Asisten II Setdako Subulussalam Buka Pelatihan Rotan

Lentera24.com | SUBULUSSALAM -- Asisten II Setdako Subulussalam, Lidin Padang buka workshop Pelatihan Keterampilan Kerajinan Tikar Rotan (hasil hutan bukan kayu) yang difasilitasi Koperasi Mutiara Jaya (KMJ) Kota Subulussalam bekerjasama dengan BCCPGLE-KFW, Jerman di aula Balai Latihan Kerja (BLK) Kota Subulussalam, Selasa (22/5).

Manajer Proyek KFW Jerman, Andreas (tengah) foto bersama usai pembukaan pelatihan (Foto : Khairul/dok. L24)
Apresiasi KMJ dan KFW, Lidin mewakili wali kota jelaskan kalau 20 tahun silam daerah ini dikenal dengan kota kayu. Namun seiring waktu, berganti dengan perkebunan sawit. Masyarakat diindikasi tidak punya pengetahuan banyak tentang mengelola kayu. 

Rotan yang diakui kurang mendapat perhatian, ternyata dilirik oleh KMJ mempunyai potensi sehingga diberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat, bahkan dengan melibatkan pihak konsultan Jerman. "Patut kita apresiasi dan pemerintah mendukung," aku Lidin berharap, melalui pelatihan keterampilan ini produk rotan dapat menjadi salah satu produk unggulan.

Dia minta, peserta serius mengikuti pelatihan agar punya bekal mengolah hasil hutan bukan kayu (HHBK).

Ketua KMJ, Iskandar melaporkan, 40 peserta yang dibagi dalam dua gelombang, yaitu 22 hingga 28 Mei dan 29 Mei hingga 3 Juni khusus anyaman rotan merupakan unsur 10 desa binaan dari Kecamatan Longkib, Sultan Daulat dan Rundeng Program BCCPGLE-KFW Kota Subulussalam. Iskandar berharap, Pemko Subulussalam dan stakeholder terkait mendukung dan mendorong kegiatan ini.

Turut Ditandatangani di sana MoU antara KMJ dengan 10 Bumdes desa peserta tentang penampungan bahan baku setengah jadi rotan disaksikan Manajer Proyek KFW Jerman, Andreas, asisten II Lidin Padang, anggota DPRK, Luthan dan Kepala Dinas Perizinan Terpadu Kota Subulussalam, Firdaus.

Manajer Proyek KFW, Andreas dalam sambutannya mengatakan, program di sana merupakan program kerjasama Pemerintah Indonesia, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Jerman dengan berbiaya diperkirakan mencapai Rp82 juta. "Kita memulai dari yang kecil," jelas Andreas menambahkan, kelanjutan pembinaan ini diperlukan pendampingan sejumlah pihak sehingga tidak terhenti sebatas pelatihan. [] L24-Khairul

Diberdayakan oleh Blogger.