Orangutan Tertua di Dunia Itu Telah Tiada

Lentera24.com | FLORA FAUNA -- Satu individu orangutan sumatera (Pongo abelii) betina bernama Puan telah pergi selamanya, Senin (18/6/2018), di Kebun Binatang Perth, Australia. Puan merupakan orangutan tertua yang pernah hidup di muka bumi ini, umurnya 62 tahun.

Foto : mongabay.co.id
Puan lahir di Sumatera tahun 1956. Ia dipersembahkan oleh kebun binatang pribadi Sultan Johor, Malaysia untuk Kebun Binatang Perth pada 31 Desember 1968. Semasa hidupnya, Puan memiliki 11 anak dan 54 keturunan yang tersebar di seluruh dunia.

Dikutip dari AFP, Selasa (19/6/2018), kepala pengawas primata di Kebun Binatang Perth, Holly Thompson mengatakan, sebagai bagian dari anggota tertua di koloni, Puan merupakan induk dari program pengembangbiakan yang telah meninggalkan warisan luar biasa.

“Dia telah melakukan banyak hal demi terciptanya koloni dan juga kelangsungan hidup spesiesnya,” katanya.

 Thompson menambahkan, gennya Puan berada di sekitar 10 persen populasi orangutan di kebun binatang yang tersebar di seluruh dunia. Beberapa di antaranya ada di Amerika Serikat, Eropa, dan ada yang dikembalikan ke habitatnya di Pulau Sumatra, Indonesia.

“Keturunan paling muda bernama Nyaru. Ia adalah cucu terakhir Puan yang telah dilepasliarkan ke habitat aslinya di Sumatera,” tambahnya.

Usia Puan yang mencapai lebih dari setengah abad mengukir sejarah baru. Pasalnya, menurut Thompson, primata endemik Indonesia itu amat jarang berusia hingga lebih dari 50 tahun.

Nama Puan tercatat dan terverifikasi dalam buku rekor dunia, Guinness Book of Records sebagai orangutan tertua dari spesienya yang pernah hidup. Rekor itu ia dapatkan saat perayaan ulang tahunnya ke-60, dua tahun silam.

Duka mendalam

Puan meninggal karena komplikasi yang dideritanya. Di samping itu, usia yang semakin tua menyebabkan kesehatan dan kualitas hidupnya menurun. Hingga akhirnya pihak kebun binatang memutuskan untuk melakukan euthanasia.

Martina Hart, perawat di Kebun Binatang Perth, yang juga merawat Puan hampir 18 tahun menjelaskan kondisi Puan sebelum meninggal dalam obituarium yang ditulisnya. Ia menuturkan bahwa selama bertahun bulu mata Puan mulai memutih, gerakannya perlahan melambat dan pikirannya semakin berkeliaran. Meski begitu, Puan tetap menjadi induk pemimpin, betina yang tenang dan bermartabat seperti biasanya.

“Puan pantas dihormati dan dia adalah betina pendiri koloni terbaik di dunia dalam program pengembangbiakan. Puan mengajari saya kesabaran, dia juga mengajari bahwa naluri alami dan liar tidak pernah hilang meskipun di penangkaran. Ia memang tidak sehebat Sekara, semanis Utama, atau sama tenangnya dengan Dinar, tapi dia benar-benar memiliki tempat khusus di hati semua orang, termasuk warisannya yang luar biasa,” sebagaimana dikutip dari tulisannya.

Sekara (28), Utama (39), dan Dinar (31) adalah tiga orangutan penghuni Kebun Binatang Perth. Ada pula Puteri (48), Pulang (25), Teliti (9), Sungai (6), dan Lestari (6). Sementara Hsing Hsing, orangutan sumatra jantan telah mati pada 2017 saat usianya 42 tahun.

“Saya merasa sangat bersyukur berkesempatan mengisi hidup Puan, meskipun itu adalah bagian kecil dari hidupnya. Dia akan selalu menjadi bagian terbesar hidup saya,” tambah Hart.

Puan akan selalu diingat sebagai “wanita cantik”. Meski hidup di penangkaran, Puan tetap mempertahankan kemandiriannya.

“Selamat beristirahat dalam damai, Puan. Semoga kamu terus bergembira memanjat di hutan-hutan langit,” tulisnya. “Terima kasih telah memberi kami warisan dan saya berjanji kami akan menjaga keluarga Anda,” pungkas Hart.

Dunia mengenal tiga spesies orangutan, yang satu di antaranya adalah spesies baru. Ketiganya adalah orangutan sumatera (Pongo abelii), orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dan orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Sekilas penampakan ketiganya sama, namun mereka memiliki ciri dan karakteristik masing-masing.

Perbedaan itu jelas terlihat dari ukuran tubuh, bentuk wajah dan warna rambut. Orangutan sumatera memiliki warna rambut lebih terang, ukuran tubuh lebih kecil, dan bentuk wajah lebih lonjong dibanding orangutan kalimantan.

Sementara perbedaan orangutan tapanuli dengan lainnya adalah tengkorak dan tulang rahangnya lebih halus, rambut lebih tebal dan keriting. Khusus jantan, ia memiliki kumis dan jenggot menonjol dengan bantalan pipi berbentuk datar, juga dipenuhi rambut halus berwarna pirang. [] MONGABAY.CO.ID

Diberdayakan oleh Blogger.