Ada Monyet Kegemukan di Bali

Lentera24.com | BALI -- Di dunia ini terdapat kurang lebih sekitar 200 jenis primata (bangsa kera dan monyet) dan 40 jenis atau hampir 25 % diantaranya hidup di Indonesia. Salah satunya adalah monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), yang merupakan monyet asli Asia Tenggara, walaupun sekarang tersebar di berbagai tempat di Asia.

Foto : Mongabay.co.id
Monyet ekor panjang umum ditemukan di hutan-hutan pesisir (mangrove, hutan pantai), dan hutan-hutan sepanjang sungai besar, seperti di dekat perkampungan, kebun campuran, atau perkebunan lainnya. Pada beberapa tempat hingga ketinggian 1.300 m di atas permukaan laut.

Jenis ini sering membentuk kelompok hingga 20-30 ekor banyaknya, dengan 2-4 jantan dewasa dan selebihnya betina dan anak-anak. Mereka memakan aneka buah-buahan dan memangsa berbagai jenis hewan kecil seperti ketam, serangga, telur dan lain-lain.

Monyet ini bertubuh mungil sedang, dengan panjang kepala dan tubuh 400-470 mm, ekor 500–600 mm, dan kaki belakang (tumit hingga ujung jari) 140 mm. Dan berat betina di kisaran 3-4 kg, sedangkan jantan dewasa mencapai 5–7 kg.

Tetapi tahukah anda, jika anda bermain-main atau berwisata di jalan raya jalur Bedugul-Buyan-Tamblingan, maka anda akan mendapati banyak monyet ekor panjang yang mempunyai bobot sampai 3 kali dari yang seharusnya, alias kegemukan.

Tempat ini sendiri sebetulnya merupakan jalur wisata 3 danau, yaitu Danau Bedugul, Buyan dan Tamblingan, Buleleng, Bali. Dan monyet-monyet obesitas itu memang penghuni kawasan tersebut. Pada awalnya monyet-monyetnya mempunyai ukuran tubuh yang normal, tetapi seiring dengan pesatnya pertumbuhan wisata di kawasan ini, maka makin banyak pulalah wisatawan yang berkunjung ke tempat ini, yang kemudian menghentikan mobilnya untuk melihat kelucuan si monyet ekor panjang.

Sayangnya kegiatan memperhatikan tingkah laku si monyet yang lucu ini, dibarengi pula dengan kegiatan memberi makan kepada monyet-monyet itu. Ada sekitar 4-5 kelompok monyet tinggal di sini.

Adalah Luh Martini, seorang panjaja makanan untuk diberikan pada monyet, menuturkan kepada Mongabay, jika para monyet ini terus makan semua makanan yang diberikan kepadanya. Padahal, wisatawan selalu datang silih berganti dalam jeda waktu yang sangat rapat. Bahkan jika sedang musimnya, bisa terlihat menumpuknya turis di pinggir jalan untuk memberi makan si monyet ekor panjang.

Dengan merogoh kocek Rp15 ribu, para turis sudah mendapatkan sepiring pisang dan kacang untuk diberikan kepada monyet. Maka tak heran bila Mongabay menemukan banyak monyet ekor panjang yang mempunyai bobot berlebih.

Rosek Nursahid, Ketua LSM Profauna Indonesia, yang dihubungi Mongabay, sangat menyayangkan hal ini. Seharusnya di setiap tempat wisata yang terdapat hewan liarnya, terdapat larangan untuk pemberian makan kepada hewan tersebut. Menurutnya ada beberapa alasan yang mendasari kenapa hal itu tidak boleh dilakukan.

Monyet ekor panjang akan berubah perangainya. dia akan menjadi tipe hewan pengemis yang selalu meminta makanan kepada setiap orang yang datang. Selain juga akan menimbulkan ketergantungan terhadap makanan yang diberikan, sehingga dia tidak mampu lagi bertahan hidup di habitat alaminya, karena hilangnya naluri mencari makanan secara mandiri di alam liar.

Lalu si monyet juga akan lebih agresif. Dia akan berusaha merebut benda yang dibawa oleh pengunjung, karena mengira bahwa itu makanan untuknya.

Makanan yang diberikan oleh pengunjung, seringkali bukan makanan alaminya, seperti roti dan sebagainya. Ini akan merubah pola makan dan bentuk makanan yang tentu saja tidak bisa ditemukan monyet ekor panjang di habitat alaminya.

Seperti halnya manusia dengan penyakit obesitas, maka si monyet ekor panjang pun akan mempunyai gerakan yang sudah tidak lincah lagi. Ini menyebabkannya menjadi malas, dan tidak sanggup mencari makanannya sendiri, karena kemampuan melompat dari pohon ke pohon, untuk mencari buah-buahan sudah berkurang jauh.

Selain itu, monyet ekor panjang juga merupakan hewan yang dapat menularkan beberapa penyakit yang cukup berbahaya terhadap manusia, seperti rabies dan hepatitis. Penularan ini bisa melalui gigitan atau cakaran yang sangat mungkin terjadi apabila kita memberikan makanan kepada si monyet.

Sangat ironis memang bila wisata dijadikan alasan untuk membenarkan pemberian makanan kepada setiap hewan liar. Mungkin para instansi dan semua pihak yang terkait mulai memikirkan hal ini. Memikirkan pengembangan ekowisata dengan peraturan yang ramah dan memihak terhadap alam dan isinya.

Larangan-larangan terhadap pemberian makanan terhadap hewan liar sudah harus segera dilakukan, sehingga hewan liar bisa terjaga dengan perilaku alaminya di habitatnya. Dan para penjaja makanan untuk hewan liar, bisa beralih fungsi sebagai penjaja makanan untuk para wisatawannya saja, dan tidak untuk hewan liarnya. Demi masa depan bumi kita tercinta. [] MONGABAY.CO.ID
Diberdayakan oleh Blogger.