Tanah Bergemuruh, Air Sumur Berbuih

Lentera24.com | ACEH UTARAM -- Meski semburan lumpur dari galian sumur bor di Desa Tanjong Meunye, Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara sudah berhenti total namun masyarakat di sekitar titik semburan masih trauma dan memilih tetap bertahan di pengungsian.


Foto : Serambinews
Informasi yang diterima Serambi, hingga Sabtu (26/1) setidaknya ada 11 kepala keluarga (KK) yang masih mengungsi di bawah tenda darurat di lapangan sepakbola yang berjarak sekitar 100 meter dari lokasi sumur bor yang menyemburkan lumpur.

Masyarakat mengaku masih trauma dengan kejadian semburan lumpur tersebut apalagi sehari setelah semburan, yaitu Kamis (24/1) air sumur warga sekitar mengeluarkan gelembung dan berbuih. Fenomena lainnya adalah terdengar suara bergemuruh dari dalam tanah.

Seperti diberitakan, sumur bor yang baru digali di kebun cabai dalam wilayah Desa Tanjong Meunye, Rabu (23/1) sekira pukul 09.30 WIB menyemburkan lumpur pekat setinggi 25 meter. Sumur bor tersebut digali sehari sebelumnya untuk kebutuhan tanaman cabai.

Dampak terjadinya fenomena tersebut, 11 KK di sekitar titik semburan mengungsi bahkan mereka belum berani kembali ke rumah meski sejak Rabu (23/1) sore semburan sudah berhenti total.

Air sumur yang mengeluarkan gelembung pasca-semburan lumpur masing-masing milik Nurlian Salim (70), Nadir (38), dan M Yusuf (51). Selain itu terdengar suara gemuruh di dalam tanah seputaran sumur bor.

Tim dari Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Badan Pengelolaan Migas Aceh (BPMA), Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Aceh Utara turun ke Desa Tanjong Meunye untuk melihat kondisi di lapangan termasuk menguji parameter air.

Menurut tim, semburan lumpur tersebut tidak berisiko atau berdampak terhadap lingkungan. Namun, warga diminta tak mendekati lokasi itu selama sepekan. “Semburan memang sudah berhenti tapi gelembung yang muncul dalam air sumur dan suara gemuruh dalam tanah membuat masyarakat trauma,” kata Keuchik Tanjong Meunye, Mawardi kepada Serambi, Sabtu (26/1).

Menurut Mawardi, fenomena alam seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya karena itu warga tidak mau berspekulasi sehingga lebih memilih bertahan di pengungsian. “Warga juga tak berani menggunakan air sumur yang mengeluarkan buih bergelembung,” ujar Keuchik Mawardi.

Mengutip hasil penelitian tim yang turun ke lokasi kejadian, semburan lumpur itu murni akibat shallow gas (gas dangkal/gas rawa). Hasil tes material mengindikasikan tidak mengandung gas alam atau minyak bumi sebagaimana yang diduga masyarakat. “Tetapi segala kemungkinan bisa saja terjadi, karenanya masyarakat diimbau tetap waspada,” kata Kepala Pelaksana (Kalak) BPBA, HT Ahmad Dadek.

Wakil Bupati (Wabup) Aceh Utara, Fauzi Yusuf, Jumat (25/1) turun ke Desa Tanjong Meunye, Kecamatan Tanah Jambo Aye menyerahkan bantuan masa panik untuk korban semburan lumpur yang masih mengungsi.

Bantuan yang diserahkan Wabup Aceh Utara berupa sembako, baju perempuan, kain sarung, sajadah, selimut, dan matras. Seusai menyerahkan bantuan, Wabup Fauzi meninjau langsung lokasi semburan lumpur. “Memang air sumur warga masih bergelembung dan terdengar suara gemuruh dari dalam tanah,” kata Fauzi.

Terkait fenomena itu, Fauzi Yusuf mengimbau warga supaya tetap waspada dan tidak mendekati lingkungan sumur bor yang menyemburkan lumpur. Begitu pun tentang suara bergemuruh, belum ada yang bisa memastikan sumbernya.

“Tim dari provinsi sudah turun untuk melakukan penelitian, kita tunggu saja hasilnya. Warga diminta bersabar,” demikian Wabup Aceh Utara. [] SERAMBINEWS


Diberdayakan oleh Blogger.