Cohen : Trump Minta Saya Berbohong

Lentera24.com | WASHINGTON -- Mantan pengacara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Michael Cohen mengaku diminta berbohong oleh Trump terkait kesepakatan properti di Moskow saat kampanye pemilihan presiden 2016 lalu. Hal ini diungkapkannya ketika memberikan kesaksian di hadapan anggota Kongres AS.

Foto : Republika.co.id
Dalam kesaksiannya, Cohen mengaku Trump secara diam-diam mengarahkan rencana pembangunan gedung walau dia membantah sedang melakukan bisnis di Rusia.

Selain itu, Cohen juga mengklaim Trump mengetahui soal bocoran surat-surat elektronik petingi Partai Demokrat yang diretas. Cohen menyebut Trump sebagai seorang yang rasis, penipu, dan curang.

"Pada saat bersaman, saya secara aktif bernegosiasi di Rusia untuknya. Dia hanya menatap mata saya dan berkata, tidak ada bisnis di Rusia, kemudian dia berbohong ke rakyat AS dengan mengatakan itu. Melalui caranya, dia menyuruh saya berbohong. Dia ingin saya berbohong," ujar Cohen dilansir BBC, Kamis (28/2).

Terlepas dari pengakuan itu, Cohen telah diputus bersalah karena berbohong kepada Kongres ketika bersaksi pada 2017. Saat itu dia mengaku upaya pembangunan gedung Trump di Moskow telah terhenti pada Januari 2016.

Belakangan, Cohen menyatakan bahwa perundingan tersebut berlanjut sampai Juni 2016 di tengah kampanye pemilihan presiden AS. Meski pada akhirnya, proyek real estate tersebut tidak diteruskan.

Pada Rabu (27/2), Cohen meminta maaf atas kesaksian bohong yang sebelumnya disampaikan kepada Kongres AS. Dia mengklaim keterangannya saat itu telah ditinjau dan diedit oleh para pengacara Trump.

Penasihat Presiden Trump, Jay Sekulow merilis pernyataan setelah Cohen memberikan kesasksian. Menurutnya, kesaksian Cohen terkait pengacara presiden mengubah pernyataannya kepada Kongres adalah salah.

"Kesaksian Michael Cohen hari ini bahwa para pengacara presiden mengedit atau mengubah pernyataannya kepada Kongres mengenai perubahan durasi perundingan Menara Trump di Moskow sepenuhnya salah," ujar Sekulow.

Kebocoran Email

Cohen menyebut bahwa ia berada di kantor Trump pada Juli 2016 ketika Roger Stone, penasihat politik  memanggil Trump. Cohen mengatakan Stone menelpon Trump untuk memberitahu bahwa dia telah berbicara dengan pendiri Wikileaks, Julian Assange, yang menginformasikan bahwa akan ada "penggelontoran besar-besaran" dalam beberapa hari mendatang dan hal itu akan mempermalukan Hillary Clinton.

Menurut Cohen, Trump menanggapi informasi itu dengan ucapan "Wah bagus sekali".

Trump membantah mengetahui bahwa Wikileaks akan mengungkap surat elektronik Komite Nasional Partai Demokrat pada saat kampanye pemilu. AS menuding isi surat elektronik itu diretas oleh intelijen Rusia, sehingga menyebabkan perseteruan di antara petinggi Demokrat.

Dalam surat elektronik itu terungkap bahwa petinggi partai lebih memilih Clinton maju sebagai kandidat presiden dari Partai Demokrat, ketimbang pesaingnya, Bernie Sanders. [] REPUBLIKA.CO.ID



Diberdayakan oleh Blogger.