Gelombang Tinggi di Sikka, 2 Rumah Tersapu, Puluhan Rusak dan Pelayaran Dihentikan

Lentera24.com | NTT -- Gelombang tinggi berkisar antara 4 sampai 6 meter yang terjadi di perairan pantai selatan pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), sejak Rabu (25/7/2018) hingga Kamis (26/7/2018) menyebabkan 2 buah rumah hilang terbawa gelombang.

Foto : Mongabay.co.id
Gelombang itu juga merusak puluhan rumah lainnya sepenjang pesisir pantai selatan kabupaten Sikka, NTT dan mengancam pemukiman di belasan desa lainnya di 4 kecamatan yakni Paga, Mego, Lela dan Bola.

Ignasius Mikhael Riwu, Kepala Desa Sikka, Kecamatan Lela saat ditemui Mongabay Indonesia, Kamis (26/7) menyebutkangelombang tinggi mulai menerjang pesisir selatan pantai sejak Senin (23/7) dengan ketinggian 2 sampai 4 meter dan mulai meningkat sejak Rabu (25/7) pagi.

“Gelombang di pantai selatan memang tinggi tapi biasanya hanya 2 meter saja. Tapi sejak kemarin pagi tinggi gelombang berkisar antara 4 sampai 6 meter dan membuat sekitar 20 rumah di desa Sikka yang berada persis di pinggir pantai terancam rubuh,” sebut Ignasius.

Dalam setahun sebut Ignasius, abrasi di pantai selatan terjadi hingga 30 sentimeter dan menggerus daratan. Bahkan tanggul penahan gelombang yang dibangun sekitar 10 tahun lalu yang berjarak sekitar 3 meter dari bagian belakang rumah warga sepanjang desa Sikka pun sudah hilang tersapu gelombang.

Kuatnya hempasan gelombang pada Rabu-Kamis (25-26/7/2018) menyebabkan tanggul penahan di samping badan jalan di desa Sikka, Kecamatan Lela, Sikka, NTT, runtuh dan jalan raya pun terancam putus. 

Gelombang tinggi di desa Sikka, hanya terjadi sekali pada hari Rabu (25/7) sekitar pukul 09.00 WITA. Tetapi terjangan gelombang pun sampai ke badan jalan raya yang berjarak 10 meter dan setinggi 2 meter dari bibir pantai.

“Ombaknya tinggi sekali dan melewati atap rumah saya bahkan air laut sampai ke jalan yang berada di atas rumah kami. Sebelumnya memang gelombangnya tinggi tetapi tiba-tiba datang gelombang yang tinggi dan langsung menerjang rumah saya dan tetangga saya sama seperti tsunami saja,” sebut Rosmayati, seorang warga.

Fidelis Vandrianus, warga Sikka lainnya yang rumahnya juga tersapu gelombang dan rata dengan tanah mengatakan, saat kejadian warga 11 rumah yang persis berada di bibir pantai sudah berlarian ke jalan raya sehingga selamat.

Pasca peristiwa itu, warga mengungsi ke rumah saudara dan 2 posko yang dibangun BPBD Sikka di jalan. Fidelis maupun Rosmayati mengaku trauma dan tidak mau lagi membangun rumah di lahan bekas rumah mereka dan pindah ke lokasi lain. Namun keduanya mengaku tidak mempunyai uang untuk membeli tanah dan membangun rumah sehingga meminta bantuan pemerintah.

“Warga mau pindah ke lokasi lain karena trauma namun kami semua tidak memiliki uang untuk beli tanah dan bangun rumah sederhana berlantai semen dan berdinding Halar atau bambu belah,” ungkap Fidelis.

Data sementara yang dihimpun dari posko BPBD Sikka, 2 rumah hancur dan 9 rumah lainnya rusak ringan di Desa Sikka. Sedangkand desa Ipir kecamatan Bola sebanyak 40 rumah, 10 unit rusak rusak berat dan 5 rumah lainnya rusak ringan.

Bekas bangunan rumah di desa Sikka, kecamatan Lela, Sikka NTT yang hilang tersapu gelombang tinggi yang terjadi pada Rabu-Kamis (25-26/7/2018). 

Kepala Stasiun Meteorologi Frans Seda Maumere, Adi Laksmena menjelaskan, menurut ramalan BMKG, pada 25-26 Juli 2018 hingga jam 07.00 WITA, terjadi gelombang tinggi di pesisir perairan selatan Sikka setinggi 1,25-4 meter. Sementara di samudera Hindia bagian selatan Jawa hingga NTT tinggi gelombang berkisar antara 4-6 meter.

Sedangkan di lautan, terjadi angin kencang berkecepatan 15 knot dan tinggi gelombang 1,5 meter. Adi mengatakan hal ini harus diperhatikan dan beresiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran..

“Untuk Kapal Tongkang waspadai angin dengan kecepatan lebih dari 16 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 1.5 meter, Kapal Ferry waspadai angin dengan kecepatan lebih dari 21 knot dan ketinggian gelombang lebih dari 2.1 meter. Sedangkan Kapal ukuran besar seperti kapal kargo atau kapal pesiar waspadai kecepatan angin lebih dari 27 knot serta ketinggian gelombang lebih dari 4 meter,” tegasnya.

Peringatan dini tersebut berlaku sampai dengan akhir bulan Juli 2018 karena kondisi kecepatan angin yang masih tinggi.Nelayan juga diharapkan untuk waspada dan tidak melaut dahulu.

Air surut jauh hingga sekitar 100 meter pasca gelombang tinggi pada Rabu-Kamis (25-26/7/2018) di desa Sikka, kecamatan Lela, Sikka NTT, membuat masyarakat beramai-ramai turun ke laut mencari kerang dan siput. 

Kepala PT ASDP Cabang Kupang, Burhan Zahimen mengatakan, pihanya menutup 4 rute penyeberangan kapal feri untuk sementara waktu sambil berkoordinasi dengan BPBD dan BMKG. Empat rute lainnya yakni Kupang-Rote, Kupang-Larantuka, Kupang-Alor dan Kupang-Lembata sudah dibatalkan pelayarannya.

Pasca gelombang tinggi di pesisir pantai desa Sikka, warga justru turun ke pantai mencari kerang untuk dibuatkan cindera mata, dijual atau dikonsumsi sendiri. Air laut surutnya sangat jauh,hingga 100 meter dari bibir pantai.

Kepala desa Sikka menerangkan, saat gelombang besar warga banyak menemukan siput bahkan Kima (Tridacna gigas). Kima tersebut dipungut dan dimakan atau dijual karena warga tidak mengetahui bahwa kerang ini dilindungi dan dilarang untuk diambil atau diperjualbelikan.

Sepanjang pesisir pantai desa Sikka terlihat patahan karang menumpuk dan menutupi pasir hitam. Patahan karang tersebut dihempas gelombang hingga berjarak 2 meter saja dari pinggir rumah warga. Puluhan pohon kelapa dan Pandan Laut pun terancam tumbang.

Gelombang tinggi pun menyebabkan abrasi dan menggerus jalan sepanjang sekitar 5 meter di pintu masuk menuju desa Sikka dan hanya tersisa sekitar 50 cm saja dari badan jalan. Bila ombak terus menghempas, jalan satu-satunya menuju desa Sikka tersebut pun pasti terputus dan menutup akses warga sebab persis di sebelah utara jalan ada bukit dan perumahan warga. [] MONGABAY.CO.ID
Diberdayakan oleh Blogger.