Empat Poin MoU Lintas Tokoh Agama FKUB

Lentera24.com | SUBULUSSALAM -- Empat nota kesefahaman Memorandum of Understanding (MoU) ditandatangani sejumlah lintas tokoh agama diprakarsai Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Subulussalam di aula Kementerian Agama (Kemenag) setempat, Selasa (4/9).


Penanandatanganan diawali Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Drs. H. Azharuddin Paeteh disusul Asisten I Setdako, Drs. HM Ya'kub KS, MM, mewakili Kemenag, H. Marwan Z, S.Ag, Ketua FKUB, H. Ismail K, S.Pd dan unsur tokoh Katholik, Biston Situmorang dan tokoh Protestan, Pdt. Domedictus Padang, STh.

Penandatanaganan disaksikan Dandim 0118/Subulussalam, Lerkol Inf. Winarko, S.Ag, M.Tr (Han), Waka Polres Aceh Singkil, Kompol Sutan Siregar dan Kasi Datun Kejari Subulussalam, Debi Rinaldi, SH, MH yang sekaligus sebagai narasumber di sana.

Empat kesepakatan tersebut yakni, selalu menjaga kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Kota Subulussalam yang sudah dibina selama ini.

Lalu, menjaga pelaksanaan pesta demokrasi lima tahunan Pilpres dan Pileg tahun 2019 berjalan secara aman, nyaman dan damai di Kota Subulussalam.

Selanjutnya, tidak menyuarakan isu-isu SARA, simbol-simbol agama yang bisa merusak kerukunan dan keharmonisan umat beragama di Kota Subulussalam dalam menyongsong Pilpres dan Pileg tahun 2019.

Dan terakhir, mengajak seluruh komponen masyarakat Kota Subulussalam menyukseskan Pilpres dan Pileg tahun 2019 yang bermatabat dan berakhlak.

Tiga hakikat gangguan Kamtibmas perlu diperhatikan menurut Waka Polres Aceh Singkil, Kompol Sutan Siregar adalah potensi gangguan, ambang gangguan dan gangguan nyata. "Gagal mengatasi potensi gangguan akan memunculkan ambang gangguan dan tidak berhasil mengantisifasi ambang gangguan akan berakibat terjadi gangguan nyata," tegas Siregar.

Ketua MPU Drs. H. Azharuddin Paeteh dalam sesi dialog ingatkan kalau untuk menghindari potensi gangguan Kamtibmas mayoritas harus mengayomi minoritas, lalu minoritas menghargai mayoritas.

Ustaz Usni B ingatkan, suksesnya Pileg dan Pilpres 2019 diyakini bisa terwujud jika semua unsur terkait bekerja sesuai mekanisme dan tupoksi masing-masing. "Wasit bekerja adil, tidak berperan seperti pemain," tegas Usni menambahkan, tokoh lintas agama dituntut mampu memberi kesejukan di tengah umat. [] L24-Khairul
Diberdayakan oleh Blogger.