Bimtek Da'i Dua Kabupaten Kisruh, Sertifikat Dari SI Aceh Dikoyak

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Suasana kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) penguatan kapasitas dai perbatasan dan daerah terpencil se-Aceh tahun 2018 yang diselenggarakan di hotel Greend Arya, Karang Baru Kabupaten Aceh Tamiang berujung kisruh, Rabu (14/11).


Dampak dari itu, puluhan lembar sertifikat bimtek dikoyak, bahkan ada juga dai yang mengembalikan kunci kendaraan inventaris sepeda motor serta menolak uang saku bimtek selama dua hari sebesar Rp.500.000.

Gaduhnya para dai dimaksud terjadi dipuncak acara pada saat pidato penutupan yang disampaikan pihak Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh, Malik Ridwan.

Pasalnya, hati dan perasaan sebanyak 81 orang peserta Bimtek asal Kabupaten Aceh Tenggara dan Aceh Tamiang tersebut merasa tersinggung atas ucapan Malik Ridwan, Kasi Peribadatan, pada  Dinas Syariat Islam Provinsi Aceh.

Malik diduga telah mengeluarkan ungkapan yang dianggap oleh para dai sebagai Kata-kata yang tidak beretika serta tidak mengedepankan tata krama. Apalagi diucapkan didepan dan ditujukan kepada puluhan dai perbatasan dari dua Kabupaten, yakni Aceh Tamiang dan Aceh Tenggara.

Kepada Lentera24, peserta Bimtek asal Kabupaten Aceh Tamiang, Robiatul Adawiyah, MPd I mengatakan kalau pejabat dimaksud telah mengungkapkan hal yang sangat tidak etis.

"Kami para da'i bukan orang bodoh dan tidak memahami bahasa Indonesia. Kami ini orang yang berpendidikan. Masa' kami dibilang orang utan. Kami tidak terima dikatakan sebagai binatang dan bodoh," ujar Adawiyah.

Nada yang sama juga disampaikan Muhammad Hamdani serta diamini oleh puluhan dai perbatasan lainnya. Ditengah ramainya dai sedang membincangkan persoalan kekecewaannya karena mendengar langsung kalimat yang tidak mendidik dari perwakilan Dinas SI Aceh saat pidato penutupan kegiatan.

"Pak EMK Alidar, Kadis SI Aceh itu orang baik, beliau merupakan salah seorang yang kerap memberikan motifasi kepada kami dalam bekerja. Tetapi berbeda dengan yang disampaikan oleh saudara Malik Ridwan yang malah memperolok-olokkan kami sebagai binatang. Kami ini manusia yang berpendidikan lho, jenjang pendidikan kami S2," paparnya.

Para dai perbatasan mengungkapkan, pada acara penutupan kegiatan, secara resmi, Malik menyebutkan bahwa dai perbatasan orang utan yang tidak layak menerima bantuan kesejahteraan.

"Kami mendengar dengan jelas, kalau katanya kami ini orang utan yang turun kekota. Bahkan kata dia (Malik Ridwan-Red) , kalau pihak SI memiliki rasa keraguan untuk mengeluarkan kesejahteraan bagi para dai yang tidak berkualitas," imbuh para dai.

Ditengah kerumunan para dai yang sedang memberikan keterangannya kepada Lentera24 dihotel Greend Arya, Irham, salah seorang panitia penyelenggara mencoba melerai dan memberikan klarifikasi bahwa para dai perbatasan salah menyimpulkan makna dari yang disampaikan Malik. Namun upaya yang dilakukan Irham langsung dibantah puluhan dai.

Dikonfirmasi Lentera24, Malik Ridwan membantah dan menyangkal kalau dirinya ada menyebutkan para dai sebagai orang utan.

"Sebenarnya tujuan saya tidak seperti itu, karena selama ini para dai bertugas didaerah hutan, didaerah terpencil dan terisolir. Jadi dengan adanya kegiatan ini, para dai bisa refressing ke kota," ujar Malik.

Malik menyebutkan, dirinya melihat emosi para dai naik secara spontanitas, disaat itu, dirinya juga ada meminta para peserta bimtek yang sebagian besar sudah meninggalkan ruangan untuk kembali masuk, dan dirinya juga sudah menyampaikan kata maaf jika para dai memiliki penilaian negatif atas kalimat yang baru disampaikannya itu.

Lebih jauh Malik menyatakan, kalau peserta bimtek tersebut banyak yang tidak disiplin, sehingga pernah terjadi jam jadwal kegiatan molor hingga satu jam. [] L24-002
Diberdayakan oleh Blogger.