Kecoak Juga Punya Tendangan Karate

Lentera24.com | LINGKUNGAN -- Terlihat lemah, ternyata kecoak [Periplaneta americana] memiliki tendangan karate yang melindunginya dari serangan predator. Tawon zamrud [Ampulex compressa], sang pemangsa, harus hati-hati bila ingin menaklukkan serangga yang suka berkeliaran di saluran air ini.

Foto : Mongabay.co.id
Dalam penelitian berjudul “How Not to Be Turned into a Zombie” terbitan Jurnal Brain, Behavior and Evolution, sang peneliti Kenneth C. Catania, profesor dari Department of Biological Sciences, Vanderbilt University, Nashville, USA, melakukan 55 kali percobaan berupa pertarungan antara kecoak dan tawon zamrud. Riset ini untuk menguak bagaimana kecoak mempertahankan diri dari sengatan musuh.

Rekaman video pada 1.000 frame per detik itu menunjukkan, ada kecoak yang pasrah diserang. Tapi, bagi individu yang membela diri, ia akan menaikkan posisi kakinya, memasang kuda-kuda, dan sejurus kemudian kaki belakangnya melayangkan sepakan terukur.

“Tendangan maut itu mengarah ke kepala tawon zamrud, mengirimnya ke dinding ruang pembuatan film,” tulis Catania, sebagaimana dikutip dari Live Science.

Menurut penelitian ini, kekuatan tersebut berasal dari lilitan penyimpan energi sebelum kakinya melepaskan tendangan, mirip ayunan tongkat baseball. Meskipun tendangan kecoak itu tidak mematikan dan tidak selalu mencegah tawon zamrud menyerang, namun sekitar 63 persen kecoak dewasa yang melakukan tendangan untuk bertahan hidup, menghindari dirinya dari zombifikasi.

“Kecoak muda tidak begitu beruntung, apakah menendang atau tidak, hasil akhirnya selalu menjadi budak [zombie] tawon,” lanjut Catania.

Perilaku kecoak, dengan asumsi posisinya menghadapi serangan, tidak jauh berbeda dari strategi pertahanan manusia yang menjadi korban zombie sebagaimana dalam adegan film horor.

Sikap yang tidak biasa itu memungkinkan kecoak memindahkan antena ke arah tawon sehingga dapat melacak asal serangan lalu mengarahkan tendangan ke kepala dan tubuh tawon. Ini mirip cara manusia mengikuti gerakan zombie, sebelum menyerang.

“Hal yang mengingatkan pada apa yang akan dilakukan dalam karakter film ketika zombie mengejar manusia,” tambah Catania.

Zombie

Bagaimana nasib kecoak yang menjadi mangsa tawon? Setelah terkenan sengatan, akan mati berjalan. Hanya saja zombifikasi dalam skenario tawon-kecoak ini berbeda dari yang diderita zombie manusia dalam budaya pop.

“Kondisi mayat hidup” manusia digambarkan menyebar melalui gigitan. Sementara tawon yang memangsa kecoak, mengubahnya menjadi zombie dengan sengatan ke otak.

Hanya saja, serangan tawon permata zamrud [emerald jewel wasp, lengkapnya] tersebut, tidak membuat kecoak mati di fase awal. Sengatan pertama hanya melumpuhkan kaki. Sengatan kedua, otak yang menghasilkan neurotoksin dilumpuhkan, sekaligus membajak sistem saraf yang memungkinkan tawon mengendalikan tubuh dan perilaku kecoak, berdasarkan hasil penelitian ini.

Setelah menjadi zombie, tawon akan memotong ujung antena kecoak dan meminum darahnya. Lalu, menarik antena tersisa di tubuh kecoak itu sembari mengarahkannya ke sarang [tawon]. Selanjutnya, di dalam sarangnya di tanah, ia meletakkan sebutir telur di tubuh kecoak. Setelah telur menetas, tawon baru itu akan memakan isi perut kecoak [sebagai inangnya yang masih hidup], sekaligus mencari jalan keluar melalui saluran pencernaan kecoak.

Berdasarkan riset tersebut, satu-satunya harapan seekor kecoak untuk hidup adalah menghindari sengatan pertama tawon, senjata andalan yang digunakan untuk memburu mangsa.

Identik penyakit

Kecoak memang identik dengan pembawa penyakit. Dalam Jurnal Biologi, Volume 5 No 2, April 2016, Halaman 1-10 dijelaskan, kecoak merupakan salah satu vektor di lingkungan rumah yang dapat menularkan penyakit kepada manusia, secara mekanis maupun biologis.

Publikasi ilmiah terbitan Departemen Biologi, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro, ini mengungkapkan kecoak dapat mengkontaminasi makanan dengan membawa agen berbagai penyakit seperti diare, demam typoid, disentri, hepatitis A, polio, dan kolera. Pada kotorannya juga terdapat zat-zat karsinogenik, jika makanan manusia terkontaminasi, dapat membahayakan kesehatan.

Di dunia, terdapat sekitar 3.500 jenis kecoak. Spesies yang biasa hidup di dalam rumah adalah Periplaneta americana, sebagaimana dalam penelitian, dan Blattela germanica.

Kekhawatiran terhadap kecoak adalah serangga ini memiliki daya reproduksi tinggi yaitu menghasilkan telur 30.000-40.000 per tahun dengan siklus hidup singkat [Barbara, 2005].

“Pengendalian kecoak menggunakan insektisida berlebihan dapat menimbulkan residu dan resistensi. Pengendalian alternatif, berupa penggunaan agen hayati bakteri entomopatogen yang ramah lingkungan patut dicoba,” ungkap laporan yang ditulis bersama oleh Monaliza Sekar Rini, Rully Rahadian, Mochammad Hadi, dan Deni Zulfiana. [] MONGABAY.CO.ID
Diberdayakan oleh Blogger.