Rupiah Terperosok ke Level Rp 14.200 per Dolar AS

Lentera24.com | JAKARTA -- Laju kurs rupiah semakin terperosok ke zona merah. Rupiah kini telah menembus level Rp 14.200 per dolar AS.

Foto : Republika.co.id
Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), hari ini, (28/6), mata uang Garuda tersebut berada di posisi Rp 14.271 per dolar AS. Sebelumnya pada Selasa lalu, (26/6), rupiah di Rp 14.163 per dolar AS.

Di spot perdagangan mata uang, kurs rupiah pun dibuka melemah 22 poin di level Rp 14.201 per dolar AS. Pada pukul 10.00 WIB, posisi rupiah juga telah di atas Rp 14.207 per dolar AS.

Bank Indonesia (BI) diperkirakan akan kembali menaikkan suku bunga acuannya dari 4,75 persen ke 5 persen pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang rencananya digelar hari ini dan besok.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai, kenaikan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate sebanyak tiga kali dalam dua bulan terakhir, menunjukkan kepanikan BI dalam menghadapi tekanan dari kurs dolar AS. "Hal itu bisa dimanfaatkan spekulan valas untuk melakukan aksi profit taking," ujarnya kepada Republika.co.id, Kamis, (28/6).

Meski begitu, ia menyatakan, sentimen penggerak kurs rupiah saat ini memang berasal dari sinyal BI yang akan menaikkan suku bunga acuannya. Pengetatan moneter diharapkan menaikkan kupon Surat Berharga Negara (SBN). "Sehingga yield spread dengan treasury bond bisa ditekan dan harga beli SBN di pasar sekunder kembali naik," tuturnya.

Sebelumnya, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani menjelaskan, pelemahan rupiah harus dilihat dari benchmark terhadap negara lain maupun terhadap dolar AS sendiri. Menurut Sri, setiap saat ada pemicu pergerakan rupiah.

"Karena ini setiap hari ada pemicunya, apakah hari ini Presiden Trump bilang ini, kemudian policy-nya terhadap RRT (Republik Rakyat Tiongkok). Jadi, ini akan terus dinamis yang akan harus kita terus respons, tidak harian, tapi kita jaga dari sisi yang disebut jangka menengah panjang," kata Sri Mulyani setelah dipanggil Presiden Joko Widodo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (25/6).

Menkeu mengatakan, selama tahun ini pelaksanaan APBN bisa berjalan secara baik dan momentum pertumbuhan ekonomi tetap akan dijaga. Pemerintah akan memantau dan mengevaluasi setiap isu yang berkembang. [] REPUBLIKA.CO.ID
Diberdayakan oleh Blogger.