Gara-Gara Usaha Ternak Ayam, Warga Air Mancur Diresahkan Oleh Bau Busuk Dan Lalat

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Sejumlah warga Dusun Air Mancur, Desa Alur Selebu, Kecamatan Kejuruan Muda, merasa tidak nyaman dan kehidupannya sangat terganggu sejak kehadiran bangunan kandang ayam potong. Pasalnya sejak pengusaha ayam mendirikan usaha ternak ayam potong disekitar rumahnya, kehidupan mereka merasa terganggu oleh dua hal, yakni lalat dan bau.

Foto: ilustrasi (sumber; internet)
Aroma tak sedap serta kehadiran ribuan lalat itu sangat meresahkan warga sekitar, dapat dipastikan, munculnya kedua persoalan itu sangat erat hubungannya oleh adanya limbah yang dihasilkan oleh usaha ternak ayam potong yang dibangun tidak jauh dari permukiman warga.

Bahkan dapat dipastikan juga, aroma busuk yang sangat menyengat hidung dan lalat yang tetap eksis mengusik kenyamanan warga itu sangat berpotensi memunculkan masalah baru yang berhubungan dengan kesehatan.

"Kami sebagai rakyat jelata, tidak bisa berbuat banyak, kecuali hanya berpasrah diri oleh keadaan yang ada. Padahal usaha milik pak Haji ini sangat membuat tidak nyaman bagi kami," ujar seorang warga Dusun Air Mancur kepada Lentera24, Rabu (27/3) petang.

Dikatakannya, mayoritas warga Dusun Air Mancur merupakan pekerja keras dengan profesi sebagai petani dan pekebun. Pada umumnya, setiap harinya pada jam istirahat "siang", warga yang ingin melepaskan rasa lelah setelah bekerja, merasa terganggu dengan ribuan lalat yang acapkali mengerumuni tubuhnya.

" Kami ini laksana bangkai hidup. Bangkai yang masih memiliki nyawa. Setiap hari tubuh kita tetap dilerubungi lalat terus. Mau makan saja harus beramai-ramai mengunci diri didalam kamar," imbuh warga yang namanya enggan untuk disebutkan.

Menurut warga, sebenarnya rasa kesabaran penduduk yang bermukim dilingkungan kandang ayam milik orang top di Dusun Air Mancur itu juga ada batasnya. Namun warga setempat juga banyak yang merasa keder dengan sikap dan watak pemilik usaha yang memproduksi limbah berbahaya terhadap kesehatan itu tersebut.

"Kotoran ayam itu kan limbah, dan lalat itu juga muncul karena adanya limbah tersebut. Jadi kedua-duanya itu (kotoran ayam dan lalat-red) merupakan produk yang dihasilkan oleh usaha ternak ayam potong itu," sebutnya.

Yang merasa membuat warga semakin kesal adalah, setiap kali warga menyampaikan keluhannya kepada pemilik usaha ternak ayam potong itu, malah mendapatkan perlakuan serta jawaban yang kurang etis dari pemilik usaha yang notabene sebagai pemimpin Dusun.

"Pemiliknya memiliki perangai yang kurang mengenakkan bagi kami yang menyampaikan keluhan kami atas dampak yang ditimbulkan oleh usaha dia," imbuh warga.

Lentera24 sudah turun langsung melakukan pengumpulan data awal untuk kepentingan pemberitaan. Meskipun demikian, lentera24 juga akan terus berupaya melakukan terobosan-terobosan lain, termasuk untuk melakukan konfirmasi kepada pemilik usaha ternak ayam, kepada perangkat Dusun, perangkat Desa, Camat serta kepada intansi pemerintah yang berkaitan.

Warga disana mengharapkan agar usaha ternak ayam potong yang berada sangat dekat dengan rumah milik warga tersebut segera ditutup. Upaya ini diharapkan agar pemerintah mengambil tindakan tegas demi kepentingan umum bagi warga disana, terutama kepentingan kesehatan, kenyamanan, sosial dan kedamaian serta keamanan.

"Hanya satu keinginan kami, kembalikan kampung kami seperti yang dulu, kampung tanpa pencemaran limbah, tanpa aroma busuk dan tanpa lalat. Kami butuh kenyamanan hidup didalam rumah kami sendiri, dan yang paling terakhir adalah, kami ingin usaha ternak ayam itu harus ditutup," harap warga. [] L24-002

Diberdayakan oleh Blogger.