PT Pertamina EP Rantau Tetap Aktif Selamatkan Bumi Dan Lingkungan

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- PT Pertamina merupakan salahsatu perusahaan yang dalam mengelola usahanya tidak hanya mementingkan keuntungan bisnisnya saja. Namun perusahaan satu ini tetap menjaga dan melestarikan keselamatan bumi dan lingkungan demi kepentingan bagi semua makhluk dan keberlangsungan usaha dalam jangka panjang. 


Seperti halnya yang dilakukan oleh PT Pertamina EP Asset 1 Rantau Field belum lama ini, dalam hal ini perusahaan yang dibawahi Hari Widodo selaku Field Manager (FM) telah menggelar kegiatan Peringatan Hari Bumi Sedunia (PHBS) dengan melakukan kerja bakti dan penanaman pohon di sekitar Kampung Pertamina, di Rantau Kabupaten Aceh Tamiang.

Kegiatan dimaksud merupakan salahsatu dari sejumlah program penyelamatan lingkungan serta spesies langka yang masih aktif dilakukan oleh perusahaan tersebut, baik itu kegiatan yang berlokasi didarat maupun dibagian pesisir Kabupaten yang bergelar Bumi Muda Sedia itu.

Dalam kegiatan tersebut PT Pertamina EP Rantau tetap mengedepankan kebersamaan dengan melibatkan tim management, pekerja dan mitra kerja.

"Saat ini kondisi bumi perlu dilestarikan, sebab jika prilaku terhadap lingkungan masih tetap sama dari waktu ke waktu, maka dampak-dampak negatif terhadap bumi akan terus berlanjut. Seperti saat ini yang sedang terjadi, kita masih merasakan pemanasan global, pencemaran lingkungan, polusi udara dan lain sebagainya," tandas Hari Widodo.

Hari mencontohkan keberhasilan Kota Surabaya yang berhasil menurunkan suhu rata-rata lingkungan di siang hari dari 36° menjadi 34°. Hal tersebut merupakan keberhasilan nyata dari upaya-upaya walikota dan masyarakat Surabaya seperti  tatacara membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan sampah plastik, menggunakan transportasi umum, bersepeda sampai pencarian bahan bakar alternative.

Hari Widodo juga melaksanakan penandatangan komitmen pelestarian Bumi yang diikuti oleh seluruh peserta dan juga pembuatan biopori  di area Kampung Pertamina.

Menurut Hari Widodo, biopori dimaksud berfungsi mempercepat siklus air hujan di permukaan kembali ke lapisan air tanah dan juga sebagai komposter untuk proses fermentasi sampah organic menjadi pupuk kompos organic secara alami.

Dalam praktek yang dilakukan, proses pembuatan biopori tersebut terlihat cukup mudah untuk dilakukan, yakni dengan cara membuat lubang silinder ukuran 3 inch dan memasukan pipa paralon sepanjang 60 hingga 80 centi meter yang telah dilubangi untuk sirkulasi, kemudian dilakukan pengisian penuh pipa paralon yang telah tertanam dengan sampah organik.

Hari menceritakan, saat itu pihak penyelenggara telah memberikan kesempatan kepada para peserta gotong royong untuk berpartisipasi langsung membuat biopori yang dikemas dalam bentuk kegiatan lomba dengan dibentuk menjadi 10 kelompok yang masing-masing beranggotakan 3 sampai 4 orang.

"Disini kita bisa melihat dan menilai siapa yang mampu membuat biopori dengan kualitas terbaik dengan waktu tercepat," ujarnya. [] L24-002

Diberdayakan oleh Blogger.