Lentera24.com | KARANG BARU — Kemarahan warga Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, mendidih. Pelayanan PT PLN (Persero) dinilai b...
Lentera24.com | KARANG BARU — Kemarahan warga Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, mendidih. Pelayanan PT PLN (Persero) dinilai berada di titik nadir setelah pemadaman listrik secara ekstrem terjadi berulang kali, bahkan mencapai 10 kali mati-hidup hanya dalam tempo satu jam pada Kamis (28/8/2026). Ironisnya, jangankan cuaca ekstrem, hujan rintik-rintik saja sudah cukup membuat aliran listrik langsung padam total, sehingga memicu spekulasi warga apakah pemadaman sistematis ini memang disengaja.
Kondisi "biarpet" yang ugal-ugalan ini memicu kecurigaan besar di tengah masyarakat. Warga mempertanyakan apakah ada lagi praktik korupsi, penyelewengan pasokan tambang batu bara, atau mafia energi yang kembali berulah hingga mengorbankan pasokan listrik publik.
Sikap bungkam dari manajemen BUMN tersebut kian menyiram bensin ke dalam api. Setiap kali dikonfirmasi mengenai penderitaan masyarakat, pihak PLN terkesan terus mengelak dan enggan memberikan jawaban pasti, seolah secara sengaja memancing amarah rakyat yang sudah di ujung tanduk.
Shadafi Wirajaya, warga Kampung Tanjung Seumantoh, menyuarakan kekecewaan mendalam atas bobroknya manajemen PLN yang sudah berlangsung selama sebulan terakhir tanpa kepastian respons.
"Ada apa sebenarnya dengan PLN? Dalam sebulan ini terus bermasalah. Hujan rintik-rintik saja langsung padam, apakah ini sengaja? Perangkat elektronik kami banyak yang rusak! Ke mana kami harus mengadu dan minta ganti rugi? Pihak PLN kalau ditanya tidak pernah memberi jawaban, terkesan sengaja membuat rakyat marah," cecar Shadafi dengan nada tinggi.
Menurutnya, dugaan korupsi di sektor tambang yang sempat diusut aparat beberapa waktu lalu seolah tidak memberikan efek jera. Praktik korporasi dan birokrasi yang bobrok disinyalir masih memelihara "maling-maling" baru yang menggerogoti hak dasar rakyat atas akses energi.
"Mungkin beberapa bulan lalu maling tambangnya sudah ditangkap, tapi sekarang siapa lagi malingnya? Negara ini seperti dipenuhi raja-raja maling! Tidak penting rakyat menderita, yang penting mereka bisa mencuri punya rakyat," tegas Shadafi.
Pemadaman listrik berkali-kali dalam kurun waktu singkat bukan sekadar gangguan teknis biasa, melainkan ancaman langsung terhadap perekonomian dan keselamatan barang milik warga. Lonjakan arus akibat listrik yang padam-hidup secara mendadak merusak kompresor pendingin, televisi, hingga peralatan rumah tangga lainnya tanpa ada pertanggungjawaban jelas dari pihak pemegang monopoli listrik negara tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, warga mendesak Pemerintah Pusat, Kementerian BUMN, serta aparat penegak hukum untuk turun tangan membongkar bobroknya operasional PLN di Aceh Tamiang dan mengusut tuntas indikasi permainan kotor di balik krisis energi yang terus menyiksa rakyat kecil.[]L24.Sai
