Instagram Tantang YouTube

Lentera24.com | TEKNOLOGI -- Persaingan platform berbagi video ke depan bakal semakin ketat. Para pemasar dituntut semakin kreatif memanfaatkan aplikasi tersebut untuk mengomunikasikan produk atau layanannya kepada konsumen. 

Foto : Sindonews.com
Genderang perang adu inovasi di dunia maya baru-baru ini ditunjukkan Instagram dengan merilis fitur terbaru, IGTV atau Instagram TV. Dengan demikian YouTube kini tidak lagi satu-satunya sebagai aplikator yang menayangkan video berbagi berdurasi panjang. 

Kampanye menantang raksasa teknologi sekaliber YouTube dilakukan Instagram karena mereka sebelumnya populer dengan aplikasi berbagai video dengan durasi 60 detik serta foto. Dengan satu miliar pengguna aktif setiap bulan, Instagram percaya diri menyongsong masa depan. Sebagai perbandingan, YouTube kini memiliki 1,9 miliar pengguna aktif setiap bulan. 

Sementara Facebook yang kini menjadi induk Instagram memiliki 2,2 juta pengguna setiap bulannya. Seperti diketahui, Instagram dibeli Facebook pada 2012 senilai USD1 miliar (Rp14,34 triliun) ketika platform berbagai foto itu hanya memiliki 30 juta pengguna. Kemudian Instagram membuka platform untuk video dengan durasi satu menit. 

Instagram memang berbeda dengan Facebook. Perusahaan yang tahun ini pendapatannya diprediksi mencapai USD5,5 miliar itu merupakan platform yang awalnya diperuntukkan bagi ponsel pintar. Target utamanya adalah anak muda dan penonton yang keren. Platform itulah yang membuat aplikasi ini populer di kalangan selebritas dan influencer. 

Dengan menghadirkan IGTV, Instagram yang didirikan pada 2010 berusaha menarik pembuat konten video yang sebelumnya lebih banyak mengekspresikan diri di YouTube. “Video merupakan cara kita untuk hang out dengan teman. Video menjadi cara kita menghabiskan waktu. Karena itu kita berubah,” kata CEO Instagram Kevin Systrom seperti dilansir New York Times. 

“Anak muda kini semakin jarang menonton televisi, tetapi mereka lebih sering menonton video online,” imbuhnya. Menurut Systrom, generasi saat ini berbeda dengan generasi lima tahun lalu yang sering menonton televisi. 

“Sekarang adalah waktunya video untuk bergerak ke depan dan berkembang,” katanya. Dengan satu miliar pengguna, Instagram meyakini jumlah tersebut merupakan pencapaian yang paling membanggakan karena terhubung dengan komunitas dalam jumlah besar. “Itu jelas di luar perkiraan liar kami,” ujar Systrom. 

Berbagi Keuntungan 
Selama ini Instagram dan YouTube merupakan dua platform yang di dalamnya banyak pencipta konten kreatif mendapatkan banyak uang dari sponsor dan iklan. Ketika Instagram menambahkan video dengan durasi yang panjang, YouTube menambahkan fitur jaringan sosial untuk mengizinkan penciptaan konten berkomunikasi secara mudah dengan para penggemarnya. 

Belajar dari pengalaman YouTube yang bersitegang mengenai pendapatan iklan dengan pencipta konten, hal itu yang tidak dilakukan Instagram. Systrom mengungkapkan IGTV tidak memunculkan iklan untuk awalannya. “Kita ingin menciptakan kebijakan yang adil dengan pencipta konten ke depannya,” katanya. 

Instagram juga berkompetisi melawan Facebook untuk menarik perhatian para pencipta konten video. Facebook telah mencoba bersaing dengan YouTube dengan memperpanjang durasi video. Facebook mengizinkan pencipta konten untuk bekerja sama langsung dengan perusahaan. 

Mereka mengenalkan Brand Collabs Manager, platform untuk mengoneksikan pencipta video dan kesempatan mendapatkan sponsor serta membuka pintu untuk mendapatkan uang dari iklan. Ketika Facebook dan YouTube berusaha mengalirkan uang untuk membeli konten dan membayar pencipta konten, Systrom mengatakan Instagram belum memiliki rencana demikian. 

“Kita masih netral untuk para pencipta video kreatif,” katanya. Dalam pandangan analis eMarketer Debra Aho Williamson, ke depannya IGTV akan memiliki banyak iklan. “Dengan begitu banyak pencipta konten akan melakukan kesepakatan endorsment,” kata Williamson seperti dilansir FirstPost.

Namun dia mengkritik IGTV yang tidak bergerak cepat untuk membicarakan kesepakatan pembagian iklan. Langkah IGTV menyatakan perang melawan YouTube jelas merupakan suatu perjudian kalah dan menang. 

Hal pertama yang menjadi pertarungan adalah bagaimana IGTV mampu menarik sebanyak-banyaknya pencipta konten untuk mengunggah videonya. Jelas sekali, IGTV menjadi alternatif yang menarik. Menurut pencipta konten video Marques Brownlee, tidak ada tempat yang potensial untuk mengunggah video selain di YouTube. 

“IGTV memiliki potensi sebagai rumah kedua,” katanya seperti dilansir The Verge. Dengan hadirnya IGTV, menurut Brownlee, itu menjadi kesempatan bagi influencer dan pencipta konten untuk semakin berkreasi. Pandangan berbeda justru muncul dari Sunny Dhillon, pendiri Signia Ventures. 

Dhillon menganggap IGTV bisa menjadi pemenang karena bebas iklan dan memiliki kualitas yang bagus. “Apalagi IGTV didukung Facebook,” ujarnya seperti dilansir Forbes . IGTV juga sudah memiliki modal karena sudah dikenal dan punya banyak influencer. 

Konten Jadi Penentu 
Munculnya aplikasi Instagram TV atau IGTV sebagai platform berbagi video pesaing YouTube akan semakin memicu para content creator untuk berkarya lebih baik. Hal itu karena konsep video dianggap lebih bisa diterima kendati lemah dari sisi pendalaman konten. 

“Kekuatan video adalah engagement atau daya ikat yang kuat atas penonton. Berbeda dengan tulisan yang bisa meraih kedalaman, tetapi tidak semua orang bisa memahami,” kata pengamat marketing Yuswohady di Jakarta, kemarin. 

Menurut dia, kompetisi utama saat ini adalah kecepatan menangkap user atau konsumen. Head of MNC Innovation Center Ivan Nasrun mengatakan, aplikasi IGTV tidak terlalu berbeda dari yang ada seperti Instagram Story, tetapi penampilan video lebih kuat. 

Konsep IGTV memiliki format video vertikal, sedangkan YouTube horizontal. Sebagai pengembang aplikasi berbagi video MeTube, menurut dia, pihaknya juga terus melakukan inovasi dengan menyiapkan fitur baru. 

“Kami juga menyiapkan kolaborasi dengan content creator lainnya. Namun kini belum dapat disampaikan detailnya karena sedang dilakukan kajian,” ujarnya. 

Sementara itu Officer Corporate and Broadband Telkomsel William Setiady mengatakan, konten yang kreatif akan menentukan sebuah video bisa atau tidak diterima konsumen. Menurutnya sebuah konten kini tidak bisa lagi ditentukan oleh perusahaan operator. “Karena itu para content creator ini yang menentukan,” sebutnya. [] SINDONEWS.COM
Diberdayakan oleh Blogger.