Tuntong Laut Ini Mati Terperangkap Bubu Udang Nelayan

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Sejumlah warga Desa Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, mendesak Pemerintah untuk melakukan upaya penyelamatan satwa langka yang hidup diperairan kawasan hutan mangrove didaerahnya.


Hal itu disebabkan oleh adanya ditemukan kembali bangkai seekor tuntong laut yang mati mengenaskan dengan posisi berada didalam bubu penangkap udang. Tuntong laut berjenis kelamin betina dengan ukuran panjang karapas 43 sentimeter dan lebar karapas 41 sentimeter serta bobot 14 kilogram itu ditemukan oleh Martunis penduduk Desa Pusong Kapal sekaligus sebagai anggota kelompok sadar wisata (Darwis).

Diceritakan, bangkai tuntong tersebut ditemukan pada Minggu 20/1) dengan posisi mengapung disungai Desa Pusong Kapal yang letaknya tidak jauh dari Pos TNI AL, Ujar Martunis.

Sementara itu, ketua kelompok Sadar wisata (pokdarwis) Desa Pusong Kapal, Syafrul mengaku sangat kesal terhadap nelayan yang belum juga memiliki kepedulian terhadap kelestarian satwa dilindungi itu.

Para nelayan udang galah dan kepiting yang menggunakan alat tangkap bubu sudah pernah diperingati yang disampaikan langsung secara lisan oleh ketua kelompok darwis Desa Pusong Kapal, Syafrul.

"Saya sudah temui langsung mereka agar kalau membuat bubu udang dan kepiting, injapnya jangan terlalu lebar, sebab tuntong laut dewasa bisa masuk kedalam bubu jebakan mereka," ujar Safrul.

Bahkan lanjut Safrul, kebanyakan dari para nelayan dimaksud ada yang melihat dan mengangkat bubu yang dipasangnya setelah 3 atau 4 hari pasca pemasangan dilakukan.


Ayah 2 anak ini juga menyebutkan tentang kegiatan kelompoknya dalam upaya penyelamatan dan pelestarian spesies Tuntong Laut (Batagur Borneoensis) yang dilakukan warga tersebut.

"Tujuan kami adalah demi mempertahankan keberadaan Tuntong dari kepunahan. Populasi tuntong laut ini secara perlahan terkikis mati akibat terperangkap kedalam alat penangkap kepiting dan udang milik nelayan," ungkap Safrul.

Diimbuhkan, nyaris kepunahan satwa langka yang hidup dikawasan pesisir Aceh Tamiang, tepatnya dipantai selat Malaka dimaksud disebabkan oleh adanya jebakan (bubu), perburuan telur yang dikomersilkan maupun dikonsumsi oleh sejumlah warga maupun oleh hewan yang hidup diseputaran pantai seperti babi hutan dan biawak.

"Bukan kami melarang masyarakat nelayan kepiting untuk mencari nafkah dengan menggunakan alat tangkap bubu, tetapi kami dari kelompok sadar wisata (Darwis) merasa sedih dengan terusiknya Tuntong Laut yang berujung dengan kematian," Ujar Ketua kelompok Darwis Desa Pusong Kapal, Syafrul yang didampingi Abdul Hakim warga Desa Sungai Kuruk Tiga saat dikonfirmasi Lentera24 dilokasi pantai pesisir ujung Tamiang, Selasa (22/1).

Darwis yang merupakan kelompok binaan Yayasan Satucita Lestari Indonesia (YSLI) yang peduli dengan keberadaan satwa liar yang dilindungi meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang untuk mencari solusi bagaimana cara agar bubu kepiting tersebut tidak membahayakan dan mengancam keselamatan dan keberlangsungan hidup Tuntong Laut dimaksud.

Upaya dan kerja keras para pelaku peduli lingkungan telah membawah keberhasilan. Kata Safrul, Yayasan SLI dalam melakukan kegiatan pelestarian terhadap Tuntong Laut tersebut juga  adanya kerjasama dengan PT Pertamina EP Field Rantau, Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh serta sejumlah pihak, termasuk kelompok Darwis Desa Pusong Kapal dan Desa Sungai Kuruk Tiga.

"Upaya dimaksud dilakukan sejak beberapa tahun lalu secara terus menerus, sehingga sampai saat ini  populasi Tuntong Laut dimaksud  kian bertambah mencapai ribuan individu.

Usaha ini lanjut Safrul, tentunya harus dilalui dengan cara yang tidak mudah dan memakan waktu yang sangat panjang, yakni kegiatan patroli penyelamatan telur Tuntong hingga proses penetasan dan pembesaran tukik Tuntong Laut sampai dengan pelepasliaran kehabitatnya. [] L24-002
Diberdayakan oleh Blogger.