Tak Terima Dikritik, Formasi Atlet PORA Cabor Menembak Langsa Dirombak Sepihak

Lentera24.com | LANGSA -- Jelang keberangkatan para atlet PORA kota Langsa menuju arena tanding ke Jantho, Aceh Besar ternyata menuai masalah. Salah satu yang terungkap adalah polemik dan kisruh pada cabang olahraga menembak yang berujung dengan dicoretnya beberapa atlet "keker sasaran" itu jelang keberangkatan ke ajang pesta olahraga 4 tahunan itu.


Penyebabnya diduga demi mempertahankan eksistensi putri permata. Imbasnya seorang Atlet yang mengkritik pelatihnya yang juga ayah kandung seorang atlet putri kebanggaan, memilih merombak secara sepihak formasi Atlet yang akan diberangkatkan ke PORA 2018 di Jantho, Aceh Besar karena merasa dirinya pemegang kuasa mutlak pada cabor keker sasaran itu.

SM, salah satu atlet senior putri yang awalnya akan bermain di kelas Air Pistol dan Centre Fire ini harus menelan pil pahit karena terpaksa mengubur impiannya bertanding di ajang PORA Aceh yang dihelat tiap 4 tahun sekali ini, Selasa (13/11/2018).

Tercatat dalam sejarah PORA Aceh, SM pernah dua kali meraih medali emas di PORDA tahun 2006 dan PORA Bireun 2010, sementara pada PORA Aceh Timur 2014 ia tidak turun karena telah pindah ke Pulau Jawa, barulah sekembali ia ke Aceh maka ia pun masuk kembali menjadi Atlet yang akan diberangakatkan ke PORA Aceh Besar yang tinggal hitungan hari ini. 

Puncak kisruh berawal dari kritikan pedas yang dilontarkan SM kepada sang pelatih bernama Safruddin, yang saat ini diberi amanah sebagai pelatih menembak dan juga menguasai peralatan senjata yang akan digunakan atlet-atletnya. Safruddin sendiri dituding berhasil mendirikan dinasty keluarga di cabor tersebut, dimana putri permatanya serta putra kandungnya ikut serta sebagai anak didiknya, alhasil pilih kasih pun tak mampu tertutupi. 

“Dia sangat pilih kasih, banyak yang menduga takut anaknya tersaingi mungkin, karena nilai latihan kami tidak jauh berbeda. Terlihat sekali ketika saya dan anaknya yang harusnya kami satu team yaitu sama-sama dari Langsa berangkat Kejurnas minggu lalu di ajang PRA PON PAPUA di Kalsel. Sedihnya putri pelatih kan diberangkatkan gratis dari KONI Provinsi, sementara saya dan kawan saya yang Polwan harus bersusah payah mencari dana sendiri dan dibantu Walikota dan Ketua KONI, tapi malah saya enggak diizinkan bawa senjata latihan, mirisnya lagi anaknya boleh bawa senjata Langsa, tapi saya kenapa enggak boleh. Bahkan sampai di Banjarmasin pun, saya enggak boleh pakai senjata yang sama dengan anak pelatih meski bisa atur gelombang, hingga saya akhirnya pakai senjata atlet Banda Aceh,  tentu saya marah dan protes di Grup dan langsung saya dikeluarkan oleh Pelatih” terang SM kepada media, Selasa (13/11/2018). 

Diamnya pentolan Pengcab menembak yang terkenal di Kota Langsa yaitu T. Hidayat, Rubian Harja yang juga anggota DPRK Langsa serta politisi Sukri Asma juga sangat disayangkan, padahal mereka telah mengetahui permasalahan ini sejak awal. 

“Sebagai Atlet sejak 2006 seringkali kita harus berangkat Kejurnas dengan dana pribadi,meski di PORA meraih juara, itu bukan jaminan diberangkatkan. Karena itu setelah saya dapat dana barulah saya melapor ke Pengcab bahwa saya juga akan berangkat dan meminta ijin untuk bisa membawa senjata latihan, tapi karena dianggap dadakan sehingga kurang direspon. Sedihnya saya, pak Dayat, pak Ben dan Pak Sukri menyerahkan semua keputusan boleh tidaknya membawa senjata ke Safruddin, dimana Safruddin hanya membolehkan senjata dibawa anak kandungnya saja, ini kan diskriminasi namanya. Padahal saya anak Langsa, dan itu Senjata asset Langsa, bukan asset keluarga mereka”, ujarnya lirih.

“Yang saya enggak terima lagi, pelatih mengatakan kepada atlet-atlet lainnya bahwa sikap dan kritikan saya karena tidak terima dengan kegagalan, dan baginya mengganti senjata bukan persoalan karena kalah menang adalah rezeki, itu jelas saya bantah. Kita bicara pertandingan olahraga, bukan lotere atau kuis berhadiah. Kalau memang pakai senjata orang bukan masalah, kenapa untuk anak kandungnya tidak dibuat demikian. Saya memang atlet dibawah dia, tapi bukan berarti dia boleh perlakukan saya sesuai kehendak hatinya, tentu saya protes” tambah SM.

Apakah sportifitas mulai luntur sehingga ketika tak terima dikritik membuat sang pelatih langsung mengganti formasi atlet yang akan diberangkatkan meski nama-nama telah ada semuanya tercatat di KONI Langsa. 

Uang TC tidak diberikan

“Sejak masih di Banjarmasin dan saya protes lalu dikeluarkan dari Grup saya udah duga akan diganti, ternyata benar, setelah sampai Langsa saya enggak dihubungi lagi, bahkan meski saya udah hubungi ketua rombongan pak Sukri melalui WA tapi dia juga acuh, jadi ya uang TC atas nama saya juga dikuasai mereka lah” imbuhnya. 

Merasa didiskriminasi, SM melaporkan hal tersebut kepada Pengcab Perbakin dengan perihal mohon pembenahan pembinaan atlet menembak Kota Langsa, surat tersebut juga turut ditembuskan ke Ketua KONI Langsa dan Walikota Langsa, namun mengingat PORA telah tinggal hitungan hari saja mungkin tidak bisa direspon dengan cepat bahkan Ketua Umum Perbakin yang secara otomatis diduduki oleh Kapolres Langsa juga baru dalam hitungan jari saja menjabat sehingga juga butuh waktu untuk mempelajari kasus tersebut. 

“Saya pasrah saja, tidak ada yang bisa membantu saya, bukan tidak mau ya. Seperti Kapolres juga baru tanggal 8 November sertijab, pasti dia butuh waktu sementara PORA di depan mata, tinggal 2 hari lagi berangkat. Ya sudah kalau memang diskriminasi ini enggak ada yang bisa mengatasi, apa boleh buat. Mudah-mudahan saja uang TC dan peralatan olahraga atas nama saya yang kini mereka nikmati menjadi berkah untuk kehidupan mereka karena mereka sang penguasa saat ini ya, kita lihat saja nanti keadilan lain yang akan mereka terima dari yang diatas sana”, ucapnya pasrah. 

Media pun berhasil menghubungi Safruddin. Menurutnya bahwa soal pencoretan SM dirinya tidak mengetahui secara persis kenapa, karena itu kewenangan pengurus. "Tidak begitu masalahnya, karena dari awal dia ke Banjarmasin tidak dapat ijin Perbakin".

Safruddin juga membenarkan bahwa SM hak mendapatkan uang TC dan perlengkapan pora, namun menurutnya karena saat itu yang bersangkutan keluar dari pemusatan latihan (TC -red) dan pergi ke Banjarmasin tanpa ijin Perbakin, "Mungkin karena itu makanya tidak dikasi", jelasnya.

Lantas media kembali coba menghubungi beberapa pengurus teras Perbakin lainnya seperti T Hidayat, Rubian Harja namun tidak berhasil. Akhirnya  jawaban pun didapat dari pengurus lainnya, yaitu Sukri Asma. Meski mengaku tau, namun ia enggan berkomentar banyak terkait perseteruan keduanya (SM dan Safruddin -red).

"Kalau soal itu saya no coment lah, itu urusan mereka berdua, karena sana sini kawan, gak enak kalo saya komen, biar aja mereka selesaikan berdua", ujarnya via seluler.

Dirinya juga mengaku sedang fokus untuk persiapan keberangkatan ke Aceh Besar, Rabu (14/11) besok. "Pokoknya saya no comen ya", Sukri mempertegas lagi menutup percakapan. [] L24-004
Diberdayakan oleh Blogger.