Peneliti Kembangkan Alat yang Bisa Mengatur Mimpi Saat Tidur

Lentera24.com | MASSACHUSETTS -- Para peneliti tengah mengembangkan perangkat yang berguna sebagai perangkat antarmuka ke pengantar tidur yang memungkinkan orang untuk mengontrol konten mimpi mereka. Sebuah tim dari MIT (Massachusetts Institute of Technology) menciptakan perangkat Dormio untuk mengeksplorasi cara-cara demi meningkatkan kreativitas seseorang melalui pemanfaatan tahap tidur Hypnagogia semi-lucid.

Foto : Republika.co.id
Sistem Dormio bekerja dengan menggunakan alat yang dikenakan tangan untuk melacak keadaan transisi ini melalui biosignals, seperti denyut jantung dan tonus otot. Pemakainya akan meninggalkan Hypnagogia dan bertransisi ke tidur nyenyak, sementara robot di samping tempat tidur memicu dengan mengeluarkan suara untuk mendorong mereka kembali ke kondisi mimpi.

Jika suara yang digunakan untuk membangunkan orang itu adalah sebuah kata, para peneliti menemukan bahwa suara itu dapat memasuki mimpi pemakai Dormio. Misalnya, jika robot mengatakan 'garpu' atau 'kelinci', mimpi itu akan menggabungkan objek-objek ini.

Periode Hypnagogia ditandai oleh persepsi ruang dan waktu yang terdistorsi, serta hilangnya perasaan diri seseorang yang mendorong penciptaan ide-ide spontan. Ide mendorong pemikiran kreatif melalui pikiran yang memisahkan kesadaran dan ketidaksadaran adalah konsep yang sebelumnya dieksplorasi oleh seniman Salvador Dali dan penemunya Thomas Edison.

Baik Dali dan Edison akan mengakses Hypnagogia dengan tertidur dengan bola baja di tangan mereka, yang akan jatuh ke lantai saat mereka dalam keadaan tidur. Mereka kemudian akan dapat menangkap ide dan pemikiran yang dihasilkan melalui mimpi mereka.

Teknik ini dijelaskan oleh para peneliti sebagai 'inspirasi yang terbatas', karena tidak menawarkan kemampuan tambahan dari sistem baru yang memungkinkan orang untuk mengeksplorasi keadaan tidur ini lebih teliti, baik dengan memperpanjang atau mengendalikannya.

''Ilmu saraf yang bagus, bagi saya, adalah pemeriksaan diri yang efektif. Teknologi yang baik dalam pelayanan membuat ilmu syaraf yang relevan di luar laboratorium, kemudian, harus memfasilitasi pemeriksaan diri,'' kata asisten peneliti Adam Horowitz, yang memimpin penelitian, dikutip dari Independent, Selasa (24/4).

Ia menambahkan, ujung proyek ini praktis dan filosofis. Dirinya tidak ragu bahwa Hypnagogia memiliki aplikasi untuk menambah memori, pembelajaran, dan kreativitas. Namun juga, setelah menjelajahi negara itu sendiri.

''Saya menemukan itu menjadi semacam penglihatan-diri yang sangat berharga dan inspiratif yang tidak dapat diakses oleh saya sebelumnya,'' ujar Adam. [] REPUBLIKA.CO.ID
Diberdayakan oleh Blogger.