Pecat Oknum BNN yang Berbisnis Narkoba!

Lentera24.com | LANGSA -- Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin lagi-lagi menempatkan berita tentang n@rkoba jenis shabu-shabu di halaman muka. Bahkan di posisi headline (berita utama).

Foto : Tribunnews.com
Kali ini judulnya mengagetkan, yakni Dua Oknum BNN Berbisnis Shabu. Adalah Tim Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Polda Aceh bersama Polres Aceh Utara dan Polres Langsa yang berhasil mengungkap dan menangkap dua oknum polisi yang bertugas di Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Langsa karena diduga memiliki n@rkoba jenis shabu-shabu.

Keduanya adalah Brigadir AR dan Bripka YU yang dibekuk petugas Provos Polres Langsa, Kamis (19/4/2018) di rumah mereka masing-masing dan kini ditahan di Mapolres Langsa.

Keduanya ditangkap berkait dengan pengembangan kasus sabu-sabu yang melibatkan AR dan MU, keduanya berumur 34 tahun, warga Gampong Jawa, Kecamatan Langsa Kota. Penyidik mengorek keterangan dari mana mereka dapatkan shabu-shabu. Ternyata mereka peroleh dari Brigadir AR dan Bripka YU.

Kasus ini tentu saja mengagetkan semua kita, terutama yang sangat berharap agar Aceh segera bebas n@rkoba.

Fakta yang baru terungkap ini sungguh membuat kita kehabisan kata-kata (speechless). Juga semakin membuat kita pesimis terhadap keberhasilan perang melawan n@rkoba di Aceh. Soalnya, yang terlibat sebagai pengedar sabu adalah aparat keamanan yang seharusnya aktif memberantas. Kalau ditamsilkan ini bukan saja ibarat pagar makan tanaman, tapi bahkan ibarat musang berbulu ayam. Kondisi ini sangat mencemaskan dan memudarkan kepercayaan publik terhadap aparat keamanan, khususnya kepada BNN karena di dalamnya ada musang berbulu ayam, kibus, bahkan pengkhianat terhadap mandat BNN sebagai lembaga yang dibentuk negara untuk memberantas n@rkoba.

Kejahatan seperti ini tidak boleh dianggap biasa, apalagi dianggap enteng. Atasan dari dua oknum polisi tersebut di Polres Langsa maupun atasannya di BNN Kota Langsa harus segera bertindak untuk memproses kasus ini. Arah dari pengusutan kasus yang tak biasa ini adalah untuk menghukum kedua oknum tersebut seberat-beratnya di samping dijatuhi sanksi pemecatan dari dinas kepolisian.

Apa boleh buat, itulah sanksi yang paling pantas dijatuhkan kepada penegak hukum yang melakukan kejahatan luar biasa. Kita semua tahu bahwa n@rkoba, seperti halnya terorisme dan korupsi digolongkan sebagai kejahatan luar biasa (ordinary crime). Maka sangatlah wajar jika kepada pelaku kejahatan luar biasa dijatuhi hukuman yang luar biasa pula supaya menimbulkan efek jera.

Para n@rkobais di bumi syariat, Aceh, tak boleh lagi dikasih hati. Basmi dan basmi! Hukum mereka dengan hukuman yang bukan saja menimbulkan efek jera yang dahsyat, tapi juga dengan hukuman yang dapat menimbulkan penyesalan seumur hidupnya. [] TRIBUNNEWS.COM



Diberdayakan oleh Blogger.