Hendriko Lubis Lentera24.com | KARANG BARU — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang mulai berg...
![]() |
| Hendriko Lubis |
Lentera24.com | KARANG BARU — Bursa kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kabupaten Aceh Tamiang mulai bergeliat hangat. Di tengah percakapan publik mengenai masa depan olahraga daerah, nama Hendriko Lubis muncul ke permukaan sebagai salah satu figur yang menyatakan keinginannya untuk ikut serta dalam bursa perebutan kursi Ketua KONI Aceh Tamiang.
Pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh Hendriko di Karang Baru, Rabu (16/9/2026). Nama Hendriko tentu bukan sosok asing di kancah organisasi olahraga lokal. Selain mengemban amanah sebagai Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Aceh Tamiang, ia juga dipercaya memimpin Cabang Olahraga Persaudaraan Shorinji Kempo Indonesia (PERKEMI) Aceh Tamiang. Di tubuh PERKEMI, ia bahkan terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum untuk masa bakti 2026–2030, dengan fokus kepemimpinan yang diarahkan pada penguatan porsi latihan, pembinaan atlet, kedisiplinan, hingga kesiapan menghadapi berbagai ajang kompetisi.
Kini, rekam jejak dan pengalaman organisasi itu siap ia bawa ke ruang lingkup yang lebih luas demi kemajuan olahraga bumi muda Sedia.
Menakar Arah Olahraga: Dari Desa hingga Kabupaten
Langkah maju menuju kursi KONI tentu bukan sekadar soal dinamika perebutan kekuasaan organisasi. Lebih dari itu, langkah ini dihadapkan pada pertanyaan besar: ke mana arah dan kompas olahraga Aceh Tamiang hendak dibawa?
Sebab, KONI sejatinya hadir jauh sebelum kejuaraan dimulai. Di balik setiap keping medali yang dikalungkan kepada para juara, tersimpan proses panjang yang melelahkan—mulai dari pencarian bibit potensial, porsi latihan yang disiplin, peran vital pelatih, ketersediaan fasilitas, dukungan pembiayaan, hingga keberanian mental untuk mengirim atlet bertanding di level yang lebih tinggi.
Selama ini, gagasan yang diusung Hendriko banyak menitikberatkan pada sistem pembinaan atlet yang berjenjang. Menurut pandangannya, pencarian dan pengasahan bakat olahraga tidak boleh berjalan reaktif atau sekadar bergerak ketika sebuah ajang kejuaraan sudah di depan mata. Pembibitan harus dimulai dari akar rumput: dari desa, bangku sekolah, dan tingkat kecamatan, untuk kemudian diarahkan secara berkelanjutan hingga level kabupaten.
Gagasan ini menempatkan pembinaan usia dini sebagai fondasi mutlak sebuah prestasi. Atlet tidak cukup hanya dipersiapkan untuk mendulang medali instan hari ini, melainkan harus dibentuk sejak belia agar memiliki proses yang matang, pengalaman tanding yang kaya, serta jenjang prestasi yang jelas. Di sinilah letak urgensi arah kepemimpinan KONI; bahwa prestasi tidak pernah lahir secara instan, melainkan tumbuh dari ketekunan pembinaan yang konsisten.
Menakar Dukungan Cabor dalam Dinamika Musorkab
Dalam setiap siklus bursa kepemimpinan KONI, suara dari cabang-cabang olahraga (cabor) selalu menjadi penentu dinamika organisasi. Namun, dukungan tersebut harus tetap berjalan di atas rel Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), regulasi organisasi, serta tata tertib Musyawarah Olahraga Kabupaten (Musorkab).
Sejarah mencatat dinamika serupa pernah mewarnai KONI Aceh Tamiang pada tahun 2022 silam, di mana 27 dari 36 ketua cabor pemilik hak suara menyatakan dukungannya kepada Mursil menjelang Musorkab V, hingga akhirnya terpilih secara aklamasi untuk periode 2022–2026. Dinamika serupa juga terlihat di Aceh Barat pada 2026, tatkala Teuku Adian Makmur Rizqullah sukses merangkul dukungan sejumlah cabor sebelum akhirnya melenggang melalui proses Musorkab.
Kendati demikian, setiap daerah memiliki karakter dan mekanisme internalnya masing-masing. Oleh karena itu, sinyal dukungan yang mulai mengalir kepada Hendriko harus dibaca sebagai bagian dari dinamika awal, hingga seluruh tahapan resmi pencalonan dan Musorkab bergulir sesuai ketentuan yang berlaku.
Bukan Sekadar Berebut Kursi, Ini tentang Visi
Bagi Hendriko, dunia olahraga harus dipandang sebagai sebuah investasi jangka panjang bagi masa depan daerah. Pandangan ini otomatis menarik persoalan KONI ke ranah yang jauh lebih substantif: bukan sekadar siapa yang menduduki singgasana ketua, melainkan program konkrit apa yang ditawarkan, bagaimana cabor diberdayakan, bagaimana atlet diayomi, dan seberapa jauh kapasitas KONI dalam merajut sistem pembinaan yang berkelanjutan.
Termasuk di dalam agenda besar tersebut adalah isu kesejahteraan pelatih, modernisasi fasilitas latihan, pemetaan potensi atlet secara akurat, transparansi pendanaan, hingga strategi jitu menghadapi persaingan di tingkat provinsi maupun nasional.
Oleh karena itu, perhelatan Musorkab kelak tidak boleh berhenti sebatas kalkulasi hitung-hitungan suara semata. Ada asa para atlet yang harus dijawab, ada tetesan keringat pelatih yang harus dihargai, ada cabor yang membutuhkan uluran tangan, serta ada marwah dan nama baik Aceh Tamiang yang dipertaruhkan di setiap gelanggang pertandingan.
Menanti Langkah Nyata
Nama Hendriko Lubis kini telah resmi mewarnai panggung percakapan bursa kepemimpinan KONI Aceh Tamiang. Namun, siapa yang akhirnya akan mengantongi mandat sah memimpin tentu akan ditentukan melalui mekanisme organisasi yang demokratis di ruang Musorkab.
Satu hal yang paling dinantikan oleh publik olahraga setempat bukan sekadar siapa figur yang paling dominan mengumpulkan dukungan. Lebih dari itu, masyarakat mendambakan hadirnya gagasan-gagasan segar yang mampu ditransformasikan menjadi aksi nyata.
Sebab, dunia olahraga Aceh Tamiang tidak sekadar butuh pergantian wajah di kursi pimpinan. Yang paling mendesak adalah hadirnya pembinaan yang hidup dari bawah, atlet yang digembleng secara serius, pelatih yang diperhatikan nasibnya, cabor yang dihidupkan, dan prestasi murni yang dibangun melalui keringat proses.
Dari sinilah pertarungan gagasan yang sesungguhnya dimulai—bukan sekadar tentang siapa yang memimpin KONI Aceh Tamiang, melainkan siapa yang benar-benar sanggup membawa olahraga daerah ini melangkah dari pembinaan menuju puncak prestasi.[]L24.Sai
