Said Didu Kembali Ungkit Proyek Esemka sebagai Mobil Nasional

Lentera24.com | JAKARTA -- Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII) periode 2009-2011, Said Didu, kembali mengungkit mobil Esemka yang pernah digadang-gadang sebagai mobil nasional oleh Jokowi saat masih menjabat Walikota Solo. Said Didu yang pernah menjadi peneliti dan perekayasa teknik di BPPT ini, mengaku pernah dibujuk untuk mengeluarkan rekomendasi untuk Esemka.

Foto : Kumparan.com
“Saat saya sebagai Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII), saya ‘dibujuk’ untuk rekomendasi mobil ini tapi saya tolak karena saya yakin ini kebohongan,” tulis Said melalui akun twitter pribadinya, @saididu, Senin (31/12).

Pernyataan Said Didu itu menanggapi cuitan akun @herisby70 yang menyatakan, “Catatan 2018. Apa kabarnya Mobil Esemka? Ini sudah mau ganti Tahun. Atau tunggu ganti Presiden baru?”

Dari telaahan kumparan, Heri Sebayang yang merupakan pemilik akun @herisby70, merupakan Ketua DPD Partai Demokrat Daerah Istimewa Yogyakarta. 

Said Didu yang juga merupakan mantan Sekretaris Kementerian BUMN, menilai tidak masuk akal ada yang bisa memproduksi mobil, tanpa industri logam dan rekayasa yang kuat. Proton yang bisa menjadi mobil nasional Malaysia, menurut dia sebenarnya adalah mobil Mitsubishi.

“Proton itu Mitsubishi. Semoga paham,” lanjut Said.

Sejumlah netizen pun mempersoalkan pengakuan Said Didu yang baru diungkap sekarang, terkait pernah ‘dibujuk’ untuk memberikan rekomendasi buat mobil Esemka dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum PII. 

Said menyatakan sikapnya dari dulu konsisten menolak Esemka dan hal itu sudah dinyatakannya sejak lama. “Dari dulu sayang ngomong. Cek twitter saya tahun itu,” ujarnya. Dia mengakui, untuk mewujudkan mobil nasional perlu komitmen pemerintah yang kuat. “Semua mendorong, tapi bukan dengan cara berbohong,” tandasnya.

Dalam perbincangan soal mobil nasional dengan kumparan beberapa waktu lalu, Said Didu menyatakan, “Untuk bisa dibilang milik Indonesia, kalau mobil itu paten dari chasis dan mesin-nya harus dipegang Indonesia,” kata dia.

Dia mengungkapkan, saat BJ Habibie masih menjabat Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BPPT, sempat muncul wacana untuk membeli paten mobil Holden buatan Australia. Karena dengan pemilikan paten itu, jelasnya, Indonesia bisa memiliki mobil nasional buatan dan milik Indonesia.

“Jadi paten ini penting. Kalau untuk mobil sedan, selain chasis dan mesin juga desainnya milik siapa? Kalau soal komponen itu bisa diproduksi dimana saja. Mobil-mobil Jepang itu komponennya buatan Indonesia, tapi tetap enggak bisa dibilang mobil buatan Indonesia,” papar mantan Anggota Dewan Komisaris PT Bukit Asam Tbk ini. [] KUMPARAN.COM

Diberdayakan oleh Blogger.