Selain Rusia, Telegram Juga 'Diberantas' di Negara Ini

Lentera24.com | JAKARTA -- Sejumlah negara ternyata juga menunjukkan sikap yang serupa dengan Rusia dalam memblokir Telegram.

Foto : Detik.com
Rusia ternyata bukan satu-satunya negara yang baru-baru ini memutuskan untuk memblokir Telegram. Prancis dan Iran turut melakukan hal yang sama bagi penyedia layanan berbagi pesan besutan Pavel Durov tersebut.

Pemerintah Prancis mengumumkan bahwa mereka tengah membuat sebuah layanan berbagi pesan terenkripsi sendiri untuk meminimalisir kemungkinan entitas asing yang dapat memata-matai perbincangan antara pejabat-pejabat penting.

Hal tersebut dilakukan mengingat sejumlah aplikasi berbagi pesan terenkripsi seperti WhatsApp dan Telegram, yang sejatinya merupakan disukai oleh Presiden Emmanuel Macron, tidak berbasis di Prancis. Kenyataan itu membuat risiko pencurian data menjadi lebih tinggi karena server yang digunakan berada di luar negeri.

"Kami perlu mencari cara untuk memiliki layanan berbagi pesan terenkripsi yang tidak dimiliki oleh Amerika Serikat dan Rusia. Kami mulai memikirkan tentang potensi pencurian data yang dapat terjadi seperti yang kami lihat pada Facebook, jadi kami harus mengambil langkah lebih dahulu," ujar juru bicara Kementerian Digital Prancis, seperti detikINET kutip dari Reuters, Kamis (19/4/2018).

Kasus pada Facebook yang dimaksud adalah pencurian data milik 87 pengguna jejaring sosial tersebut oleh Cambridge Analytica. Jutaan informasi user tersebut pun dimanfaatkan untuk kegiatan pemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden Amerika Serikat 2016 lalu.

Pihak Kementerian Digital Prancis menolak untuk memberi tahu nama dari aplikasi yang dikembangan menggunakan kode gratis di internet tersebut. Meski begitu, sang jubir mengungkapkan bahwa aplikasi tersebut dijadwalkan untuk siap digunakan pada pertengahan tahun ini.

Selain Prancis, pemerintah Iran juga mengumumkan bahwa pihaknya sudah siap untuk memblokir aplikasi Telegram. Alasan dan tindakan selanjutnya pun serupa, yaitu demi keamanan nasional dengan disiapkannya pengganti lewat aplikasi milik Iran sendiri.

Alaeddin Boroujerdi, Chairman Parliament National Security and Foreign Policy Commission Iran, mengungkapkan bahwa aplikasi yang akan menjadi pengganti Telegram akan dirilis pada bulan ini. [] DETIK.COM
Diberdayakan oleh Blogger.