Hidup Berang-berang Terancam Akibat Perdagangan Online di Asia Tenggara

Lentera24.com | FLORA FAUNA -- Perburuan berang-berang, terutama usia muda, untuk dijual ilegal secara online meluas di Asia Tenggara. Kondisi ini menjadi ancaman besar bagi kelangsungan hidup berang-berang spesies asli Asia.

Foto : Mongabay.co.id
Sebuah laporan dari kelompok pemantauan perdagangan satwa liar TRAFFIC dan IUCN Otter Specialist Group yang dirilis Juni 2018, merupakan hasil investigasi dua tahun, mengungkap fakta ratusan berang-berang dijual di Facebook dan platform online Penjualan berang-berang muda sangat tinggil: menurut laporan itu, lebih dari 70 persen dijual online berusia di bawah satu tahun.

Laporan tersebut mengidentifikasi kurangnya peraturan nasional yang kuat untuk melindungi spesies-spesies ini di banyak negara. Hal yang menjadi alasan utama eksploitasi ilegal berang-berang marak berkembang secara daring.

Ada empat spesies berang-berang di Asia Tenggara: Otter Eurasia (Lutra lutra) atau berang-berang utara, Hairy-nosed Otter (Lutra sumatrana) atau berang-berang hidung berbulu, Small-clawed Otter (Aonyx cinereus) atau berang-berang cakar kecil, dan Smooth-coated Otter(Lutrogale perspicillata) atau berang-berang bulu licin.

“Meskipun informasi mengenai prevalensi empat spesies di wilayah ini masih jarang, tapi umumnya dianggap populasinya mengalami penurunan signifikan karena hilangnya habitat, dampak pestisida pada bioma lahan basah, serta konflik manusia dengan berang-berang yang disebabkan persepsi dan juga ancaman nyata oleh iklan komersial,” berdasarkan laporan tersebut.

Perburuan berang-berang untuk perdagangan daring, saat ini dapat dimasukkan ke daftar ancaman signifikan. Faktanya, laporan itu menyatakan bahwa perdagangan hewan peliharaan secara online sekarang adalah “ancaman paling mendesak bagi kelangsungan hidup berang-berang.” Hewan-hewan ini diminati sebagai satwa peliharaan serta bulu dan untuk bagian tubuhnya digunakan untuk praktik pengobatan tradisional.

Antara Agustus 2015 sampai Desember 2017, para penyelidik dari TRAFFIC dan IUCN Otter Specialist Group menghabiskan hanya satu jam dalam seminggu untuk memantau penjualan online berang-berang di Indonesia, Malaysia, Filipina, dan Thailand. Saat itu, mereka menemukan setidaknya 560 iklan yang dijajakan para pedagang satwa liar, yang menjual sekitar 734 dan 1.189 ekor berang-berang. Mayoritas berang-berang yang ditawarkan – lebih dari 700 – akan dijual di Indonesia, sementara lebih dari 200 berada di Thailand. Filipina adalah satu-satunya negara di mana penyelidik tidak menemukan berang-berang yang diiklankan untuk dijual secara online.

“Fakta bahwa begitu banyak berang-berang dapat dengan mudah diperoleh dan ditawarkan untuk dijual hanya dengan mengklik tombol dan tidak ada peraturan yang mengekang, merupakan masalah serius,” Kanitha Krishnasamy, Direktur Regional TRAFFIC Asia Tenggara, mengatakan dalam sebuah pernyataan.

Para peneliti di laporan itu juga memeriksa catatan 13 berang-berang yang berbeda di wilayah itu, di rentang waktu Agustus 2015 hingga Desember 2017, total 59 berang-berang disita oleh pihak berwenang. Indonesia dan Thailand merupakan negara utama, diikuti Malaysia dan Vietnam.

Indonesia dan Thailand diidentifikasi sebagai sumber utama penjualan dan negara pasar untuk berang-berang di Asia Tenggara, serta sebagai pusat perdagangan berang-berang yang diekspor ke Jepang. Menurut laporan itu, Jepang adalah tujuan penyelundupan 32 berang-berang cakar kecil dari Thailand.

Laporan tersebut mengidentifikasi bahwa kurangnya peraturan nasional yang kuat untuk melindungi spesies-spesies ini, menjadi alasan utama eksploitasi ilegal berang-berang berkembang melalui online. “Undang-undang nasional yang lemah menghambat tindakan penegakan hukum dan perdagangan berang-berang yang luas. Kelangsungan populasi berang-berang liar tersisa di Asia Tenggara pun dipertanyakan,” kata Krishnasamy.

Berang-berang cakar kecil sangat rentan untuk dijadikan hewan peliharaan yang dijual secara online, karena setidaknya 700 individu jenis ini penjualannya selama survei dilakukan lebih tinggi dibandingkan spesies lainnya. Berang-berang bercakar kecil berstatus ‘Vulnerable’ atau Rentan dalam Daftar Merah IUCN karena ancaman seperti kehilangan habitat dan perburuan. IUCN melaporkan bahwa populasi berang-berang di Asia Tenggara menurun lebih dari 30 persen selama tiga dekade terakhir, dan terus menurun sampai hari ini.

Nicole Duplaix, ketua dari IUCN-SSC Otter Specialist Group, berharap laporan itu akan berfungsi sebagai peringatan bagi pihak berwenang untuk mengendalikan perdagangan berang-berang muda.

“Perdagangan online berang-berang yang sangat muda untuk dijadikan hewan peliharaan menambah dimensi baru untuk diperhatikan,” kata Duplaix dalam sebuah pernyataan. “Daya tarik hewan-hewan menggemaskan ini tidak dapat disangkal, tetapi berang-berang juga rentan terhadap penyakit, sama seperti kucing dan anjing.”

Laporan ini mendesak pemerintah di Asia Tenggara untuk mengadopsi undang-undang yang melindungi empat spesies berang-berang Asia dari eksploitasi dan menghukum kejahatan satwa liar secara online. Juga, merekomendasikan pemerintah untuk bekerja sama dengan LSM konservasi guna mendidik masyarakat luas tentang ancaman kelangsungan hidup berang-berang serta mengurangi permintaan berang-berang untuk dijadikan hewan peliharaan. [] MONGABAY.CO.ID

Diberdayakan oleh Blogger.