TKI di Arab Saudi Batal Dihukum Mati Berkat Diplomasi Bebek Goreng dan Wisata Indonesia

Lentera24.com | JAKARATA -- “Tiga hari lalu kami dampingi beliau yakni Ghalib Nashir Albalawi dan keluarga mengunjungi Masamah binti Raswa Sanusi di Cirebon dan sengaja menaiki kereta untuk menunjukkan indahnya pemandangan Indonesia.

Foto : Serambi
Beliau juga senang masakan Indonesia terutama bebek goreng dan kami ajak ke Taman Safari, beliau juga menikmatinya.”

Hal itu disampaikan oleh Kasubdit Kawasan 2 Direktorat Perlindungan Warga Negara Indonesia (PWNI) Arief Hidayat saat menemani Ghalib warga negara Arab Saudi.

Ghalib merupakan majikan dari Masamah, yaitu TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang bekerja kepada Ghalib namun kemudian didakwa telah membunuh anak Ghalib yang berusia 11 bulan.

Namun pada akhirnya Ghalib memaafkan Masamah yang sudah divonis pengadilan dengan qisas (perbuatan dibalas dengan perbuatan) sehingga Masamah akhirnya batal dihukum mati.

Sehingga sebagai apresiasi, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia serta PWNI mengapresiasi dengan mengajak berkeliling Indonesia.

“Kami ajak ke Cirebon menemui langsung Masamah didampingi oleh Plt Bupati Cirebon. Kami sampaikan bahwa hubungan kedua negara saling menghormati aturan dan hukum yang berlaku di negara masing-masing, banyak pertemuan yang dilakukan kedua negara,” imbuh Arief Hidayat.

Ghalib sendiri menyampaikan kepada awak media di Kedutaan Besar Kerajaan Arab Saudi di Jakarta Selatan, Senin (7/5/2018) mengenai alasan kenapa dirinya memaafkan Masamah.

“Tujuan hidup kita adalah mencari ridho Allah SWT sehingga saya memaafkan Masamah. Saya amat terkesan dengan geografi dan masyarakat Indonesia yang ramah, saya merasa seperti di negeri sendiri,” ungkapnya dengan dibantu penerjemah.

Sementara Dubes Arab Saudi Osamah Mohammed Abdullah Shuibi mengapresiasi Ghalib dan pihak pemerintah Indonesia sebagai bentuk penghormatan atas tegaknya hukum di masing-masing negara.

Ia mengatakan peristiwa tersebut merupakan bukti persaudaraan dan persahabatan antara kedua negara juga tidak hanya terjadi di tingkat pemerintahan tapi juga di antara masyarakatnya.

“Tindakan memaafkan harus diapresiasi sebagai bentuk usaha untuk tidak larut dalam kesedihan dan menatap masa depan yang lebih baik, pasti sulit bagi keluarga untuk memaafkan tapi nyatanya berhasil dan tidak ada balasan yang pantas selain ridho dari Allah SWT.”

“Kita juga perlu apresiasi Kemenlu dan KJRI Jeddah yang telah mengajak keluarga korban untuk berwisata di Indonesia mulai dari Bandung sampai kawasan Puncak sebagai upaya untuk menhapus kesedihan. Ini lah bentuk persaudaraan antara kedua negara,” tegasnya

Agar peristiwa yang sama tak terulang lagi Osamah menjelaskan bahwa seharusnya pemerintah Indonesia ikut memberikan sosialisasi peraturan dan hukum yang berlaku di Arab Saudi kepada WNI.

“Karena hukuman mati tak hanya dilaksanakan di Arab Saudi tapi di Amerika Serikat bahkan Indonesia. Vonis qisas melalui berbagai tahapan, tak hanya meminta pertimbangan dari pemerintah tapi juga keluarga.”

“Untuk meminimalisir kejadian yang tidak diinginkan di kemudian hari pemerintah Indonesia baiknya melakukan sosialisasi dan pembelajaran terhadap aturan dan hukum yang berlaku kepada WNI yang akan masuk Arab Saudi. Baik untuk bekerja maupun sebagai jamaah umroh,” kata Osamah.

Osamah menjelaskan sejatinya pemerintah Arab Saudi sudah berusaha mendekati pihak keluarga yang meminta dilakukan vonis qisas agar tidak jadi menuntut vonis tersebut kepada WNI yang melanggar hukum.

Ia sendiri menyatakan keheranannya atas banyaknya kegiatan demonstrasi di depan Kedubes Arab Saudi usai pemerintah Arab Saudi melakukan eksekusi mati terhadap Zaini Misrin yaitu TKI yang didakwa membunuh majikannya.

Misrin sendiri akhirnya tetap dieksekusi mati karena pemerintah sudah berupaya berkomunikasi kepada keluarga korban namun keluarga korban tidak memaafkan.

“Pemerintah Arab Saudi pasti berkomunikasi dengan keluarga namun keluarga korban tak memberi maaf dan pemerintah Arab Saudi tak bisa melakukan intervensi karena itu hak keluarga,” pungkas Osamah. [] SERAMBI




Diberdayakan oleh Blogger.