Eka Sang Juara 2 Nasional Pencak Silat Tidak Berani Masuk Sekolah

Lentera24.com | ACEH TAMIANG -- Keberhasilan salah satu siswi SDN Bukit Rata Kecamatan Kejuruan Muda kabupaten Aceh Tamiang, Eka Safitri (11 thn) membawa nama provinsi Aceh dikancah  Nasional bidang olahraga pencak silat tingkat sekolah dasar (SD) ternyata tidak semulus perjuangannya. Keberhasilan Eka ternyata menjadi awal terjadinya polemik yang mengakibatkan Eka tidak berani masuk sekolah.



Seorang narasumber yang namanya tidak ingin dipublikasikan menyampaikan kepada ketua AWDI DPC Aceh Tamiang via telp, Rabu,(3/10), bahwa hari ini ada seorang siswi yang berprestasi dan berhasil mengharumkan nama provinsi Aceh bidang olahraga pencak silat di SDN Bukit Rata kecamatan kejuruan muda kabupaten Aceh Tamiang enggan masuk sekolah. Hal ini bermula setelah Eka dipanggil oleh kepala sekolahnya tepat sehari anak ini pulang dari Banda Aceh, Selasa (2/10).


Masih menurut Narasumber "Eka tidak mau masuk sekolah dikarenakan takut. Kepala sekolah tanyain terus tentang uang bonus atau uang pembinaan yang saya terima", kata narasumber menirukan perkataan Eka.


Narasumber juga menyampaikan bahwa pihak sekolah meminta sebagian uang dari Eka sebagai bentuk tanda terima kasihnya kepada sekolah dalam hal ini diwakili kepala sekolah.


Kalau tidak mau memberikan maka pihak sekolah meminta kepada orang tua Eka mengembalikan uang yang sudah dipakai untuk pembinaan Eka sehingga hingga Eka bisa menjadi Juara pencak silat se-Indonesia tingkat sekolah dasar (SD) dalam waktu satu Minggu.


"Jelas hal ini tidak hanya menjadi momok yang menakutkan bagi Eka untuk masuk ke sekolah  tapi juga bagi kedua orang tuanya", tambah narasumber.


Setelah menerima laporan via telp, Ketua AWDI DPC Aceh Tamiang melalui wakilnya Eri Afandi langsung membentuk tim untuk investigasi kasus ini guna mencari kebenarannya.


Menurut Eri beo sapaan akrabnya "Terkait penyampaian oleh narasumber, Tim investigasi menelusuri beberapa tempat untuk mencari keterangan. Diawali penelusuran ke perguruan pencak silat kesatria Nusantara di opak kecamatan bendahara kabupaten Aceh Tamiang. Namun hanya no handphone salah satu pelatih dari perguruan yang didapat tim AWDI. Saat dihubungi via telp di no hp 0852xxxxx oleh Tim AWDI, pelatih tersebut meminta agar tim AWDI menemuinya.


Dalam pertemuan tersebut, pelatih yang tidak ingin namanya dipublikasikan membenarkan apa yang sudah disampaikan oleh Narasumber sebelumnya. Sampai ada bahasa "siswi kami menang, kami cuma dapat senyuman saja", tuturnya.


Menurutnya bahasa itu keluar dari pihak sekolah saat saya mendampingi orangtua dari Eka guna memediasi dan mencari titik temu dari permasalahan yang ada ini, Rabu (4/10).


Kemudian tim melanjutkan penelusuran dengan datang menjumpai Nuraini kepala sekolah SDN Bukit Rata, Kecamatan Kejuruan Muda, dan perihal tersebut disampaikannya, "semua bermula dari O2SN tingkat Kecamatan, Kabupaten, Provinsi, Nasional yang dikuti oleh Eka Syafitri (11 tahun) Murid kelas 6 untuk kegiatan olahraga Beladiri", jelasnya. Sabtu (06/10).


"Kami pihak sekolah tidak pernah mengetahui tentang perlombaan itu, karena semua telah ditangani oleh kabupaten, padahal telah banyak biaya yang dikeluarkan, walaupun kami ada ikut mendampinginya secara tidak langsung," kata Nuraini.


"Kami hanya ingin mengetahui, hadiah yang didapat dan besaran uangnya, serta tidak ada maksud tertentu, karena biaya yang selama ini dikeluarkan adalah dari biaya operasional sekolah (BOS).

"Eka sudah empat hari tidak masuk sekolah, kami menduga penyebabnya ada bahasa-bahasa yang tidak enak didengarnya", tegas Nuraini.

Sementara itu ditempat yang sama, Mardiah Wali Kelas Eka menyampaikan, "kami sudah kerumahnya, juga bertemu orangtuanya dan disampaikan kalau hari senin (8/10/) ianya sudah siap masuk sekolah seperti biasanya", katanya.


Pada kesempatan tersebut juga, Gabriandi Ketua Komite Sekolah menyampaikan, diupayakan nantinya agar tidak terjadi komunikasi yang salah, maka pihak sekolah harus mendapatkan laporan dari Guru pendamping.


"Masuknya kembali Eka nanti ke Sekolah, situasi harus kembali normal, tidak ada intimidasi, namun jika itu terjadi, maka orangtua harus melaporkannya pada saya", ucap Gabriandi.


Ditempat terpisah dirumahnya di Dusun Palmerah Desa Salahaji Kecamatan Pematang Jaya Kabupaten Langkat provinsi Sumatera Utara, Muliadi orangtua Eka Syahfitri menyampaikan pada hari Rabu (03/10) kami diundang kesekolah untuk membicarakan uang hadiah perlombaan, dan pihak sekolah meminta agar uang tersebut dibagi dua.


"Kami diberikan waktu satu minggu untuk pengembalian uang tersebut, namun sampai hari ini kelihatanya tidak ada khabar kelanjutannya, beladiri di Perguruan Kesatria Nusantara merupakan tempat anak saya menimba ilmu ekstrakurikuler, dan dengan biaya sendiri kami perkuat latihan", kata Mulyadi.


Tambahnya, "Kami juga ikhlas menyumbangkan sedikit hadiah pada perguruan beladiri tersebut, agar uangnya dapat berguna untuk setiap pelatihan, dan kami sangat berharap, semua persoalan dapat terselesaikan dengan baik, serta Eka dapat bersekolah kembali", harap Muliadi. [] L24-006
Diberdayakan oleh Blogger.