari percakapan sederhana di rumah, sikap demokratis dapat mulai dibangun melalui kebiasaan mendengar, berpikir kritis, dan menghormati keputusan orang lain (Alfaruqy et al., 2022).(*)
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Daftar Pustaka
Alfaruqy, M. Z., Emeralda, T. V., & Dewi, A. C. (2022). Keluarga sebagai mikrosistem sosialisasi politik: Survei psikologi politik. Jurnal RAP (Riset Aktual Psikologi Universitas Negeri Padang), 13(1), 73–87. https://doi.org/10.24036/rapun.v13i1.114885
Sidabalok, U. F., & Harahap, E. W. (2025). Tradition of family choice in the 2024 presidential and vice presidential elections: A study on students of the Faculty of Ushuluddin and Islamic Studies UIN North Sumatra class of 2021 [Tradisi pilihan keluarga dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2024: Studi pada mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Islam UIN Sumatera Utara angkatan 2021]. Sosioedukasi: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan dan Sosial, 14(2), 1256–1261. https://doi.org/10.36526/sosioedukasi.v14i3.6000
