Warga Rengas Tenggulun Menggeliat, Tuding Jembatan Gantung Nyaris Roboh Dampak Adanya Galian C

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang diharapkan untuk segera meninjau lokasi usaha galian C di Sungai Rengas Desa Tenggulun yang areanya disekitar jembatan gantung.

Foto: Jalan pada pangkal jembatan gantung Sungai Rengas amblas akibat bantaran sungai dan tanah penyangga aboutment tergerus oleh erosi.
Pasalnya sejak adanya perusahaan mengoperasikan usaha galian C disitu, lahan kebun sawit rakyat terus saja terjadi erosi.

Bahkan yang paling menyedihkan lagi, jembatan gantung Sungai Rengas juga harus menjadi korban terkena imbas erosi. Sehingga masyarakat dusun Rengas nyaris menjadi masyarakat terasing karena arus lalulintas yang menghubungkan antar dusun menjadi terputus.

Hal itu diungkapkan Kepala Dusun Adil Makmur I, Desa Tenggulun, Nurdin saat menghubungi Lentera24 pada Selasa (21/5) via ponsel dan pesan WhatsApp yang menceritakan terkait putusnya sebagian jalan dipangkal jembatan gantung itu  dengan runtuhnya tanah akibat erosi.


"Warga kami tidak dapat bisa berbuat banyak, sekarang hanya berpasrah diri sambil menunggu keajaiban dari kebijakan dan kearifan pemerintah Kecamatan Tenggulun serta Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk mengatasi masalah ini," terang Nurdin.

Tambah Nurdin lagi, persoalan runtuhnya jalan pada pangkal jembatan yang berujung menyebabkan Dusun Rengas diambang terisolir itu sudah dilaporkan kepada Pemerintah tingkat Desa Tenggulun. Namun hingga hari ini belum ada tanda tanda respon positif dari Pemerintah.

Nurdin menyebutkan, warga Rengas saat ini sangat kesulitan sekali membawa hasil pertaniannya, seperti halnya buah kelapa sawit untuk dipasarkan kepada agen pengepul TBS karena jembatan gantung yang merupakan satu-satunya sarana penyeberangan sudah tidak dapat dilalui lagi.


"Beginilah nasib warga Rengas dan sekitarnya, dengan adanya galian C ditengah pemukiman masyarakat," jelas Nurdin dalam pesan WhatsApp-nya.

Kata Nurdin, saat ini infrastruktur jembatan sudah putus karena disebabkan erosi dan jalan yang rusak, namun masyarakat disana hanya dapat berharap kepada pemerintah agar supaya menindak dengan tidak ada lagi pihak yang dirugikan. Hal ini masih dapat ditahan oleh warga disana selama mereka masih mampu mengendalikan rasa emosinya.

"Dan kemana lagi akan mengadukan masalah ini. Kami hanya bisa menatap mobil truk dan beko setiap hari menggali dan menggali sertu yg ada di dalam sungai yang tidak memikirkan Iagi dampak buruk terhadap lingkungan," sambung Nurdin.


Mengakhiri ceritanya, Nurdin menyebutkan keluhannya yang seolah-olah tidak mendapatkan tanggapan secara serius dari pemerintah. "Kami  sudah  mengadu  dan  tidak  pernah ada  tangapan  sekalipun," pungkas Kadus Adil Makmur I ini. [] L24-002
Diberdayakan oleh Blogger.