Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H Lentera24.com | ACEH TAMIANG - Malam itu, secangkir kopi hangat di Cafe Retak, Paya Bedi, Kecamatan ...
![]() |
| Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H |
Lentera24.com | ACEH TAMIANG - Malam itu, secangkir kopi hangat di Cafe Retak, Paya Bedi, Kecamatan Rantau, menjadi saksi bisu betapa besarnya kerinduan warga Aceh Tamiang untuk bangkit. Di tengah obrolan santai yang diwarnai sisa-sisa ketegaran pascabencana, Bupati Aceh Tamiang, Irjen Pol (Purn) Drs. Armia Pahmi, M.H., hadir mendengarkan keluh kesah masyarakatnya pada Jumat (25/9/2026) malam.
Bagi Armia, bencana yang sempat memporak-porandakan daerahnya bukanlah sebuah akhir, melainkan sebuah ujian keteguhan. Dengan suara tenang namun penuh keyakinan, ia menegaskan bahwa semangat membangun Tamiang tidak akan pernah padam.
"Bencana boleh memporak-porandakan semuanya karena itu merupakan takdir Allah yang harus kita terima. Namun, tekad untuk bangkit dan membawa Tamiang menjadi lebih baik tidak akan pernah padam," ucap Armia dengan penuh penjiwaan.
Di balik meja dialog sederhana itu, berbagai persoalan pelik seperti bantuan stimulan, pemulihan ekonomi, hingga jatah hidup (jadup) diakui Armia masih membutuhkan proses. Namun, ada satu hal yang ia garansi dengan kepemimpinan berhati nurani: ia tidak akan pernah berhenti berjuang sebelum seluruh hak masyarakatnya terselesaikan.
Suasana malam itu mendadak semakin hangat ketika Andi, seorang tokoh masyarakat Kampung Kesehatan, Kecamatan Karang Baru, melontarkan pertanyaan krusial yang selama ini menjadi bisik-bisik di tengah warga—kepastian tentang isu pembangunan Rumah Sakit Putri Bidadari.
Tanpa ragu, Bupati Armia langsung menjawab dengan kepastian yang melegakan. Ia menegaskan bahwa proyek kesehatan tersebut bukan sekadar wacana di atas kertas, melainkan sebuah komitmen nyata yang segera terwujud.
"Insyaallah pada Jumat, 13 November 2026 akan dilakukan peletakan batu pertama yang berlokasi di Bukit Panjang Dua (Bukit Tinggi), Kecamatan Manyak Payed," jawab Armia mantap.
Kabar ini tentu menjadi angin segar yang sangat dinantikan. Betapa tidak, kehadiran fasilitas kesehatan megah ini didukung oleh investasi fantastis senilai sekitar Rp50 miliar yang berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 3 hektare. Tidak tanggung-tanggung, pihak investor bahkan menargetkan proyek kemanusiaan ini rampung dalam waktu singkat, yakni sekitar enam bulan saja sejak peletakan batu pertama.
Langkah strategis ini membuktikan keseriusan tangan dingin Armia Pahmi dalam mengebut pemulihan daerah. Kehadiran Rumah Sakit Putri Bidadari nantinya tidak hanya sekadar menambah fasilitas medis baru, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan dan kado istimewa bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat Aceh Tamiang yang tengah berjuang bangkit dari keterpurukan pascabencana.
Dari secangkir kopi di Paya Bedi hingga kemegahan rumah sakit yang segera berdiri di Manyak Payed, Armia Pahmi membuktikan bahwa cinta pada tanah kelahiran diwujudkan lewat kerja nyata, ketulusan hati, dan keteguhan memimpin tanpa henti.[]L24.Sai
