Pemilu 2019 : Pengantar Galon Lolos DPRD & Caleg Wafat Banyak Dicoblos

Lentera24.com | SULTRA -- Serba-serbi Pemilu 2019 masih ramai untuk dikisahkan. Gugurnya para pahlawan demokrasi hingga laporan kecurangan selalu menjadi tajuk utama. Namun, dua kisah ini semestinya juga tak luput dari perhatian. 

Foto : Kumparan
Adalah agung Darma, pengantar galon air mineral dari Kabupaten Muna Barat, Sulawesi Tenggara (Sultra), yang senang bukan main ketika terpilih menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muna Barat. Agung mampu melampaui perolehan suara dari Ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) Partai Demokrat Muna Barat, La Ode Abdul Gamal. 

"Saya dapat 734 suara, nomor urut 2. Sedangkan Pak La Ode Abdul Gamal, dapat 520 suara, nomor urut 1," kata Agung saat dihubungi kendarinesia (media partner kumparan), Kamis (25/4).

Semua caleg di Muna Barat adalah pemula. Sebab, daerah itu baru kali pertama ikut dalam Pileg.

 "Karena di Pemilu ini juga, untuk DPRD adalah yang pertama di Muna Barat, belum ada incumbent makanya saya beranikan diri," tuturnya. 

Agung tak pernah memiliki latar belakang politik. Sehari-hari, pria 28 tahun itu sibuk berwirausaha: mengurus usaha galon kecil-kecilan miliknya di Desa Guali, Kecamatan Kusambi. Agung juga merangkap sebagai pemilik sekaligus pengantar galon karena tak mempekerjakan karyawan.

Meski demikian, Agung tetap memberanikan diri. Lewat Partai Demokrat untuk Dapil I, Agung membulatkan niatnya. 

"Perasaan saya senang, karena istilahnya tidak disangka-sangka. Tidak terpikir atau bahkan bermimpi untuk terpilih, padahal hanya adu nasib," katanya.

Usai ditetapkan sebagai Daftar Calon Tetap (DCT) KPU Muna Barat, Agung langsung 'mengiklankan' diri melalui jaringan langganan galon miliknya. Dari rumah ke rumah, sembari menawarkan galon, Agung memaparkan visi-misinya dan mengaku tak pernah mengumbar janji. 

"Strateginya, saya dari jaringan galon dan mertua saya yang pengusaha batu merah juga ada jaringan, jadi ada dua jaringan berbeda. Jadi, saya sosialisasi ke yang antar galon, rata-rata langganan galon saya memberi dukungan ikhlas, tanpa diberi uang, karena sebagian merupakan keluarga," imbuhnya.

"Saya tidak fokus di galon sejak sosialisasi, karena saya masuk desa ke desa sebelum penetapan nama caleg. Saya sudah bangun bahasa ke langganan saya, saya mau maju DPRD," katanya.

Caleg yang sudah wafat justru paling banyak dicoblos

Yang tak kalah menjadi perhatian selain Agung adalah Miftahul Ulum. Calon legislator DPRD Jawa Timur dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di dapil Jember dan Lumajang itu mendapat perolehan 21 ribu suara dari hasil rekapitulasi sementara. Padahal, pria yang akrab disapa Cak Ulum itu, sudah meninggal dunia pada 21 November 2018. 

Bahkan, Sekretaris Dewan Perwakilan Cabang (DPC) PKB Jember, Ayub Junaidi, mengatakan, berdasarkan rekapitulasi internal, perolehan suara Ulum unggul jauh dari caleg-caleg separtainya. 

“Berdasarkan real count internal kami, memang suara almarhum tertinggi. Ini suatu berkah tersendiri kepada partai. Sumbangan suara almarhum sangat besar dan sangat signifikan untuk bisa mengangkat caleg-caleg yang ada di bawahnya,” kata Ayub dilansir beritajatim.com (media partner kumparan).

Sumbangan suara Cak Ulum untuk partai membuat peluang dua caleg yang mengekor di bawah posisi Ulum terbuka lebar. Dua caleg itu adalah Umi Zahrok yang mendapat 13.722 suara dan Mohammad Rosul yang memperoleh 11.385 suara untuk di Kabupaten Jember saja.

“Ini memang sudah kami rencanakan sejak awal. Kami tidak mau nama almarhum Cak Ulum dicoret. Kita rugi. Pertama, kami tidak bisa mengganti dengan caleg baru. Kedua, namanya dicoret. Ini yang kami tidak mau. Biarlah, kami berikan penghormatan,” kata Ayub.

“Siapapun yang merawat dengan baik, dengan sendirinya akan memanen dengan kebaikan. Contohnya sekarang, walau Cak Ulum meninggal, orang tetap memilih. Sahabat saya ini, Cak Ulum, menjadi contoh bagi para pelaku demokrasi. Dia harus jadi teladan,” katanya. 

Tatin Indrayani, istri Ulum, mengaku terkejut mengetahui suaminya dipilih ribuan orang. Menurutnya, selama ini, suaminya itu memang kerap melakukan pendekatan ke masyarakat dengan gaya kekeluargaan sembari mendengar keluhan. 

“Memang sudah banyak info dari teman-teman pascapemilu kemarin, antusiasme masyarakat memilih beliau. Ini mengagetkan dan membuat saya terharu. Beliau sudah tidak ada, tapi masih mendapat amanah dari rakyat,” kata Tatin.

“Mungkin inilah jawaban dari totalitas beliau selama jadi kader PKB. Beliau benar-benar serius menjadi politisi, walau sangat sederhana. Ternyata itu yang ada di hati masyarakat. Saya sangat terharu. Kami ucapkan terima kasih yang banyak kepada masyarakat,” sambungnya.

Setelah koma beberapa hari akibat ditabrak pengendara sepeda motor di dekat rumahnya pada 30 Maret 2018, Ulum bahkan kembali bekerja dan mengunjungi kader-kader PKB untuk berkoordinasi. Namun, beberapa bulan setelahnya, Ulum kembali dilarikan ke rumah sakit karena trauma tempurung kepala dan mengembuskan nafas terakhir. 

“Beliau masih menyempatkan waktu berkeliling kecamatan menguatkan kader-kader PKB. Beliau turun ke komunitas tertentu dengan membawa kader caleg PKB tingkat kabupaten untuk bersinergi,” ungkap Tatin. [] KUMPARAN
Diberdayakan oleh Blogger.