5 Fakta Longsor 1 Kampung di Sukabumi

Lentera24.com | SUKABUMI -- Mencekam, gelap. Saluran listrik terputus. Seperti itu kesaksian pendamping Desa Kecamatan Cisolok, Agus, menceritakan detik-detik usai tertimbunnya puluhan rumah di Kampung Cimapag Sigarehong, Senin, 31 Desember 2018.

Foto : Kumparan.com
Derasnya intensitas hujan menyebabkan tanah dari perbukitan longsor menuruni lereng dan menimbun kampung yang terletak di Desa Sirnaresmi, Cisolok, itu. Setelah peristiwa, hujan masih terus mengguyur Sukabumi hingga malam. 

30 rumah tertimbun

"Satu kampung itu saja (tertimbun). Paling hanya dua rumah yang tersisa," ujar Agus, Senin (31/12), dikutip dari Sukabumi Update. 


Kepala Pusat Data dan Informasi dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho sebelumnya melaporkan sebanyak 34 rumah tertimbun. Namun, laporan teranyar per Selasa (1/1), bencana tersebut dipastikan menimbun 30 rumah dengan rincian 32 kepala keluarga atau sekitar 101 jiwa terdampak. 

20 warga masih hilang

Hingga kini, tercatat 63 warga selamat dan 3 orang lainnya mengalami luka-luka. Mereka dirujuk ke Rumah Sakit Pelabuhan Ratu. Sementara 15 warga lainnya dinyatakan meninggal dunia. 


Para korban meninggal itu termasuk seorang bayi berusia 3 bulan yang sebelumnya berhasil dievakuasi dalam keadaan hidup pada Senin malam, akhirnya meninggal dunia pada Selasa (1/1) pagi. Sementara 20 orang lainnya masih tertimbun. 

Proses pencarian terhambat dan dihentikan pada Selasa (1/1) pukul 14.00 WIB lantaran terdapat empat kali longsor kecil susulan disertai hujan deras dan angin kencang. Material tanah yang gembur dan rapuh membahayakan tim SAR jika evakuasi dilanjutkan. 

"Pencarian dilanjutkan Rabu (2/1) pagi," imbuh Sutopo. 

Evakuasi manual

Sebelum evakuasi dihentikan sementara, tim penyelamat gabungan mencari para korban secara manual, yakni menyusuri suara permintaan tolong dari mereka yang tertimbun. 


Salah seorang warga selamat, Saripudin (42), mendengar suara-suara minta tolong sejak Senin malam. "Namun karena kondisi cuaca dan medan yang tidak memungkinkan jadi kami tidak bisa menolong," katanya. 

Saat longsor menerjang, Saripudin bersama anak dan istrinya berlari sekuat tenaga menjauhi petaka di depan mata. Tetapi tak demikian dengan beberapa anggota keluarganya yang hingga kini masih hilang.

"Saya sebetulnya mencari mertua, keponakan, dan kakak saya yang paling tua yang hingga kini belum ditemukan," tuturnya. 

Sulitnya akses 

Kendati dua alat berat dikerahkan untuk pencarian, tetapi, baru satu alat berat saja yang dapat masuk ke lokasi longsor. Hujan yang terus menerus mengguyur menyulitkan tim untuk melakukan evakuasi. Ditambah jalan menuju lokasi bencana sangat sempit. 


"Alat berat kami susah menjangkau lokasi, karena memang kondisi jalan yang kecil dengan tanjakan yang curam, namun kami akan mencoba secara manual saat hujan reda," ungkap Kepala Seksi Kedaruratan, BPBD Kabupaten Sukabumi, Eka Widiaman.

Cisolok masuk zona bahaya longsor sedang dan tinggi

Sutopo menegaskan Cisolok menjadi kawasan yang rawan jika intensitas hujan meninggi. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi turut memperkirakan terdapat 33 kecamatan di Kabupaten Sukabumi yang masuk kategori longsor menengah hingga tinggi pada Januari 2019. 
Menurut Sutopo, zona ini dapat terjadi longsor jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, tebing jalan atau lereng. [] KUMPARAN.COM
Diberdayakan oleh Blogger.