Anak Muda Tuntut Wisata Ramah Lingkungan

Lentera24.com | JAKARTA -- Pariwisata Indonesia makin meningkat dan kini menjadi penyumbang devisa terbesar kedua. 

Foto : Sindonews
Namun, bersamaan dengan itu, tuntutan agar industri pariwisata yang ramah lingkungan juga makin meningkat. Tahun lalu pariwisata Indonesia menyumbang total nilai devisa sebesar USD16,1 miliar tahun. 

Sementara pada tahun ini, target yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia adalah menarik 20 juta kunjungan wisatawan mancanegara (wisman), dengan nilai devisa diproyeksikan mencapai USD17,6 miliar. 

Pertumbuhan sektor pariwisata pun meningkat 22% atau tiga kali lipat dari pasar. Meski begitu, bertumbuh saja tidak cukup. "Tumbuh lebih tinggi dari pasar dan berkelanjutan itu kunci utamanya," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam Round Table Discussion dengan tema " Sustainable Tourism " yang diadakan KORAN SINDO dan Sindonews di Auditorium Gedung SINDO, Jumat (22/3) lalu. 

Menurut Arief, investasi yang dilakukan dengan menjaga keberlanjutan sektor pariwisata dapat terjadi dalam jangka pendek dan jangka panjang. Karena itulah, tren pariwisata saat ini adalah berbasis ramah lingkungan. 

"Semakin dilestarikan akan semakin menyejahterakan," katanya. Tuntutan pada pariwisata yang ramah lingkungan juga datang dari generasi milenial. Generasi ini adalah konsumen utama pariwisata Indonesia dengan persentase sebesar 51% dari 57% populasi generasi milenial di Asia. 

"Mereka sangat kritis dengan sampah yang ada di lokasi wisata," kata Arief. Untuk menjawab tuntutan tersebut, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) pun telah membuat konsep 3P, yaitu people, planet, prosperity, and management. 

People mengacu pelestarian budaya bagi masyarakat dan pengunjung. Planet adalah pelestarian tempat-tempat wisata demi keberlangsungan bumi. Sementara prosperity adalah pemanfaatan ekonomi untuk masyarakat lokal. 

Adapun pendekatan management adalah tata kelola destinasi pariwisata berkelanjutan. Implementasi 3P+ Management itu pun akan diwujudkan dengan menggelar Indonesia Sustainable Tourism Awards (ISTA). 

Tujuannya adalah memacu daerah untuk menjadikan pariwisatanya dapat bertahan. "Kami undang destinasi-destinasi untuk mengikuti ISTA yang jumlah hadiahnya mencapai Rp1 miliar. Nantinya pemenang diumumkan pada 27 September mendatang di Hari Pariwisata Dunia," tutur Arief. 

Sementara itu, travel influencer Gemala Hanafiah yang ikut menjadi pembicara dalam diskusi juga mengapresiasi langkah Kemenpar yang menggandeng orang-orang berpengaruh (influencer) lewat program Trip of Wonders . 

"Ini salah satu cara menarik untuk mempromosikan pariwisata berkelanjutan kepada masyarakat, terutama kaum milenial. Karena kaum milenial sangat kritis terhadap sampah di tempat wisata," ucapnya. 

Di sisi lain, Menpar juga mengatakan tantangan terbesar dalam mewujudkan pariwisata ramah lingkungan adalah banyak yang menginginkan cepat mendapat uang tapi melupakan keberlanjutan dari programnya. 

"Saya berikan contoh, terumbu karang dihancurkan, dijual untuk akuarium. Itu memang mendatangkan uang tapi tidak berkelanjutan. Uang yang didapatkan juga jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan satu daerah yang mengembangkan terumbu karangnya dengan baik," katanya. [] SINDONEWS
Diberdayakan oleh Blogger.