Setahun Aceh Tamiang di Bawah Kepemimpinan Bapak Hamdan Sati

Foto : Kantor Bupati
Oleh : SYAHZEVIANDA

Tanggal 28 Desember 2012, tepatnya hari jum'at kala itu, kami kedatangan sosok putra kelahiran Tamiang, Bapak H. Hamdan Sati, ST bersama Bapak Drs. Iskandar Zulkarnain, MAP dilantik sebagai BUPATI dan WAKIL BUPATI ACEH TAMIANG priode 2012-2017.

Yang oleh kami masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang menganggap mereka lah yang pemimpin kami untuk 5 (lima) tahun kedepan.

Tepat setahun sudah masa kepemimpinan Bapak Hamdan Sati menjadi orang nomor satu di Kabupaten yang berjuluk Bumi Muda Sedia ini.

Dalam kurun waktu kepemimpinan yang baru menginjak angka 1 tahun ini, kami sebagai masyarakat awam yang kurang mengerti birokrasi ini, merasa beliau adalah sosok yang kami anggap mampu memimpin Kabupaten Aceh Tamiang.

Euforia dan apresiasi kami ketika itu sangat menyambut baik akan keberadaannya bersama wakilnya. Betapa tidak, kompetisi PILKADA Kabupaten Aceh Tamiang yang menegangkan, alhasil dimenangkan oleh Putra Tamiang pada putaran kedua.

Sangat besar Harapan ketika itu, karena merekalah yang dianggap sudah banyak menguasai sedikit banyaknya tentang Kabupaten yang baru berusia 11 tahun ini dan dirasa sudah cukup mumpuni.

Beliau juga merupakan salah seorang pelopor pemekaran Kabupaten Aceh Tamiang pada masa persiapan Kabupaten ini akan terpisah dari Kabupaten Otonomnya yakni Kabupaten Aceh Timur.

Secara emosional beliau merupakan seorang yang sangat menyatu hatinya dengan Tamiang, mengingat jasa-jasa beliau ketika sebelum menjabat sebagai Bupati dan juga banyak berkiprah di Kabupaten Aceh Tamiang.

Dengan beberapa Visi dan Misi yang ditawarkan juga terdengar sangat merdu di telinga masyarakat dan memiliki daya tarik tersendiri oleh masyarakat yang berlatarbelakang kultur budaya melayu ini untuk dijadikan sebagai sosok pemimpin, mungkin itulah salah satu mengapa masyarakat Tamiang berkeinginan kompetisi ini dimenangkan oleh pasangan yang bernomor urut 10 ketika itu.

Alhamdulillah, do'a- do'a itu terkabul dan itu adalah merupakan pilihan dari Masyarakat Aceh Tamiang sendiri, itulah pilihannya dan harus puas dengan Demokrasi yg sedang berlangsung.

Toh, yang milih juga kita, ya untuk kita juga nantinya, tetapi harus puas dengan segala konsekwensi yang ada.

Dalam waktu setahun, biasanya dilihat dari sisi manapun, diwaktu yang relatif singkat itu tidak mudah bagi seorang pemimpin langsung membuat perubahan yang berarti, itu butuh waktu dan kerja keras untuk dilakukan perubahan yang signifikan.

Tetapi minimal oleh masyarakat itu sendiri tau apa yang sebenarnya mereka kehendaki dari terobosan-terobosan yang akan dan segera lakukan oleh sang Pemimpinnya, tak lain dan tak bukan pasti menyangkut tentang taraf hidup menuju kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat itu sendiri.

Kemajemukan masyarakat untuk menyatukan keinginan mereka dalam hal memenuhi kebutuhan kehidupannya hampirlah sama antara satu dengan yang lainnya.

Jika ditanya, siapa sih orang yang ingin hidup dalam kemelaratan? Tentu tidak seorang pun yang menjawab ingin, tidak munafik semua kita yakni menginginan hidup dalam kategori berkecukupan, tak dipungkiri oleh kita tentunya.

Itu semua bergantung dengan prilaku hidup kita yang ingin mengubah nasib diri kita pribadi, faktor utama yang harus diingat adalah, nasib kita bukan semata-mata pada pemimpin kita, tapi diri pribadi kita lah yang mengarahkan kemana langkah kita akan menuju.

Bercerita tentang keberhasilan sebuah kepemimpinan tidak hanya bercerita sejauh pembangunan yang dilakukan, juga tidak hanya bercerita tentang penurunan angka persentasi kemiskinan, tetapi lebih kepada ditingkat mana kepuasan masyarakat terhadap pelayanan yang sudah diberikan, walaupun terdapat perbedaan persepsi masyarakat dalam sebuah penilaian tertentu, dan itu merupakan hal yang wajar saja dalam sebuah paradigma berpikir, tinggal lagi bagaimana para pemimpin menyikapi hal tersebut untuk dituangkan kedalam sebuah kesimpulan yang mungkin dapat dijadikan agenda menuju kesuksesan dalam sebuah program.

Pada dasarnya, secara garis besar, tingkat kepuasan masyarakat itu tidak hanya selalu harus ditunjukkan dengan hasil-hasil survey semata, tapi itu semua termakhtub dalam sebuah unek-unek/suara hati yang secara sadar atau tidak sadar, secara langsung atau tidak langsung akan tergambar dikehidupan masyarakat yang lama-kelamaan akan menjadi sebuah topik pembicaraan di masyarakat itu sendiri.

Lumrah saja, yang dibahas oleh masyarakat juga tentu terkait nada-nada kekecewaan mereka pada pemimpinnya. Yah, memang begitulah resiko jabatan, Presiden sendiri pun harus siap dengan cercaan-cercaan.

Tidak juga disalahkan masyarakat yang hanya bisa memprotes, karena dari mereka masih ada yang kelaparan, mereka menyuarakan itu juga dengan tujuan perut mereka terisi untuk hari itu juga, masyarakat juga sudah letih dengan berbagai tingkah para pembesar- pembesarnya yang asyik dengan memikirkan hal-hal pribadinya.

Lalu hal apa yang dapat digarisbawahi dalam konteks menyikapi hasil kerangka kinerja sebuah kepemimpinan beserta jajarannya. Dan siapa yang akan menjawab, berada di kisaran angka berapa tingkat kepuasan itu? jika dijadikan sebagai indikator sebuah kepemimpinan tersebut dikatakan mencapai predikat keberhasilan yang gemilang.

Bukan maksud hati ingin mengkoreksi, mencari kelemahan, membongkar sebuah keburukan, mengkritisi terhadap sebuah kinerja, hari ini kita kesampingkan cerita untuk itu, tetapi hari ini mari kita lebih kepada membuka alur pikir yang pragmatis untuk mencari cara dan menanggapi sebuah permasalahan yang belum tuntas, untuk kemudian dijadikan bahan pertimbangan dalam usaha-usaha melakukan perubahan kearah yang lebih cemerlang, mencari solusi dan mengambil langkah-langkah konkrit demi Kabupaten Aceh Tamiang kedepan agar lebih berjaya dan disadari bahwa itu merupakan tugas berat, tak semudah yang dibayangkan untuk memimpin Tamiang. Berbagai problematika di Kabupaten Aceh Tamiang saat ini memang sekilas mata memandang belum terlihat terlalu runyam agaknya, tetapi tidak dipungkiri jika permasalahan-permasalahan tersebut akan menjadi semakin kompleks jika dipandang sebelah mata.

Terus terang ini bukanlah merupakan tanggung jawab pemimpin Kabupaten Aceh Tamiang, para Anggota DPRK, para pejabat, tokoh masyarakat dan elemen-elemen lainnya semata, ini adalah tanggung jawab moril kita bersama untuk menghadapi tantangan kedepan.

Bersama kita menyumbangkan pikiran untuk bangkit kembali membangun Tamiang yang telah diwariskan oleh Raja-Raja kita terdahulu kepada kita untuk terus diperjuangkan eksistensinya.

Semoga di usia setahun Bapak Hamdan Sati dan Bapak Iskandar Zulkarnain memimpin, Aceh Tamiang kedepan semakin menuju perubahan kearah yang lebih maju, 4 tahun lagi beban itu ada dipundak Bapak.

Harapan kami masyarakat, dalam rentang waktu 4 tahun tersebut pula, Kami yakin Bapak mampu berbuat untuk lebih baik lagi untuk Tamiang, baik kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat yang paling urgensi, pendidikan, politik, pembangunan infrastruktur yang memang benar-benar menjadi kebutuhan vital masyarakat Tamiang, pelayanan birokrasi pemerintahan yang prima, stabilitas perputaran roda perekonomian masyarakat, ekonomi yang pro-rakyat menengah kebawah, dan hal yang utama tetap terjaganya kondusifitas keamanan yang merupakan kunci utama masyarakat dalam pemenuhan kehidupan dan sebagainya, Karena Aceh Tamiang memiliki segudang potensi sangat memadai, baik potensi Sumber Daya Alam maupun Sumber Daya Manusia yang tak kalah dengan Kabupaten/ Kota lainnya di Aceh.

Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Samudra Langsa
Diberdayakan oleh Blogger.