Polres Lucuti Pistol Adc Bupati Aceh Barat

Lentera24.com | ACEH TENGAH -- Polres Aceh Barat sudah melucuti (menarik-red) senjata api (senpi) jenis revolver yang selama ini digunakan Aipda AD, ajudan atau aide-de-camp (Adc) Bupati Ramli MS. Langkah itu dilakukan karena izin penggunaan pistol anggota pengamanan tertutup (pamtup) Bupati tersebut sudah berakhir serta ada juga kaitannya dengan dugaan pemukulan dan mengarahkan senjata ke warga oleh AD saat massa menghadang Bupati Ramli di Kantor Camat Arongan Lambalek, Aceh Barat, Rabu (20/2) pekan lalu.


Foto : Serambinews
Kapolres Aceh Barat, AKBP Raden Bobby Aria Prakasa SIK, kepada wartawan, kemarin, menjelaskan, saat ini ada dua kasus yang sedang didalami atau diperiksa pihaknya yaitu dugaan pemukulan dan mengerahkan senpi dengan terlapor anggota pamtup Bupati serta kasus yang dilaporkan camat dengan terlapor seorang warga Desa Arongan, Kecamatan Arongan Lambalek. “Kedua kasus itu masih kita dalami,” ujarnya.

Untuk anggota pamtup, lanjut Kapolres, terkait dugaan tindakan pidana (dugaan memukul warga), yang bersangkutan diperiksa oleh Satreskrim Polres Aceh Barat dan Polsek Arongan Lambalek. Sementara untuk dugaan tindakan melanggar kode etik kepolisian (mengarahkan senjata ke warga), AD diperiksa oleh provost. “Provost sudah memeriksa Aipda AD terkait laporan warga. Karena senpi yang digunakan Aipda AD sudah berakhir izinnya, provost juga menarik senpi tersebut dari bersangkutan,” ungkap Kapolres.

Dikatakan, selama ini anggota pamtup Bupati Ramli ada dua anggota dari Polres Aceh Barat yaitu Aipda AD dan seorang personel lainnya. “Meski seorang anggota ditarik senpinya, namun sejauh ini pengamanan tertutup terhadap Bupati tetap berjalan lancar dan tidak ada masalah,” tandas AKBP Raden Bobby Aria Prakasa.

Terkait pengusutan kasus yang dilaporkan Camat Arongan Lambalek dengan terlapor seorang warga Arongan, menurut Kapolres, sejauh ini pihaknya sudah memeriksa pelapor dan terlapor. “Ke depan kita akan periksa pihak-pihak lain yang berkaitan dengan kasus tersebut,” katanya.

Untuk kedua kasus itu, tambah Kapolres, sejauh ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka. Namun, ia memastikan pihaknya akan profesional dalam memeriksa warga atau anggota polisi. “Artinya kedua kasus yang terjadi di Arongan Lambalek akan kami usut tuntas,” janji Kapolres Aceh Barat.

Dampingi warga
Secara terpisah, Staf Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Banda Aceh Pos Meulaboh, Riki Yuniagara SH, kemarin mengatakan, sejumlah warga dari Arongan sudah meminta bantuan hukum kepada pihaknya. “Kami sudah minta keterangan dari warga dan memastikan kronologi kejadian tersebut,” katanya.

Untuk kasus yang dilaporkan camat ke Polres Aceh Barat, ia menilai tidak tepat. Apalagi, warga tidak berbuat kriminal tapi hanya ingin menyampaikan perihal desa mereka ke Bupati. Jadi, Riki berharap kasus tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan di kecamatan. Sementara untuk kasus yang dilaporkan warga terkait dugaan pemukulan oleh Adc Bupati, ia berharap pemeriksaan dilakukan secara profesional, apalagi korbannya adalah warga yang seharusnya mendapat perlindungan dari pihak keamanan. “Kami minta polisi mengusut tuntas dugaan pemukulan warga oleh oknum pamtup tersebut,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, serombongan warga yang berjumlah sekitar 30 orang menghadang Bupati Aceh Barat, H Ramli MS di halaman Kantor Camat Arongan Lambalek sesaat setelah membuka Musrenbang di kecamatan tersebut, Rabu (20/2) sekitar pukul 10.20 WIB. Menurut informasi, massa dari Desa Arongan, Kecamatan Arongan Lambalek datang untuk menemui bupati guna menyampaikan persoalan desa yang kini belum ada penuntasan oleh Pemkab Aceh Barat.

Merespons penghadangan mendadak itu, seorang Adc (aide-de-camp/ajudan) bupati dari unsur polisi berpangkat Aipda sempat mencabut pistol dan disebut-sebut sempat mengarahkan ke warga. Selain itu juga dilaporkan terjadi pemukulan terhadap tiga warga oleh oknum polisi berpakaian bebas tersebut.

Versi lain menyebutkan, ajudan mengeluarkan pistol karena massa semakin mendekat dan sempat terjadi dorong-dorangan sehingga dilakukan antisipasi demi keselamatan bupati. Dalam peristiwa dadakan itu sejumlah warga dilaporkan sempat terkena tonjokan dan tendangan dari sang ajudan.

Ekses dari peristiwa itu, tiga warga Desa Arongan yang mengaku jadi korban pemukulan oleh ajudan bupati langsung membuat laporan resmi ke Polsek Arongan Lambalek. Warga tersebut juga melaporkan ajudan bupati yang mengeluarkan pistol dan mengacungkan ke warga.

Tiga warga itu adalah Dedi Gunawan, Herman dan Safrizal. Sehari kemudian atau Kamis (21/2), giliran Camat Arongan Lambalek, Drs Sabirin, yang membuat laporan ke polisi. Camat Sabirin melaporkan kasus amuk massa di kantor camat setempat karena hal itu membuat musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) terganggu. Lagi pula, aksi tersebut tidak melalui proses perizinan. [] SERAMBINEWS



Diberdayakan oleh Blogger.