Tempe Setipis ATM Dikritik, Sandiaga : Don't Be Overdramatic

Lentera24.com | JAKARTA -- Bakal calon wakil presiden Sandiaga Uno menanggapi kritik netizen tentang tempe setipis kartu ATM. Menurutnya, hal itu tidak pantas di-bully tapi harus menjadi renungan.

Foto : Detik.com
"Yang saya sampaikan itu adalah suara dari rakyat. Itu dari Bu Yuli dan rekannya di Duren Sawit itu exactly. Word by word yang disampaikan mereka. Kalau misalnya teman-teman itu mengartikannya sebagai suatu jeritan masyarakat, iya. Apakah ini hiperbolisme? Mungkin iya," ucap Sandiaga kepada wartawan di Glodok, Jakarta Barat, Selasa (11/9/2018).

Sandiaga mengimbau masyarakat tidak menghina hal tersebut. Hal itu adalah jeritan masyarakat bawah terhadap kondisi ekonomi saat ini.

"Tapi menurut saya, itu yang disampaikan masyarakat dan kita nggak boleh mendiskreditkan, mem-bully. Justru kita harusnya melihat bahwa ini adalah diskoneksi antara apa yang kelas menengah ke atas berpikir sama yang dirasakan kelas menengah ke bawah. Jadi jangan sampai kesenjangan ini terus melebar," ucap Sandiaga.

Sandi mengatakan apa yang dia ungkapkan adalah tentang keresahan masyarakat. Hal itu adalah efek dari kenaikan harga kedelai karena rupiah melemah.

"Kesejahteraan desa menurun. Dengan kedelai yang diimpor itu dolarnya naik, ya pasti akan naik harga tempe. As simple as that. Jadi do not be overdramatic atau melodramatis terhadap isu," ucap Sandiaga.

Sandiaga menyayangkan jika terjadi bullying di media sosial, apalagi ada sikap saling menjatuhkan.

"Jangan juga denial begitu, lo. Kita accept-lah. Jangan saling menjatuhkan. Cari solusinya. Solusi kita adalah perkuat ekonomi rakyat," kata Sandiaga.

Sandiaga Uno juga meminta pendukungnya tidak mengkritik pemerintah, meski janji kampanye tidak terealisasi. Menurut Sandi, wajar jika pemerintah tak menepati sejumlah janji. 

"Kalau ada janji pemimpin yang terlewat, tidak usah terlalu banyak kita kritisi, tidak usah, dan rakyat sudah tahu seperti apa janjinya dan relealisasinya seperti apa," ujar Sandiaga dalam diskusi #2019DemokrasiSejuk di Aula Sakinah, Masjid Sunda Kelapa, Jakarta.

Acara ini dihadiri politikus PAN Eggi Sudjana, juru bicara Sandiaga Uno dan Dewan Pembina Komunitas Indonesia Tersenyum Laja Lapian. Selain itu, pendukung Sandiaga Uno juga hadir. Sandiaga meminta pendukung tidak boleh mengeluarkan kata-kata kasar. Sandi bicara era 'zaman now'.

"Jangan mengumpati massa lalu. Massa lalu adalah bagian zaman old sekarang zaman now. Zaman Now mampu merubah perilaku kita. Jangan juga baperan, baper adalah beban masa depan kita. Jangan sampai semua pemimpin kita dengan keterbatasannya sudah berupaya menghadirkan kebaikan. Jadi kita hargai yang memimpin sekarang dan ke depannya insyallah kita perbaiki. Khususnya di masalah ekonomi," imbuh Sandi. [] DETIK.COM



Diberdayakan oleh Blogger.