HIDE

GRID

GRID_STYLE

Post Snippets

FALSE

Hover Effects

TRUE
{fbt_classic_header}

Breaking News:

latest

“Minyak Mengalir, Manfaat Tak Terasa”: Warga Tanjung Seumantoh Desak Pertamina Penuhi Tanggung Jawab Sosial

  ​ Lentera24.com | KARANG BARU — Keberhasilan produksi minyak mentah yang mencapai ratusan barel per hari seharusnya membawa kesejahteraan...

 


Lentera24.com | KARANG BARU — Keberhasilan produksi minyak mentah yang mencapai ratusan barel per hari seharusnya membawa kesejahteraan bagi kawasan sekitarnya. Namun, hal sebaliknya justru terjadi di Kampung Kebun Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang.

​Di balik cerita sukses pengerukan hasil bumi tersebut, tersimpan kekecewaan mendalam dari masyarakat setempat. Aktivitas eksplorasi yang dilakukan PT Pertamina EP Field Rantau bersama perusahaan mitra (vendor) dinilai tidak seimbang dengan kepedulian mereka terhadap dampak sosial dan lingkungan di wilayah Ring 1 (wilayah terdekat dari lokasi operasi).

Fasilitas Olahraga Lumpuh, Janji Pemulihan Tak Terbukti

​Salah satu dampak yang paling dirasakan warga adalah terbengkalainya lapangan sepak bola di komplek Pertamina setempat. Padahal, fasilitas ini memiliki peran sosial yang sangat penting. Lapangan tersebut menjadi pusat kegiatan Sekolah Sepak Bola (SSB) ruang tumbuh positif bagi anak-anak dan remaja agar terhindar dari bahaya narkoba serta pergaulan negatif.

​Sejak diterjang banjir sepuluh bulan lalu, lapangan tersebut dipenuhi endapan lumpur pekat yang kini mengering dan keras. Pihak Pertamina sempat berjanji akan membersihkan sisa sedimen tersebut. Namun, hingga hampir satu tahun berlalu, janji itu belum kunjung direalisasikan.

​Tokoh Masyarakat Aceh Tamiang sekaligus Mantan Kombatan GAM, Agus Salim, menyuarakan keprihatinan warga dengan tegas.

​"Kami tidak meminta hal yang berlebihan dari aktivitas tambang di kampung kami. Kami hanya minta lapangan itu dibersihkan agar anak-anak bisa kembali berolahraga dan terhindar dari kegiatan negatif. Namun, janji Pertamina selama sepuluh bulan ini tidak ada buktinya," ujar Agus Salim.

Jalan Publik Rusak Parah akibat Alat Berat

​Pantauan di lapangan pada Rabu (18/08/2026) menunjukkan bahwa penderitaan warga tidak berhenti pada fasilitas olahraga yang rusak. Akses jalan utama di lintas Kampung Paya Meta yang baru satu tahun selesai dibangun oleh Pemerintah Daerah kini kondisinya rusak parah dan aspalnya terkelupas.

​Kerusakan ini disebabkan oleh seringnya lalu lalang kendaraan berat, seperti trailer pengangkut Rig pengeboran dan ekskavator, yang mendukung operasional proyek.

​Kondisi jalan yang rusak ini terasa kontras dengan pencapaian teknis di area pengeboran. Tiga sumur minyak yang dikerjakan oleh kontraktor vendor PT Asia Petrocom Service (APS) dan PT Tiga Musim Mas Jaya (TMMJ) dilaporkan sukses besar, dengan tingkat produksi mencapai sekitar 100 Barrel of Oil Per Day (BOPD).

Peluang Kerja Lokal Minim dan Dugaan Diskriminasi

​Selain isu lingkungan dan infrastruktur, persoalan penyerapan tenaga kerja lokal turut menjadi pemicu kekecewaan warga. Keberadaan proyek minyak bernilai tinggi ini belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi pemuda setempat.

​Kesempatan kerja untuk warga lokal sangat terbatas, umumnya hanya pada posisi pekerjaan kasar seperti Helper atau tenaga "lumpuran". Lebih dari itu, kuota untuk pekerja lokal dilaporkan mengalami pemangkasan. Jika sebelumnya diserap sekitar 15 orang per pemukiman, kini jumlahnya berkurang menjadi hanya 5 hingga 6 orang per kampung.

​Di saat yang sama, beredar informasi di masyarakat bahwa sebagian posisi pekerja kasar justru diisi oleh tenaga kerja dari luar daerah, sehingga mengesampingkan potensi pemuda lokal yang membutuhkan pekerjaan.

Belum Ada Klarifikasi Resmi dari Manajemen

​Upaya konfirmasi telah dilakukan kepada Field Manager Pertamina EP Field Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, untuk mendapatkan penjelasan resmi. Namun, hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan yang diberikan.

​Sementara itu, salah satu staf Humas Pertamina Field Rantau, sempat memberikan keterangan singkat melalui telepon. Awalnya, ia menyebut proyek di Tanjung Seumantoh tersebut hanyalah perawatan sumur lama (sumur cuci). Namun, setelah dikonfirmasi lebih lanjut dengan temuan lapangan, ia membenarkan bahwa pekerjaan pengeboran tersebut dijalankan oleh pihak vendor.

​Staf humas sempat mengajak insan media untuk berdiskusi secara informal, namun hingga kini belum ada pernyataan tertulis resmi maupun langkah konkret di lapangan terkait perbaikan jalan, pembersihan lapangan sepak bola, serta transparansi kuota tenaga kerja lokal.

Edukasi Publik: Mengapa Tanggung Jawab Sosial Korporasi (TJSL) Itu Penting?

​Kasus yang terjadi di Tanjung Seumantoh menjadi contoh pentingnya penerapan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR) oleh setiap perusahaan penambangan.

​Sesuai aturan ketenagakerjaan dan regulasi industri migas di Indonesia, perusahaan yang beroperasi di suatu wilayah memiliki kewajiban moral dan hukum untuk:

​Menjaga dan Memulihkan Lingkungan: Memastikan kegiatan operasional tidak merusak fasilitas umum dan lingkungan pemukiman warga sekitar.

​Prioritas Penyerapan Tenaga Kerja Lokal: Memberikan porsi kerja yang adil bagi masyarakat di wilayah Ring 1 guna meningkatkan kesejahteraan ekonomi daerah.

​Komunikasi yang Transparan: Membuka ruang dialog dan merealisasikan janji pemulihan dampak operasi secara bertanggung jawab.

​Masyarakat Kampung Kebun Tanjung Seumantoh berharap manajemen pusat Pertamina dapat mengevaluasi kinerja operasional di Field Rantau dan para vendornya, agar kegiatan eksplorasi sumber daya alam dapat berjalan seiring dengan kesejahteraan sosial masyarakat setempat.L24.SWJ.