Anak TK Juga Terkena Imbas Lalat Dan Aroma Busuk Dari Usaha Ternak

Lentera24.com | ACEH TAMIANG --  Dampak dari adanya usaha ternak ayam potong yang menyebabkan timbulnya aroma tak sedap yang sangat menyengat dan munculnya ribuan lalat dipermukiman warga tidak dapat dipandang enteng.


Bahkan, seisi bangunan sekolah Taman Kanak-Kanak (TK) yang letaknya tidak jauh dari lokasi kandang ayam itu juga terkena imbas serangan lalat dan aroma tak sedap yang kerap menusuk hidung tersebut.

Dikonfirmasi Lentera24, seorang guru TK Mekar Harapan membenarkan kehilangan rasa kenyamanan, rasa itu juga dirasakan oleh segenap Anak anak TK yang dia didik.

"Sudah terganggu sejak sekitar dua tahun lalu pak. Kasihan kalau lihat anak anak dirubungi laler, apalagi kalau pas sedang makan, karena anak anak kan setiap hari membawa bekal makanan," tegas guru itu, Senin (1/4)

Pihak pengelola atau pengusaha ternak ayam harus memiliki kepekaan serta perasaan terhadap dampak yang diakibatkan oleh bisnisnya, terutama bau menyengat limbah kotoran ayam yang menyebar masuk keseluruh ruang rumah warga yang dibawa melalui udara. Bahkan dari limbah kotoran ternak tersebut juga telah terproduksi ribuan serangga yang dikenal bernama lalat sebagai hewan sang pembawa penyakit.


Kepala Dusun Air Mancur, Desa Alur Selebu Kecamatan Kejuruan Muda, H. Misno saat dikonfirmasi Lentera24 mengaku kalau warganya tidak ada yang merasa terganggu dengan bau busuk kotoran ayam maupun oleh ribuan lalat yang sumber asalnya dari kandang ternak yang berlokasi diseputaran permukiman warga, terkecuali hanya seorang warga yang rumahnya paling dekat dengan kandang ayam tersebut.

Setelah Lentera24 menelusuri dari berbagai sumber, maka diketahui bahwa Kepala Dusun Air Mancur, H. Misno ternyata pemilik Usaha ternak ayam tersebut. Dari itu dapat disimpulkan, sebenarnya warga setempat bukan tidak merasa terganggu dengan bau menyengat serta ribuan lalat. Hanya saja rasa takut atau segan untuk memprotesnya.

Mungkin hanya Kepala Dusunnya saja yang tidak memiliki kepekaan perasaan atau memang dikarenakan sikap egonya yang berada dilevel tingkat tinggi. Sehingga memandang warga alias rakyat hanya sebagai insan yang tidak pantas untuk menikmati hidup tanpa lalat dan bau limbah tahi ayam.

Dapat dipastikan, sesungguhnya  H.Misno juga bisa merasakan beban rakyatnya. Misno juga memahami adanya penderitaan warganya.

"Bagaimana kalau usaha ternak ini milik orang lain dan hal yang kami rasakan ini terkena kepadanya, setiap saat mencium bau busuk. Ditambah lagi makanan, perabotan dan piring serta dirinya mendapat serangan lalat. Makan diganggu lalat, tidur siang susah karena wajah dan badan di kerubungi lalat," beber warga yang enggan namanya ditulis.

Secara naluri serta secara tingkat kewajaran menurut akal sehat, mana ada manusia yang merasa nyaman dengan bau busuk menyengat yang ditambah lagi dengan serangan lalat yang menyerbu seisi rumah, ungkap warga tersebut. [] L24-002
Diberdayakan oleh Blogger.